Sampul BAB5 — Ke Aceh dan Segel Kedua di Gunung Geureudong

BAB5 : KE ACEH DAN SEGEL KEDUA DI GUNUNG GEUREUDONG

BAB5/1

Arah Utara

Sesudah pertemuan dengan arwah purba di tepian selatan, kelima penjaga melanjutkan perjalanan ke utara. Selama lima hari mereka mengikuti jalan antarkampung di sisi timur danau, berhenti untuk beristirahat dan mencari petunjuk. Rasa yang diterima Intan dari arwah purba semakin jelas saat mereka mendekati Tongging.

Pagi tiba di tepi utara danau.

Air terjun Sipiso-piso tidak pernah berhenti sepanjang malam, dan gemuruhnya di balik kabut terdengar lebih besar, lebih hening — seolah suara itu tumbuh karena memakan kabut, sementara danau menerimanya tanpa berkata apa-apa.

Warna danau berubah pelan-pelan bersama fajar. Dari abu-abu pekat ke biru kelabu, dari biru kelabu ke biru pucat, dan kabut menutupi lalu membuka perubahan warna itu selapis demi selapis. Pulau Samosir masih tenggelam dalam gelap, tetapi hutan pinus di atas tebing Sipiso-piso sudah menangkap tepi pertama cahaya matahari. Hidung Intan menangkap sehelai bau asing — bau air yang mengalir dari lembah air terjun menuju danau, dan di bawahnya getah pinus yang pahit menyengat ujung hidung sekilas lalu lenyap.

Lima orang berkumpul di tepi air.

Dewi berdiri di tepi danau dengan Kipas Sakti terbuka. Kipas emas itu membelah udara subuh, dan mata Dewi membaca sekala dan niskala sekaligus.

Segel ada di sini. Pasti. Jauh di dasar danau, di perairan utara dekat Tongging, tempat aliran dari lembah Sipiso-piso mencapai danau, akar segel tertanam — dan selama puluhan tahun telah menyedot tuah tanah ini dari danau.

“Berbeda dari saat kita berada di tepian selatan. Segel memang ada di sini, tapi ada dua titik yang terhubung. Satu ke arah selatan — Palembang. Tapi satu lagi ke utara,” suara Dewi sedikit lebih hati-hati dari biasanya.

“Utara?” Surya mengeratkan genggaman pada vajra.

“Ya. Yang di utara jauh lebih lemah dari yang di Palembang. Tapi keduanya terhubung. Segel ini berakar di dua tempat sekaligus,” kata Dewi.

Intan berjongkok di tepi air dan mencelupkan tangan. Dingin.

Roh purba datang seperti saat pertama kali dijumpai di tepian selatan. Tetapi kali ini arah yang Intan rasakan berbeda. Roh purba tidak menariknya ke bawah, melainkan ke atas — ke utara. Intan memejamkan mata dan mengikuti arah itu. Utara. Dari utara yang sangat jauh, bau belerang samar-samar tercium.

“Saya juga merasakannya,” kata Intan, menarik tangan dari air dan berdiri. “Roh purba tahu ada sesuatu di utara. Belum bisa dipastikan tanpa melihat langsung, tapi selain segel danau ini, ada akar lain di utara.”

Hasan memutar tasbih sambil memandang ke utara. Di balik kabut, pegunungan berlapis-lapis membentang, dan di seberang sana terbentang Kesultanan Aceh.

“Arah Aceh. Aceh adalah salah satu tempat di kepulauan ini yang paling kuat tuah Islamnya. Kalau ada segel di sana, kita harus ke sana.”

Surya berpikir sejenak. Mengangkat vajra ke depan dada, memejamkan mata, lalu membukanya. “Kalau mau memutus tali, kedua ujungnya harus ditarik. Kalau kita hanya mencabut akar yang di sini, kedua ujung akan saling menarik kembali. Kalau segel di Aceh yang paling lemah, kita bereskan itu dulu, lalu cabut yang di sini, baru terakhir segel Palembang yang sudah kehilangan tenaga — urutannya harus begitu.”

Saat itu Intan mengangkat kepala. Hidungnya bereaksi lebih dulu.

“Ada seseorang mendekat. Dari tubuhnya tercium bau dupa,” kata Intan pelan.

Arya meletakkan tangan di atas Nagaraja. Lima orang serentak memandang ke balik batu di sisi utara.

Intan menyentuh air Danau Toba sementara Dewi memegang Kipas Sakti di tepian — ilustrasi vertikal

Yang muncul dari balik batu adalah seorang pemuda. Kira-kira tiga puluhan, mengenakan jubah1 putih yang sudah usang, dengan tasbih melingkar di leher. Ia melangkah keluar tanpa ragu, tetapi meletakkan tangan di dada terlebih dahulu — memberi salam.

“Assalamu’alaikum — maaf mengagetkan. Saya sudah menunggu, tapi tidak menyangka kalian datang secepat ini.”

Hasan menghentikan tasbih dan memandang pemuda itu. Tidak ada ketakutan di matanya, tidak ada permusuhan. Mata seorang sarjana — seseorang yang lama belajar. Hasan meletakkan tangan di dada dan menjawab.

“Wa’alaikumussalam. Siapa Anda?”

“Nama saya Faris bin Idris.” Bahasa Melayu, tetapi dengan logat Aceh yang kental.

“Saya murid Syekh Abdurrauf as-Singkili2Catatan. Guru saya mengirim saya ke danau ini setengah bulan yang lalu — beliau berkata lima orang akan datang. Semalam saya merasakan tuah danau berubah, dan saya kemari.”

Surya menurunkan tangan yang menggenggam vajra, melangkah mendekati Faris, dan membungkuk memberi hormat. “Syekh Abdurrauf as-Singkili mengetahui tentang segel di danau ini?”

“Bukan hanya mengetahui — beliau sudah menelitinya lebih dari dua puluh tahun,” kata Faris. “Di Aceh juga ada segel. Di kaki Gunung Geureudong3. Guru saya sudah lama menahan segel itu dengan kekuatan ayat-ayat suci, tetapi belum bisa mencabutnya sepenuhnya. Karena akar segel itu bukan di tanah Aceh — akarnya di sini, di Danau Toba. Terhubung lewat jalur gunung api bawah tanah.”

Dewi menutup Kipas Sakti perlahan dan memandang Faris.

“Jadi kita harus ke Aceh dulu. Kalau yang di Aceh dicabut lebih dulu karena sudah lemah, retakan akan muncul di sini.”

“Guru saya berkata, kalau bersama kalian, segel itu bisa dicabut sepenuhnya.”

Hening sesaat. Surya melirik Dewi — meminta pendapatnya. Lalu mengeratkan genggaman pada vajra dan berkata,

“Berapa lama perjalanan ke Aceh?”

“Kira-kira setengah bulan. Dari sini ke arah timur laut, menyeberangi Dataran Tinggi Karo4 turun ke pesisir timur — ada kampung nelayan kecil di sana. Dari situ naik perahu menyusuri Selat Malaka5 ke utara, sampai di pesisir timur Aceh.”

“Setengah bulan berarti empat puluh lima kali makan,” kata Surya setelah berpikir sejenak.

Intan mendengus geli di belakang. Hasan juga memutar tasbih sambil tertawa kecil. Arya melepaskan tangan dari Nagaraja tanpa berkata apa-apa.

“Kalau begitu, berangkat. Anda tahu jalannya?” Surya mengambil tongkat candi dan berkata.

“Jalan ini saya lewati waktu datang kemari. Di antara orang-orang Karo, saya punya kenalan,” kata Faris, mengangguk.

Faris menemui lima penjaga di kawasan utara Danau Toba — ilustrasi vertikal

Mereka meninggalkan Sipiso-piso, mengarah ke timur laut.

Mula-mula menyusuri tepi danau ke timur, lalu setelah melewati kampung Tongging6, jalan berbelok naik ke pegunungan. Dataran Tinggi Karo. Begitu mendaki melewati tebing di atas Sipiso-piso, danau menjauhi kaki mereka, dan di bawah kabut danau terbentang seperti selembar cermin. Intan berhenti sejenak, memandang danau dari atas.

“Dari sini bagian utara danau terbentang luas. Dilihat dari atas, bentang air sebesar itu terasa lebih kecil.”

“Dilihat dari atas, apa pun yang besar kelihatan kecil,” kata Surya, berdiri di samping Intan. “Orang juga begitu. Waktu sedang marah, kalau dilihat dari atas, biasanya ternyata perkara kecil.”

“Bhante belajar kata-kata itu dari mana?” Intan menoleh ke Surya.

“Guru saya dulu, setiap kali saya marah sendirian, selalu menyuruh saya naik gunung. Dua kali naik turun, perkara yang membuat marah sudah hampir habis semua.”

“Guru yang bijaksana.”

“Guru yang luar biasa.”

Jalan Dataran Tinggi Karo berbeda lagi dari jalan lereng selatan Barisan yang mereka lewati saat naik dari Minangkabau. Yang itu curam dan rimba lebat, tetapi Dataran Tinggi Karo berselang-seling antara padang rumput datar dan hutan pinus, udaranya lebih dingin, dan anginnya bertiup lebih panjang. Tanah tinggi di utara danau.

Bau yang ditangkap Intan pun berbeda. Di atas bau tanah ada bau rumput dan getah pinus, dan di bawahnya terbaring bau kotoran sapi dan asap kehidupan manusia.

Bentang alam Danau Toba dan lembah air terjun — ilustrasi fantasi vertikal

Sore hari kedua, mereka tiba di sebuah kampung Karo. Rumah-rumah tradisional yang disebut Rumah Siwaluh Jabu7 berderet mengikuti punggung bukit — satu atap menaungi delapan keluarga yang tinggal bersama, begitu Faris menjelaskan. Seorang tetua kampung keluar dan mengenali Faris, menyapa singkat dalam bahasa Karo. Kelima penjaga memberi salam bergantian, dan tetua itu lama memandang tato Dayak di lengan Intan.

“Dari jauh kau datang,” kata tetua itu, beralih ke bahasa Melayu.

“Dari Kalimantan,” jawab Intan.

“Orang Kalimantan masuk kampung Karo bukan hal yang biasa. Masuklah.” Tetua itu memandang Intan dengan kehangatan yang lebih dalam.

Rumah Siwaluh Jabu gelap di dalam, tetapi hangat. Di tengah ada tungku, di atas tungku tergantung kuali besar, dan di langit-langit tergantung rempah-rempah dan jagung — begitu masuk, hidunglah yang pertama disambut. Seorang perempuan Karo memberi tempat duduk untuk Faris dan kelima penjaga, dan mengangkat sendok dari kuali.

“Kuah ayam asam8,” kata perempuan itu. Ayam direbus dengan buah berasa asam, andaliman, dan bawang putih. Surya menerima mangkuk dan mendekatkan hidung.

“Ini beda lagi dari yang kami makan di Toba. Apakah ini juga andaliman?”

“Ini andaliman,” kata perempuan itu. “Kami biasa memakainya untuk memberi rasa pada masakan.”

Surya menyendok sesendok. Rasa asam, aroma jeruk, dan gurihnya ayam naik sekaligus — Surya memejamkan mata sekali.

“Semakin saya berjalan di kepulauan ini, semakin saya menyadari — rempah yang sama bisa terasa berbeda kalau cara memasaknya berbeda.”

“Pohon juga, manusia juga, makanan juga — kalau gunungnya beda, semuanya beda,” kata tetua itu.

Malam itu, di samping tungku, tetua bercerita singkat bagaimana suku Karo menetap di dataran tinggi ini. Ia berkisah tentang leluhur yang menempuh jalan di antara bukit dan lembah, lalu membangun kampung-kampung di dataran tinggi. Orang Karo dan orang Toba memiliki bahasa dan adat yang berbeda, meskipun hubungan antarkampung terus terjalin. Hasan memutar tasbih, mendengarkan dengan tenang. Surya mengangguk dan berkata,

“Nuwun sewu — saya rasa orang-orang di kepulauan ini semuanya terpisah dengan cara yang sama. Berangkat dari tempat yang sama, lalu gunung memisahkan, sungai memisahkan, laut memisahkan. Tapi kalau bertemu, saling mengenali. Seperti tetua tadi yang langsung mengenali tato Intan.”

“Kau orang Jawa, tapi kau mengerti hati orang Karo,” kata tetua, memandang Surya dan tersenyum sekilas.

“Lama tinggal di gunung, gunung yang mengajari semuanya. Di mana pun, gunung bicara hal yang sama.”

Tetua menyalakan api tungku sekali lagi, diam sejenak, lalu bertanya.

“Apa alasan kalian berjalan di jalan ini?”

Surya memandang tetua sejenak. Ini bukan tempat untuk berbohong.

“Tuah tanah ini sedang tersedot keluar. Dari bawah tanah dan bawah air yang tak terlihat, tuah itu mengalir ke luar. Kami berjalan untuk mengisi kembali tempat-tempat yang sudah kosong,” kata Surya perlahan.

Tetua lama memandang Surya. Lalu memandang tungku lagi.

“Tetua-tetua kami pernah berkata begitu. Dulu gunung ini lebih hidup, katanya. Kalau memanggil hujan dari gunung Karo, hujan datang. Kalau memanggil obat dari gunung, penyakit pergi. Sekarang sudah tidak bisa. Dibata9 kami sudah menjauh, begitu tetua-tetua kami bersedih.”

Hasan memutar tasbih, mendengarkan diam-diam.

“Bukan menjauh. Tersumbat. Kami berjalan untuk membuka sumbatan itu,” kata Surya.

Tetua menundukkan kepala dalam sekali, lalu mengangkatnya.

“Kalau begitu, kalau ada yang bisa dibantu kampung kami, bilang saja. Gadis Dayak dari Kalimantan masuk ke kampung Karo — pasti gunung kami yang memanggil.”

Intan memandang tetua sekali tetapi tidak berkata apa-apa. Hanya tangan yang memegang mandau terasa hangat sejenak.

Tetua Karo menyambut Intan bersama Faris dan para penjaga — ilustrasi vertikal

Keesokan paginya, tetua Karo memberi tahu jalan pintas menuju pesisir timur. Jalannya sempit dan tidak cepat, tetapi Labuhan Deli10 harus dihindari — di sana orang-orang Belanda sudah lalu-lalang, dan sultan sudah berdagang dengan mereka belasan tahun lamanya. Ada kampung nelayan kecil di sebelah utaranya yang belum terjamah tangan Belanda, dan rombongan itu memutuskan mengambil jalan itu.

“Kerismu keris Jawa,” kata tetua, memandang Nagaraja. “Jagalah baik-baik. Di kepulauan ini, masa keris menangis sedang datang kembali.”

“Baik, terima kasih,” jawab Arya, membungkuk singkat kepada tetua.


─── Bersambung ke BAB5/2 ───


CATATAN

1) Jubah

Jubah — pakaian panjang berlengan lebar yang dikenakan laki-laki Muslim. Berasal dari tradisi Arabia, dan pada abad ke-17 di Aceh lazim dikenakan oleh ulama dan ahli agama.

↩ Kembali ke teks

2) Syekh Abdurrauf as-Singkili

Syekh Abdurrauf as-Singkili — ulama Aceh abad ke-17 yang dikenal sebagai Teungku Syiah Kuala. Setelah belajar di berbagai pusat keilmuan di Timur Tengah, ia kembali ke Aceh dan menjabat qadhi al-malik al-adil, pejabat keagamaan dan hukum kesultanan. Karyanya mencakup Tarjuman al-Mustafid dan Mir’at al-Thullab; ia juga berperan penting dalam penyebaran tarekat Syattariyah. Pertemuan dengan para penjaga, perjalanan ke Geureudong, dan penelitian tentang segel merupakan rekaan cerita, bukan peristiwa dalam biografinya.

Baca Catatan Nusantara 29 — Syekh Abdurrauf as-Singkili

↩ Kembali ke teks

3) Gunung Geureudong

Gunung Geureudong (Bur ni Geureudong) adalah kompleks vulkanik di Aceh dengan puncak sekitar 2.885 meter. Smithsonian Global Volcanism Program mencatat letusan terakhir yang diketahui berasal dari Pleistosen serta keberadaan mata air panas. Bur ni Telong berada di sebelah selatannya dan merupakan gunung api yang berbeda. Hubungan segel melalui jalur gaib bawah tanah dalam novel merupakan rekaan, bukan uraian jaringan magma yang telah dibuktikan.

↩ Kembali ke teks

4) Dataran Tinggi Karo

Dataran Tinggi Karo — dataran tinggi yang membentang di utara Danau Toba. Dihuni oleh suku Karo Batak. Masyarakat Karo memiliki bahasa dan adat tersendiri. Tradisi kepercayaan setempat yang kini dikenal sebagai Pemena dibahas sebagai latar budaya, bukan sebagai bukti bahwa asal-usul Karo dapat dijelaskan oleh satu peristiwa letusan Toba.

↩ Kembali ke teks

5) Selat Malaka

Selat Malaka — selat sempit antara Pulau Sumatera dan Semenanjung Melayu. Salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan. Pada abad ke-17, kapal-kapal dagang bermuatan rempah, sutra, dan keramik tak henti berlalu-lalang. Setelah VOC merebut Malaka dari Portugis pada 1641, arus perdagangan di selat ini berubah besar.

↩ Kembali ke teks

6) Tongging

Tongging adalah kampung di tepian utara Danau Toba, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dekat kawasan Air Terjun Sipiso-piso dan jalur menuju Dataran Tinggi Karo.

↩ Kembali ke teks

7) Rumah Siwaluh Jabu

Rumah Siwaluh Jabu adalah rumah adat Karo yang dikenal sebagai hunian bersama delapan keluarga. Waluh berarti delapan dan jabu merujuk pada rumah atau unit rumah tangga. Pembagian ruang dan peran penghuninya diatur oleh adat. Rumah dan pertemuan dalam adegan ini merupakan rekonstruksi fiksi, bukan dokumentasi satu bangunan tertentu pada 1683.

↩ Kembali ke teks

8) Kuah ayam asam

Kuah ayam asam dalam adegan ini adalah rekaan kuliner dengan buah berasa asam dan andaliman. Terung belanda berasal dari Amerika Selatan; tanpa bukti kehadirannya di Karo pada 1683, buah itu tidak dipakai dalam adegan ini. Nama andariaman juga tidak dipakai sebagai nama tumbuhan yang dianggap telah teridentifikasi.

↩ Kembali ke teks

9) Dibata

Dibata adalah sebutan bagi Tuhan atau kekuatan ilahi dalam tradisi Karo. Dalam kepercayaan yang kini dikenal sebagai Pemena, dikenal pembagian kuasa atas dunia atas, tengah, dan bawah yang dipahami sebagai satu kesatuan. Tuturan tetua tentang kekuatan gunung yang melemah merupakan bagian dari dunia fantasi novel, bukan pernyataan bahwa kepercayaan Karo telah lenyap.

↩ Kembali ke teks

10) Labuhan Deli

Labuhan Deli adalah bandar lama di pesisir timur Sumatera yang menjadi pusat Kesultanan Deli. Sejarah Kota Medan mencatat bahwa Tuanku Panglima Perunggit memproklamasikan kemerdekaan Deli dari Aceh pada 1669 dengan pusat di Labuhan. Dalam novel, kekhawatiran terhadap orang-orang Kompeni menjadi alasan rombongan memilih kampung nelayan lain; rincian perjumpaan dan rute tersebut merupakan rekaan cerita.

↩ Kembali ke teks