Parigi Rante | Catatan Nusantara 02

CATATAN NUSANTARA / 02

PROLOG 2

TEMPAT & GEOGRAFI · SEJARAH

Parigi Rante

Catatan ini membantu pembaca memahami Parigi Rante, tempat yang menjadi pusat peristiwa dalam Prolog 02. Pembantaian masyarakat Banda pada 1621 memiliki dasar sejarah. Namun, penjelasan mengenai jumlah korban, lokasi persis eksekusi, dan hubungan sumur dengan jenazah tidak selalu sama dalam dokumen, monumen, tulisan modern, dan ingatan setempat.
Monumen Parigi Rante di Desa Nusantara, Banda Neira
Parigi Rante di Desa Nusantara, Banda Neira. Foto: Zhilal Darma, 2026, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons.

Apa itu Parigi Rante?

Parigi berarti sumur, sedangkan rante berarti rantai. Kini Parigi Rante dikenal sebagai monumen dan ruang ingatan di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Monumen ini menghubungkan lanskap Banda Neira masa kini dengan tragedi penaklukan VOC pada 1621.

Parigi Rante berada tidak jauh dari Benteng Nassau. Kedekatan inilah yang membuat sumur, benteng, dan tempat eksekusi para pemimpin Banda sering muncul dalam satu rangkaian cerita sejarah. Namun, kedekatan geografis tidak otomatis membuktikan bahwa setiap peristiwa berlangsung tepat di bibir sumur.

Bagian monumen dan sumur Parigi Rante di Banda Neira
Bagian lain kompleks Parigi Rante. Foto: Zhilal Darma, 2026, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons.

Apa yang pasti terjadi pada 1621?

VOC di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Kepulauan Banda untuk memaksakan monopoli pala dan fuli. Penduduk asli Banda dibunuh, ditawan, diperbudak, dideportasi, atau melarikan diri. Sejumlah pemimpin yang dikenal sebagai Orang Kaya dieksekusi di kawasan Benteng Nassau pada 8 Mei 1621. Kehancuran masyarakat Banda bukan hanya satu adegan eksekusi, melainkan rangkaian kekerasan yang mengubah penduduk, perdagangan, dan kehidupan kepulauan itu.

Mengapa jumlahnya berbeda?

Pembaca dapat menemukan angka 40, 44, atau angka lain. Perbedaan itu muncul karena sumber tidak selalu menghitung kelompok yang sama dan karena ingatan peringatan berkembang melalui waktu. Ada sumber yang membedakan pemimpin utama, Orang Kaya, imam, serta tokoh lain; ada pula monumen yang memuat daftar nama tertentu. Karena itu, angka dalam novel harus dibaca bersama catatan mengenai ketidakseragaman sumber.

Catatan penting
Beberapa penuturan menyatakan jenazah korban dibuang ke sumur yang kemudian dikaitkan dengan Parigi Rante. Penuturan lain lebih berhati-hati dan menempatkan Parigi Rante terutama sebagai monumen pengingat pembantaian. Catatan ini tidak memilih satu tradisi sebagai kepastian mutlak ketika bukti yang tersedia belum seragam.
Benteng Nassau dengan Gunung Api di latar belakang, Banda Neira
Benteng Nassau dan Gunung Api. Foto: David Stanley, 2019, CC BY 2.0, melalui Wikimedia Commons. Benteng ini berkaitan dengan penahanan dan eksekusi para pemimpin Banda.

Sejarah, ingatan, dan fiksi

Dasar sejarah
Pembantaian dan penghancuran masyarakat Banda pada 1621; eksekusi para pemimpin Banda di kawasan Benteng Nassau; keberadaan Parigi Rante sebagai tempat dan monumen ingatan.
Ciptaan novel
Pieter van der Berg, air sumur yang merah bercahaya, ribuan arwah yang disedot ke dalam sumur, paku gaib, dan jaringan segel yang menghubungkan sumur dengan laut.

Novel memakai tempat nyata sebagai pintu masuk menuju fantasi. Karena itu, suasana gaib dalam Prolog 02 tidak boleh dianggap sebagai kesaksian sejarah atau kepercayaan tunggal masyarakat Banda.

Detail monumen Parigi Rante sebagai ruang peringatan tragedi Banda 1621
Detail Parigi Rante sebagai ruang ingatan masa kini. Foto: Zhilal Darma, 2026, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons.
Sumber dan bacaan lanjut

Prinsip pembacaan: tragedi 1621 diperlakukan sebagai fakta sejarah; rincian yang berbeda antar-sumber dinyatakan sebagai perbedaan; unsur segel dan arwah dinyatakan sebagai fiksi.

← Kembali ke PROLOG 2