Batavia sekitar tahun 1683
Pada akhir abad ke-17, Batavia merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan VOC di Asia. Kota bertembok tumbuh di dekat muara Ciliwung, sementara jaringan kanal, gudang, galangan, pasar, permukiman, dan jalan air menghubungkan benteng dengan pelabuhan serta wilayah di luar tembok.
Rencana kota tahun 1679 memperlihatkan sebuah kota yang dibentuk oleh garis pertahanan dan saluran air. Peta seperti ini berguna untuk memahami susunan ruang, tetapi bukan foto yang merekam kehidupan sehari-hari secara netral. Peta kolonial dibuat untuk kebutuhan administrasi, navigasi, pertahanan, dan penguasaan.

Dari Ciliwung menuju Kali Besar
Ciliwung sudah lama mengalir menuju pesisir sebelum VOC mendirikan Batavia. Pada masa kolonial, bagian hilir sungai dan saluran-saluran di sekitarnya direkayasa untuk membentuk jaringan air kota. Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa Kali Besar berkembang melalui pengaturan dan kanalisasi bagian hilir Ciliwung, bukan bahwa seluruh Ciliwung hanya “diluruskan”.
Kali Besar menjadi poros penting bagi pergerakan perahu dan barang. Di sekitarnya berdiri kantor, gudang, pasar, tempat bongkar muat, dan bangunan yang berhubungan dengan perdagangan VOC. Namun jaringan air itu juga menghadapi pendangkalan, banjir, dan masalah sanitasi yang terus membayangi Batavia.
Kasteel, Kali Besar, dan pasar ikan
Lukisan Andries Beeckman dibuat sekitar 1662 dan menggambarkan suasana Batavia sekitar 1656. Karya ini menampilkan Kasteel Batavia dilihat dari sisi barat Kali Besar, dengan kegiatan pasar di bagian depan. Karya ini penting karena memperlihatkan manusia dan ruang kota dalam satu pandangan. Rijksmuseum mengingatkan bahwa Beeckman mengecilkan ukuran Kali Besar dan mengubah sebagian arsitektur agar benteng terlihat lebih jelas. Jadi lukisan tersebut adalah sumber visual berharga, tetapi tetap merupakan komposisi seorang seniman.

Kasteel bukan hanya benteng militer. Kompleks itu merupakan pusat kekuasaan VOC: tempat pejabat bekerja, keputusan dibuat, arsip disimpan, dan kepentingan dagang dijaga dengan kekuatan bersenjata. Di luar tembok, kehidupan kota jauh lebih beragam daripada gambaran “kota Belanda”. Lukisan tersebut menghadirkan orang Jawa, Tionghoa, Maluku, Jepang, India, Mardijker, Eropa, dan Indo-Eropa sebagai gambaran majemuk penduduk Batavia. Mereka tidak sedang berkumpul pada satu saat yang sama; Beeckman menyusun berbagai kelompok dalam satu komposisi. Kehidupan nyata mereka berlangsung dalam hubungan kolonial yang tidak setara.

Tempat yang sama, wajah yang berubah
Foto masa kini tidak dapat dipakai untuk mengisi setiap detail kota abad ke-17. Tepi kanal, bangunan, dan ruang pejalan kaki telah mengalami perubahan. Membaca foto bersama peta dan lukisan membantu membedakan letak jalur air yang bertahan dari bentuk kota yang berubah.
Sunda Kelapa dan jaringan laut
Nama Sunda Kelapa merujuk pada pelabuhan tua sebelum kawasan itu dikenal sebagai Jayakarta dan kemudian Batavia. Dalam perkembangan Batavia, pelabuhan lama, muara, gudang, dan jaringan kanal bekerja sebagai satu sistem. Barang yang dibongkar di pelabuhan diteruskan dengan perahu atau tongkang melalui Kali Besar menuju gudang dan pasar.
Karena itu, penyebutan Sunda Kelapa, Kali Besar, pasar ikan, gudang, dan galangan dalam novel sebaiknya dibaca sebagai rangkaian ruang yang saling terhubung—bukan sebagai satu titik yang seluruhnya terlihat sekaligus dari sebuah gang.
Batavia, Ciliwung, Kali Besar, Kasteel, Sunda Kelapa, gudang, dan pasar ikan merupakan unsur sejarah. Warung nasi uduk, pertemuan lima penjaga, urutan perjalanan mereka, serta rincian suasana subuh merupakan konstruksi sastra. Novel menyatukan lokasi yang berhubungan agar pembaca merasakan kota, tetapi tidak dimaksudkan sebagai rekonstruksi meter demi meter.
Cara membaca Bab 1-1
Ketika membaca kalimat “Batavia adalah kota yang dimulai dari bau”, bayangkan kota pelabuhan yang dipenuhi campuran air payau, ikan, kayu, rempah, asap dapur, hewan, lumpur, dan manusia. Kanal adalah jalan perdagangan, tetapi juga tempat semua unsur kota bertemu. Di sanalah lima tokoh fiksi memasuki ruang sejarah yang nyata.
