Sampul BAB 3 — Perjalanan Laut ke Palembang: lima penjaga di kapal di bawah langit berbintang

BAB3 : PERJALANAN LAUT KE PALEMBANG

BAB3/1

Laut yang Tidak Punya Arah

Kapal dagang meninggalkan Sunda Kelapa menuju Palembang saat matahari condong ke barat

Kapal dagang itu meninggalkan Sunda Kelapa ketika matahari mulai condong ke barat.

Rute yang ditempuh adalah Batavia menuju Palembang1 — melewati Selat Bangka2, lalu menyusuri muara Sungai Musi. Perjalanan memerlukan beberapa hari, bergantung pada angin, arus, dan tempat singgah. Nakhoda kapal itu orang Jawa, dan empat dari enam awaknya berasal dari Madura3Catatan ↗ — para awak itu terbiasa membaca arus Laut Jawa4. Ketika kelima orang itu naik ke kapal yang memuat rempah dan kain, sang nakhoda tidak bertanya apa-apa. Di pelabuhan Batavia, setiap orang punya alasannya sendiri untuk naik kapal — dan menanyakan alasan itu bukan urusan nakhoda.

Saat kapal perlahan meninggalkan pelabuhan, bau amis Pasar Ikan bercampur asap bara kelapa menyeruak sampai ke sisi kapal. Intan mengembang-kempiskan hidungnya — bau laut masih terasa asing baginya. Di hulu Sungai Kapuas5 Kalimantan, ia bisa membaca arus bahkan dengan mata tertutup. Tapi laut terlalu lebar, dan tidak punya arah.

“Bau laut beda sama sungai,” kata Intan dari haluan kapal. “Kalau sungai, kita bisa tahu dari mana datangnya, dari baunya. Laut tidak bisa.”

“Nanti terbiasa,” ujar Surya sambil berhasil mendapat ikan asin dari seorang awak. “Saya pun dulu waktu pertama naik kapal, pusing. Sekarang malah lebih enak tidur di kapal — diayun-ayun laut.”

“Bhante sering naik kapal?” tanya Hasan.

“Tidak. Gunung Semeru itu ada di pedalaman. Tidak ada laut di sana. Waktu pertama naik kapal, saya kagum — ternyata ada sesuatu seluas ini,” kata Surya sambil mengunyah ikan asin.

“Sungai lebih enak,” kata Intan memandang cakrawala. “Dari sisi kapal masih kelihatan daratan seberang, jadi tahu arahnya.”

“Laut, pakai bintang untuk menentukan arah,” ujar Surya sambil mendongak. “Para pelaut Madura itu, mereka baca rasi bintang. Bintang adalah peta mereka.”

“Bagaimana cara membacanya?” tanya Hasan.

“Hahaha — ya ditanya saja. Saya juga baru kepikiran tadi,” kata Surya sambil tertawa.

Intan melirik Surya. Hampir protes, tapi sudah tidak jadi dan kembali menatap ke depan.

Hasan berdiri di sisi kapal, lama menatap pelabuhan yang perlahan mengecil. Jari-jarinya memutar tasbih — arahnya menghadap Banten.

“Berapa lama ke Sumatra?” tanya Intan kepada Surya.

“Beberapa hari. Kalau angin dan arus menghambat, bisa lebih lama.”

“Berhari-hari di atas kapal mau ngapain saja?” tanya Intan.

“Bisa makan berkali-kali. Makan, tidur, lihat laut,” kata Surya.

“Itu saja?”

“Waktu bisa berlalu lebih cepat dari yang kamu kira,” kata Surya.

Arya bersandar di pagar tengah kapal, tangan diletakkan di atas Nagaraja. Cara ia menatap laut — seperti seseorang yang masih mengunyah sesuatu yang sudah lama dipikirkan.

“Pertama kali di laut?” tanya Dewi sambil duduk di sebelah Arya.

“Tidak. Pernah sampai Banten,” jawab Arya singkat.

“Kali ini harus lebih jauh,” kata Dewi menatap cakrawala ke arah Sumatra. Ia mendekap Kipas Sakti di dada, mulai membaca niskala lautan — Laut Jawa terlalu lebar. Yang ada di dasar laut ini bukan kegelapan baru, tapi sesuatu yang sudah sangat lama terpendam di sana.

“Terbaca sesuatu?” tanya Arya.

“Masih jauh. Nanti kalau sudah dekat, akan terasa,” jawab Dewi.

“Tidak pusing?” tanya Arya pelan sambil menatap riak-riak ombak di bawah. “Membaca itu?”

“Pusing, awalnya,” kata Dewi, memandang Arya. Belum ada yang pernah menanyakan itu duluan. “Kalau baca lewat niskala, sekala dan niskala jadi tumpang-tindih — sebentar bingung mana yang nyata.”

“Sekarang masih?”

“Sekarang tidak. Sudah terbiasa. Makasih ya, mau nanya,” kata Dewi.

Arya menatap Dewi. Lalu tanpa berkata apa-apa, kembali memandang laut. Ketika Dewi membuka matanya lagi, Arya sudah menatap ke arah lain.

Hasan sendirian.

Ia bersandar di pagar sisi buritan, mengamati pelabuhan Batavia yang kian mengecil. Semakin jauh kapal dari pelabuhan, Laut Jawa semakin membentang luas — cakrawala yang memanjang di hadapannya, tempat langit bertemu laut. Tasbih di tangannya berputar pelan dan teratur, bukan untuk berdoa — hanya berputar begitu saja. Kebiasaannya kalau sedang tenggelam dalam pikiran.

Tasbih itu milik ayahnya. Milik Muhammad Yahya6.

Ditemukan di atas perahu kecil terbalik di Selat Banten, lalu dibawa seorang nelayan dan diserahkan kepada Hasan. Sejak hari ia menerimanya, tidak pernah sekali pun ia melepaskannya. Hasan tidak membenci ayahnya. Tidak juga menyalahkan. Hanya rindu. Dan kadang-kadang, terlintas pikiran bahwa mungkin masih ada sesuatu dari ayahnya yang tertinggal di suatu tempat di laut itu. Ketika Dewi berbicara tentang arwah yang tak bisa pergi dari gudang Batavia, pikiran itu pelan-pelan muncul ke permukaan — tapi tidak pernah ia ucapkan.

Surya berjalan mendekati Hasan dengan dua potong ikan asin di tangan. Ia berdiri di sebelah Hasan yang sedang menatap laut, lalu mengulurkan sepotong. Hasan menoleh dan menerimanya. Keduanya berdiri berdampingan, diam sejenak menatap laut bersama.

“Tadi memandang ke arah Banten?” tanya Surya sambil mengunyah ikan.

“Ya,” kata Hasan.

“Saya juga merasakannya. Laut ke arah Banten terasa berat. Kalau dibaca dari sisi niskala, ada sesuatu yang tertahan di sana,” kata Surya.

Hasan menatap Surya.

“Kalau tidak mau cerita, tidak apa-apa. Tapi menyimpan sendiri itu paling berat,” kata Surya.

“Ayah saya tidak pernah kembali dari laut Banten,” kata Hasan pelan, masih menatap laut sambil memutar tasbih. “Teman dekat beliau menghilang dekat segel — ayah tergesa-gesa pergi menyusul. Belum sempat bersiap dengan benar.”

Surya memandang Hasan. Tidak berkata apa-apa.

“Yang Dewi bilang di gudang itu terus terngiang — katanya ada arwah yang tidak bisa pergi, terjebak karena segel. Saya tidak bisa tidak memikirkan — mungkin di laut itu juga ada yang sama,” kata Hasan.

“Bisa jadi ada. Makanya kita pergi ini — untuk mencabut segel-segel itu. Kalau sudah tercabut, yang terjebak bisa pergi. Termasuk yang ada di laut sana,” kata Surya sambil menghabiskan ikannya dan menepuk tangan.

Hasan lama menatap Surya. Wajah biksu setengah baya dengan perut yang buncit — wajah yang seolah kosong. Tapi tidak kosong. Hasan sudah lama tahu cara membaca orang.

“Terima kasih, Bhante,” kata Hasan. Lalu kembali memutar tasbih.

“Nuwun sewu — masih ada ikan asin tidak ya. Enak sekali ikan asin dimakan di laut, angin laut yang kasih rasanya,” kata Surya sambil berdiri dan melangkah pergi.

Para penjaga berada di kapal dagang di Laut Jawa pada malam hari

Dewi yang bergerak duluan.

Saat itulah kapal mengambil jalur memutar ke perairan Teluk Banten, sebelum berbelok ke utara menyeberangi Laut Jawa menuju Selat Bangka. Dewi tidak berkata apa-apa. Ia hanya melangkah dua-tiga tindak ke pagar kapal dan menatap laut di bawah. Tangan yang menggenggam Kipas Sakti sedikit menegang — lalu mengendur.

“Ada sesuatu?” tanya Surya sambil membuka satu mata.

“Ada segel. Di bawah laut sana,” kata Dewi, suaranya rendah dan tenang.

Intan bangkit berdiri dari sisi kapal dan menatap ke arah Dewi. Tangan Arya yang tadinya beristirahat di atas gagang keris berhenti bergerak.

Hasan berdiri di dekat pagar buritan. Pasti sudah mendengar kata-kata Dewi. Tapi tidak ada reaksi apa pun. Hanya jari-jarinya yang terus memindahkan manik tasbih satu per satu — pelan, sangat pelan.

“Kapalnya bisa lewat?” tanya Surya dari posisinya tanpa bangkit.

“Bisa.”

“Kalau begitu tidak apa-apa. Kita sedang di tengah laut dan banyak mata yang melihat — kapal tidak bisa kita hentikan. Nanti waktu pulang dari Sumatra, kita lihat lagi,” kata Surya.

Kapal terus bergerak. Dewi menarik tangannya dari pagar dan berbalik.

Hasan terus menatap laut hingga akhir. Tidak ada yang menyapanya — sampai Intan melangkah mendekat dan berdiri di sebelahnya.

“Baik-baik saja?” tanya Intan.

“Ya,” kata Hasan sambil memutar tasbih.

“Yang ada di dasar laut itu — ada hubungannya sama ayahmu?” tanya Intan langsung. Suaranya lugas, tapi tidak ada maksud buruk di dalamnya.

“Dari mana kamu tahu?” Hasan menoleh memandang Intan.

“Kamu terus memandang ke sana,” kata Intan.

“Mungkin. Pikiran itu ada,” kata Hasan.

“Kalau begitu waktu pulang, kita ke sana bersama. Jangan dilewatkan begitu saja,” kata Intan.

“Terima kasih,” kata Hasan, sekilas melirik Intan lalu kembali menatap ke depan.

Para penjaga di kapal saat Dewi membaca segel yang tersembunyi di bawah Laut Jawa

Beberapa hari berlalu di laut. Menjelang perairan Bangka, malam kembali tiba.

Setelah matahari terbenam, laut berubah rupa. Laut Jawa yang tadi biru kini menghitam, dan bintang-bintang bermunculan. Laut di antara pulau-pulau ini jauh dari cahaya daratan, sehingga bintang memenuhi langit sampai ke balik cakrawala. Pantulan bintang di permukaan laut membuat batas antara langit dan laut seolah lenyap.

Para awak kapal menyalakan api kecil di sudut geladak dan mulai memasak nasi. Begitu aroma ikan bakar di atas bara mulai mengisi geladak, Surya adalah yang pertama menghampiri.

Hasan datang setelah menyelesaikan salat Isya7. Kelima orang itu berkumpul mengelilingi api — mereka kembali duduk bersisian untuk makan, seperti saat berkumpul di warung Batavia.

“Nama bintang itu apa?” tanya Surya mendekati seorang pelaut Madura sambil mendongak.

“Bintang Selatan,” jawab pelaut itu. “Itu arah selatan. Kami pakai itu untuk orientasi.”

“Jadi itu yang dipakai sampai Palembang?” kata Surya sambil menatap langit.

“Malam hari, bintang lebih akurat dari peta apa pun,” kata pelaut itu.

“Luar biasa. Selama ini saya kira peta yang paling akurat — ternyata bintang lebih dulu,” kata Surya.

Intan makan ikan langsung bersama tulang-tulangnya — tidak mau repot memisahkan daging. Arya dengan diam-diam memisahkan daging ikannya sendiri dan meletakkannya di depan Dewi. Ia menyadari bahwa sejak keluar dari alam niskala di gudang itu, Dewi kelelahan. Dewi melirik Arya — tapi Arya sudah menatap ke depan.

“Terima kasih,” kata Dewi pelan. Arya hanya mengangguk sekali, sangat singkat.

Surya melihat sekilas adegan itu, lalu melanjutkan makannya sendiri. Ada senyum di sudut bibirnya — tapi ia tidak berkata apa-apa.

“Selanjutnya ke mana?” tanya Intan setelah api mulai mengecil.

Semua menatap Surya.

“Setelah masuk Palembang, Dewi yang harus membaca dulu — di mana dan apa yang ada di sana. Tapi kemungkinan besar di kota itu sendiri. Sama seperti Batavia, di tempat-tempat yang sudah lama dikuasai VOC. Palembang itu bekas ibu kota Kerajaan Sriwijaya8 — sekarang VOC yang memonopoli ladanya. Tempat seperti itu tidak mungkin tidak ada segelnya,” kata Surya sambil mengunyah dan berpikir sejenak.

“Selain Palembang, mungkin ada lagi. Ke arah danau besar di utara — di Tanah Batak sana, ada tuah tanah yang sangat kuat, tapi terasa tertahan. Itu Sumatra bagian utara, berlawanan arah dari Palembang. Masuk dulu ke Palembang, lalu naik ke utara,” kata Surya.

“Jauh?” tanya Intan.

“Jauh,” jawab Surya jujur.

“Danau itu jauh di utara. Dari Palembang kita masih harus menentukan jalur berikutnya; lewat laut pun tetap ada perjalanan darat menuju danau. Kalau berjalan menembus pedalaman, bukan hitungan sepuluh hari — bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan,” tambah Surya.

“Berbulan-bulan?” Intan diam sejenak. Sedang menghitung.

“Perbekalan?” tanya Intan.

“Harus diisi di Palembang. Itu kota dagang sejak zaman Sriwijaya — tidak ada yang tidak bisa didapat di sana,” kata Surya.

“Alas kaki dan pakaian tebal juga perlu, kalau mau melewati pegunungan?” tanya Intan.

“Ya. Kalau melewati gunung tinggi, kaki yang pertama rusak. Dan di ketinggian, dinginnya beda,” kata Surya.

“Kalau mau ke Palembang, besok kita akan singgah sebentar di ujung Pulau Bangka — mengisi air dan perbekalan. Rencananya menyentuh pantai pagi-pagi, dan berangkat lagi sebelum matahari terbit,” kata seorang pelaut Madura dari sudutnya dengan tenang.

“Pulau Bangka?” Surya melirik pelaut itu.

“Belakangan ada kabar tidak beres dari kampung nelayan di sana,” kata pelaut itu, wajahnya mengeras sebentar.

“Tidak beres bagaimana?” Intan memandang pelaut itu, mata pejuangnya menyipit tajam.

“Ternak orang-orang di sana mati terus. Bangun pagi, ayam dan kambing sudah tergeletak — kalau dibedah, isi perutnya hilang. Sudah beberapa hari. Katanya ada satu orang yang juga pingsan,” kata pelaut itu sambil mengalihkan pandang ke kejauhan di luar lingkaran api.

“Orang Bangka ada yang tidak sembarang disebut-sebut — namanya Mencadin9. Konon orang yang banyak berbuat jahat semasa hidup, setelah mati ditolak oleh bumi, lalu bergentayangan,” kata pelaut itu sambil menghela napas.

“Mencadin bisa apakan orang?” tanya Intan.

“Kalau didekati, bisa membutakan. Makanya orang Bangka tidak keluar sendirian waktu subuh,” kata pelaut itu.

“Ada baunya?” tanya Intan kepada Dewi.

“Manis tapi pekat — seperti bunga yang sudah membusuk. Kalau tercium, langsung tahu,” jawab Dewi.

Intan mengangguk. Di rimba Kalimantan pun ia pernah mencium bau seperti itu. Tubuhnya sudah tahu duluan — jangan didekati.

“Wujudnya besar?” tanya Surya kepada Dewi.

“Semakin lama ia tinggal, semakin besar. Kalau kita tiba nanti, saya akan baca dulu,” kata Dewi.

Keheningan sebentar menyelimuti geladak. Angin laut menepuk-nepuk layar kapal.

“Arya, Nagaraja bisa membaca niskala?” tanya Surya kepada Arya.

“Belum tahu apakah bisa membaca niskala. Di Batavia sudah bergetar dan bersinar, tapi saya belum memahami semua reaksinya,” kata Arya.

“Kalau kita sampai di Pulau Bangka, mungkin akan bereaksi. Keris tua sering terbangun di tempat-tempat seperti itu,” kata Surya.

“Terbangun maksudnya apa?” Arya menatap Surya.

“Bisa memanas, bergetar, atau memancarkan cahaya. Reaksinya berbeda-beda. Kamu tahu Nagaraja berasal dari mana?”

“Warisan kakek saya. Katanya berasal dari lingkungan keraton Mataram,” kata Arya.

“Keris keraton — pasti ada sesuatu yang bereaksi,” kata Surya begitu saja.

“Orang-orang yang mati di kampung itu, kamu tahu mereka dikuburkan bagaimana?” tanya Hasan kepada pelaut itu.

“Katanya dikubur tanpa kain kafan yang benar. Kuburan itu sudah dua puluh tahunan,” kata pelaut itu.

“Saya pernah mendengar kisah seperti itu dari orang-orang kampung. Itu cerita rakyat, bukan bagian dari bacaan salat Isya atau ajaran tentang orang mati,” kata Hasan pelan sambil memutar tasbih.

“Jadi itu cerita orang kampung?” Intan memandang Hasan.

“Ya. Kisah itu jangan disamakan dengan ajaran Islam. Saya berdoa memohon pertolongan Allah; yang Dewi baca di niskala adalah hal lain,” kata Hasan.

“Kalau sudah menyentuh daratan, saya akan baca lewat niskala. Kalau memang Mencadin, cara paling aman adalah Hasan memanggilnya lewat doa dulu, lalu saya yang membuka jalannya,” kata Dewi.

“Memanggil itu maksudnya bagaimana?” tanya Intan dengan nada tidak mengerti.

“Menunjukkan arahnya. Doa menciptakan arah, lalu Dewi yang membuka pintunya,” kata Hasan pelan sambil memutar tasbih.

“Kamu belajar itu dari mana?” tanya Intan sejenak melirik Hasan. Penjelasan itu baru pertama kali ia dengar — dan Hasan sudah mengetahuinya.

“Dari Ayah,” kata Hasan.

“Jadi doa menunjukkan arah?” tanya Intan.

“Itu sama saja. Membaca arah, untuk kemudian menciptakan arah,” kata Hasan.

“Ayah pernah berkata — doa bukan suara. Doa adalah arah,” kata Hasan pelan, menambahkan sambil terus memutar tasbih.

“Arah,” ulang Intan sambil memegang gagang mandaunya — menggilir kata itu sekali lagi dalam mulut.

Api meredup, dan cahaya bintang semakin deras mencurah ke permukaan laut. Tak ada yang berbicara lagi, sampai Dewi menatap Surya dan bertanya.

“Bhante Surya, tidak takut? Dengan semua ini?”

“Takut. Tapi takut dan tetap pergi itu dua hal yang berbeda,” kata Surya dengan santai, lalu menoleh ke arah Intan.

“Waktu berburu hewan liar di Kalimantan, takut tidak?” tanya Surya.

“Takut.”

“Tapi tetap pergi?”

“Karena harus pergi.”

“Itu dia,” kata Surya.

Ekspresi Surya berubah sekejap. Bukan lagi ceria — melainkan ekspresi seseorang yang sedang mengingat sesuatu jauh di dalam. Tapi itu berlalu dalam sekejap, dan Surya kembali tersenyum seperti biasa.

“Arya?” tanya Dewi.

“Tidak tahu,” jawab Arya singkat.

“Tapi tetap datang?” tanya Surya menatap Arya.

“Karena datang bersama,” kata Arya.

“Intan, kenapa datang?” tanya Dewi.

“Kalimantan mungkin juga ada segelnya. Kalau ada segel di kampung halaman, itu alasan yang cukup untuk pergi,” kata Intan.

Surya mendengarkan percakapan itu. Tidak berkata apa-apa — hanya meneguk airnya. Hasan memutar tasbih sambil menatap langit.

CATATAN

1) Palembang

Kota pelabuhan di selatan Sumatra, terletak di sepanjang Sungai Musi. Palembang merupakan salah satu pusat penting Sriwijaya. Pada abad ke-17, penguasa Palembang berhadapan dengan kepentingan dagang dan tekanan militer VOC. Serangan VOC pada 1659 serta perjanjian pada 1662 memperlihatkan hubungan yang penuh konflik dan negosiasi; hal itu tidak berarti kekuasaan Kesultanan Palembang langsung digantikan oleh VOC.

↩ Kembali ke teks

2) Selat Bangka

Selat sempit antara pesisir timur Sumatra dan Pulau Bangka. Selat ini menghubungkan perairan Laut Jawa dengan jalur menuju muara Sungai Musi. Dalam perjalanan dari Batavia ke Palembang, kapal dapat melintasinya sebelum memasuki sungai. Jalur serta waktu pelayaran bergantung pada angin, arus, dan tempat singgah; nama Batavia sendiri baru digunakan sejak 1619, bukan pada masa Sriwijaya.

↩ Kembali ke teks

3) Madura

Pulau di timur laut Jawa. Madura memiliki tradisi pelayaran dan kehidupan pesisir. Susunan awak serta keahlian pelaut dalam adegan ini merupakan pilihan fiksi; bukan catatan mengenai jumlah atau kedudukan pelaut Madura di rute Batavia–Sumatra pada 1683.

Baca “Madura dan Para Pelautnya” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

4) Laut Jawa

Laut dangkal yang memisahkan Jawa dan Kalimantan. Urat nadi perdagangan laut dalam kepulauan ini — arah dan kecepatan perjalanan sangat bergantung pada angin musim (muson) yang bertiup berganti-ganti dua kali setahun.

↩ Kembali ke teks

5) Hulu Sungai Kapuas

Wilayah hulu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat. Dalam novel ini, Intan berasal dari komunitas Dayak Iban di wilayah tersebut. Kapuas berbeda dari Mahakam yang berada di Kalimantan Timur.

↩ Kembali ke teks

6) Muhammad Yahya

Ayah Hasan. Ulama sekaligus spiritualis asal Banten. Ketika sahabat nelayan bernama Ramin menghilang dekat segel VOC, ia berangkat tanpa persiapan matang untuk menjemputnya — dan terperangkap di dalam segel, wafat di sana. Tasbih yang ditemukan di atas perahu yang terbalik adalah satu-satunya peninggalannya.

↩ Kembali ke teks

7) Isya

Salat wajib kelima dalam sehari semalam bagi umat Islam. Dilaksanakan di malam hari, setelah Maghrib.

↩ Kembali ke teks

8) Sriwijaya

Kerajaan maritim bercorak Buddha yang berpusat di Palembang, berjaya dari abad ke-7 hingga abad ke-13. Sriwijaya berpengaruh dalam jaringan perdagangan laut Asia Tenggara. Besarnya pengaruh serta wilayah kendalinya berubah menurut masa; tidak semua kapal dan pelabuhan dapat dianggap selalu berada di bawah kontrol langsungnya. Palembang pada masa itu juga menjadi pusat pendidikan Buddha — biksu Yijing dari Dinasti Tang singgah di Sriwijaya pada 671 M untuk belajar sebelum pergi ke India, kemudian kembali untuk melanjutkan kegiatan keagamaannya. Catatannya menyebut lebih dari seribu bhikkhu di pusat Sriwijaya.

↩ Kembali ke teks

9) Mencadin

Nama makhluk gaib yang disebut para pelaut dalam cerita ini. Dalam BAB3, Mencadin digambarkan sebagai arwah yang tersesat dan dikaitkan dengan kejadian di sebuah kampung di Bangka. Penjelasan tentang wujud, kemampuan, dan cara menanganinya merupakan bagian dari dunia fiksi novel, bukan pernyataan tentang ajaran agama atau kepercayaan seluruh masyarakat Bangka.

↩ Kembali ke teks