Banten 1683 | Catatan Nusantara 05

CATATAN NUSANTARA / 05

BAB 1-1

SEJARAH · TOKOH · TEMPAT

Banten 1683

Banten pada 1683 berada di titik balik. Perselisihan antara Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Haji memberi VOC kesempatan untuk masuk lebih dalam ke urusan politik kesultanan pelabuhan yang kaya dan berpengaruh ini.
Reruntuhan Keraton Surosowan di Serang
Reruntuhan Keraton Surosowan dalam foto 15 Februari 2026: lokasi istana yang disebut dalam pembahasan krisis Banten. Keadaan sekarang bukan gambaran istana pada 1683. Foto: Mirani Pramitasari, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons; tanpa pemotongan.

Banten sebelum krisis

Kesultanan Banten berkembang sebagai pusat perdagangan lada dan pelabuhan internasional di ujung barat Jawa. Di bawah Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berusaha mempertahankan jalur dagang dan hubungan luar negeri yang tidak sepenuhnya dikendalikan VOC.

Kekuatan Banten tidak hanya berasal dari istana. Pedagang, ulama, pelaut, petani lada, serta komunitas dari berbagai wilayah Nusantara dan luar negeri ikut membentuk kehidupan kesultanan.

Saluran air dan pertirtaan di selatan Keraton Surosowan
Saluran air dan struktur pertirtaan di selatan Surosowan, foto 9 Mei 2026. Peninggalan ini membantu mengenali pengelolaan air di lingkungan istana; bukan foto seluruh jaringan kanal pertanian Banten. Foto: Arif Permana Putra, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons; tanpa pemotongan.

Ayah, putra, dan campur tangan VOC

Konflik suksesi mempertemukan Sultan Ageng dengan putranya, Sultan Haji. Perselisihan keluarga kerajaan itu tidak berdiri sendiri: perbedaan kepentingan politik dan perdagangan memberi VOC jalan untuk mendukung Sultan Haji dengan kekuatan militer dari Batavia.

Pada 1682 pertempuran besar berlangsung di Banten. Bantuan VOC mengubah keseimbangan kekuatan. Keraton Tirtayasa ditinggalkan pada akhir 1682, sementara Sultan Ageng dan para pendukungnya meneruskan perlawanan.

Ukiran Jan Luyken tentang pertempuran antara pasukan Banten dan VOC pada 1682
Oorlog te Bantam, 1682. Etsa Jan Luyken yang dibuat pada 1689 sebagai ilustrasi peristiwa perang Banten tahun 1682. Gambar ini merupakan tafsir seniman Eropa, bukan rekaman langsung yang netral. Koleksi Rijksmuseum; public domain.

Apa yang terjadi pada 1683?

Menurut bahan Arsip Nasional Republik Indonesia, Sultan Ageng menyerahkan diri di Surosowan pada 14 Maret 1683, kemudian ditangkap dan dibawa ke Batavia. Penangkapan itu tidak langsung mengakhiri seluruh perlawanan. Syekh Yusuf al-Makassari, Pangeran Purbaya, Pangeran Kidul, dan para pengikut mereka masih bergerak melawan kekuatan Sultan Haji dan VOC.

Karena itu, tahun 1683 sebaiknya dipahami sebagai proses perubahan kekuasaan, bukan satu hari ketika Banten tiba-tiba “jatuh”. Sultan Haji tetap menjadi sultan, tetapi dukungan militer dan perjanjian dengan VOC memperbesar pengaruh perusahaan tersebut atas urusan perdagangan dan politik Banten.

Membaca sumber kolonial dengan hati-hati

Banyak surat, laporan, peta, dan gambar tentang konflik Banten dibuat atau disimpan oleh VOC. Sumber-sumber itu sangat penting, tetapi memakai sudut pandang administrasi dan kepentingan kolonial. Arsip tersebut perlu dibandingkan dengan tradisi lokal, kajian Indonesia, dan jejak arkeologis.

Batas sejarah dan fiksi:
Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Haji, Syekh Yusuf, konflik 1682–1683, dan campur tangan VOC merupakan latar sejarah. Hasan Malik, gurunya, surat rahasia, kemampuan gaib, serta pertemuan lima penjaga adalah ciptaan novel.
Sumber dan bacaan lanjut

  • Arsip Nasional Republik Indonesia, Majalah ARSIP Edisi 64 (2014), pembahasan Syekh Yusuf dan konflik Banten.
  • ANRI, Sejarah Nusantara: Khazanah Arsip VOC Abad ke-17 dan ke-18, surat dan catatan diplomatik Banten.
  • Rijksmuseum, Jan Luyken, Oorlog te Bantam, 1682, dibuat 1689, objek RP-P-1896-A-19368-747; public domain.

← Kembali ke BAB 1-1