Sumpah Palapa | Catatan Nusantara 41

CATATAN NUSANTARA / 41

BAB 7-3

SEJARAH · MAJAPAHIT · NUSANTARA

Sumpah Palapa

Sumpah Palapa adalah ikrar yang dikaitkan dengan Gajah Mada ketika ia menjadi patih Majapahit pada abad ke-14. Dalam cerita, sebutan ini muncul sebagai ingatan tentang cita-cita politik yang jauh lebih tua daripada perjalanan Surya dan kawan-kawan.
Patung Gajah Mada di Jakarta
Patung Gajah Mada di depan Museum Telekomunikasi, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Foto: Taman Renyah, 2011, CC BY-SA 3.0. Ini adalah penggambaran modern, bukan potret abad ke-14.

Ikrar dalam Pararaton

Teks yang paling sering dikutip untuk Sumpah Palapa terdapat dalam Pararaton, sebuah kronik Jawa berbahasa Jawa Pertengahan. Dalam bagian itu, Gajah Mada menyatakan bahwa ia tidak akan “amukti palapa” sebelum sejumlah wilayah Nusantara tunduk. Karena sumbernya berupa kronik yang disalin jauh sesudah peristiwa, kata-kata dan penafsirannya perlu dibaca hati-hati, bukan sebagai transkrip pidato yang dapat dibuktikan kata demi kata.

Arca Bima dari masa akhir Majapahit
Arca Bima dari masa akhir Majapahit, kini dalam koleksi Museum Nasional Indonesia. Sejumlah kajian mengaitkan tokoh Bima pada arca ini dengan citra Gajah Mada; kaitan tersebut adalah penafsiran, bukan kepastian identitas.

Apa arti “palapa”?

Ungkapan amukti palapa sering dijelaskan sebagai menahan kenikmatan, menjalani laku prihatin, atau belum menghentikan puasa hingga tujuan politik tercapai. Arti tepat kata palapa sendiri diperdebatkan. Karena itu, penjelasan “tidak akan makan rempah” yang populer di masa kini lebih tepat dipahami sebagai ringkasan modern, bukan satu-satunya arti yang pasti.

Peta modern wilayah Majapahit
Peta modern tentang cakupan Majapahit pada abad ke-14. Peta ini adalah rekonstruksi modern berdasarkan penelitian sejarah; batas dan hubungan kekuasaan tidak boleh dibaca seperti batas negara modern.

Ingatan tentang Nusantara

Dalam Indonesia modern, Sumpah Palapa sering dipakai sebagai lambang gagasan persatuan Nusantara. Namun Majapahit bukan Indonesia modern, dan hubungan pusat Majapahit dengan daerah-daerahnya beragam—mulai dari pengaruh dagang, hubungan upeti, hingga kekuasaan yang diperebutkan. Catatan ini memisahkan makna simbolik modern itu dari keadaan politik abad ke-14.

Catatan ketelitian: Sumpah Palapa dikenal terutama melalui Pararaton. Tanggal yang sering dicantumkan berbeda dalam berbagai pembacaan (1334 atau 1336), dan penafsiran “palapa” tidak tunggal. Dalam cerita, istilah ini dipakai sebagai rujukan historis, bukan bukti bahwa semua kepulauan telah menjadi satu negara pada masa Majapahit.
Sumber dan bacaan lanjut

← Kembali ke BAB 7-3