Sampul BAB 2 — Gudang Batavia

BAB2 : GUDANG BATAVIA

BAB2/2

Segel Pertama

Saat itulah.

Dari celah lantai, sesuatu mulai keluar. Pertama seperti kabut. Kabut hitam merembes dari sela-sela batu lalu mulai membentuk diri — belum jelas wujudnya, tapi ada kehendak dalam gerakan yang bergoyang itu. Ia mengalir menuju Dewi yang duduk di lantai.

Arwah keluar dari lantai Gudang Batavia

Hasan mengangkat tangan yang menggenggam tasbih. Lalu mulai melantunkan doa — tak dengan suara keras. Rendah dan berat, doa yang dipelajarinya dari Kiai Abdullah al-Bantani, gurunya di Banten, meresap ke udara dalam gudang — dan kabut hitam itu berbalik arah menuju Hasan. Ia mendekat, tapi Hasan tak mundur, malah mengulurkan tasbih ke depan sambil meneruskan doa. Kabut itu terpukul mundur di hadapan Hasan.

Dari kanan keluar lagi. Kali ini Intan yang menghadang. Ia mencabut mandau dan menebas kabut hitam itu — mandau Dayak yang menjangkau sekaligus dunia manusia dan dunia roh, sehingga begitu kena, kabut itu buyar. Tapi yang buyar berkumpul lagi. Intan menebas lagi, dan lagi-lagi berkumpul.

“Tidak ada habisnya,” geram Intan.

“Yang penting bukan menebas, tapi mencegahnya sampai ke Dewi. Selama segel belum dicabut akan terus keluar — sekarang tutup jalannya saja,” kata Surya dari tengah.

Intan mengubah posisi, berdiri di depan Dewi.

Arya mencabut Nagaraja — dan cahaya memancar dari bilah itu. Redup, tapi di dalam kegelapan gudang Nagaraja bersinar, dan kabut-kabut hitam menjauhi cahaya itu. Arya berjalan perlahan mengelilingi Dewi sambil mengangkat Nagaraja. Seperti menggambar lingkaran — benda-benda hitam itu tak bisa memasuki lingkaran cahaya itu. Kata-kata kakeknya terlintas. Keris ini bukan untuk menebas yang gelap. Ia mengeluarkan cahaya.

“Ada cahayanya,” kata Intan, sekilas melirik Arya.

Surya berdiri di tengah. Posisi paling terbuka ke segala arah. Karena Hasan menutup kiri, Intan dan Arya mengepung Dewi, yang mengalir dari arah-arah yang tersisa mengaliri Surya. Surya memutar vajra perlahan, menunggu mereka mendekat. Begitu mereka dekat, Surya mengangkat vajra ke atas.

Berubah. Mungkin kata “berubah” kurang tepat — bukan Surya yang berubah, melainkan sesuatu yang selama ini tersimpan dalam diri Surya yang kini muncul ke permukaan. Yang ada saat ia makan nasi uduk, saat ia bersemangat tentang tiga lembar daun pandan, saat ia mengelap vajra — semua itu ada di sana. Sekarang ia muncul. Ruang di sekeliling Surya berubah dan bercahaya. Cahaya yang berbeda dari cahaya Nagaraja — lebih berat, lebih tua, cahaya yang hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang selama puluhan tahun duduk di lereng Semeru menyerap tuah tanah ini melalui tubuhnya sendiri. Keenam gelang tongkat candi memantulkan cahaya itu, semakin terang.

Surya bergerak.

Intan melihatnya dari samping. Tangan yang menggenggam mandau sempat berhenti — tak percaya. Tidak pernah terbayangkan biksu paruh baya yang perutnya buncit itu bisa bergerak seperti itu. Cepatnya sukar dilukiskan — kakinya hampir tak terlihat. Vajra menghantam benda-benda hitam itu, dan tiap yang kena buyar — berbeda dari mandau Intan. Yang buyar karena vajra tidak berkumpul lagi. Begitu vajra Surya menyentuhnya, selesai sudah, tuntas.

Surya menahan arwah dengan vajra di Gudang Batavia

“Bhante boleh begitu?” kata Intan, tak bisa melepas pandangan, kepada Arya.

“Fokus,” kata Arya singkat.

“Intan, prajurit Dayak sampai kaget dengan ini?” kata Surya, melewati sambil menyelesaikan tiga sekaligus.

“Bhante, ini sedang bertarung sambil bergurau?” seru Intan.

“Bukan gurau. Saya serius bertanya,” kata Surya, berpindah arah.

“Di sini penuh dengan yang tidak baik tapi Bhante santai sekali,” kata Hasan, sedikit membuka mata sambil tetap mempertahankan doa.

“Bukan santai. Sudah biasa. Di Semeru empat puluh tahun, banyak ketemu yang seperti ini,” kata Surya.

Hasan meneruskan doa sambil mencermatinya. Keringat sudah membasahi dahinya, doa tak boleh terputus — tapi apa yang tertangkap matanya sudah cukup. Biksu bernama Surya itu, rupanya orang macam apa.

Di dalam niskala, Dewi tengah melangkah menuju segel.

Semakin dekat, semakin kuat perlawanannya. Segel itu bereaksi. Dirancang untuk mendorong siapa pun yang mendekat. Dewi terdorong lalu mendekat lagi, berulang-ulang. Gurunya, Dayu, pernah bilang — jangan hadapi yang kuat secara frontal, cari celahnya yang lemah. Dewi mengelilingi segel itu perlahan. Satu putaran, dua putaran di dalam niskala. Dan ia menemukannya. Di satu sisi segel terdapat retakan — sangat kecil, tapi — retakan yang dibuat oleh waktu yang panjang.

Dewi menempelkan Kipas Sakti ke retakan itu dan mulai melafalkan mantra — dan seketika benda-benda hitam itu membanjiri keluar sekaligus.

Sepertinya segel merasakan bahwa Dewi telah mendekatinya. Dari celah lantai, dari sela dinding, dari suatu tempat di langit-langit, semuanya keluar bersamaan — jauh lebih banyak dari tadi.

“Makin banyak!” seru Intan.

“Hasan, melebar ke kanan. Di sana juga keluar!” kata Surya, melintas memotong ruangan.

Hasan bergeser satu langkah ke kanan sambil mempertahankan doa. Aliran doa tak terputus.

“Arya, lingkaran dipersempit tepat di sisi Dewi!” kata Surya lagi. Vajra tak berhenti bergerak saat ia bicara.

Arya mempersempit lingkaran, merapat ke sisi Dewi. Cahaya Nagaraja terkonsentrasi, lebih sempit dan lebih kuat.

“Kapan ini selesainya?” seru Intan sambil mengayunkan mandau.

“Selesai kalau Dewi sudah cabut. Sebelum itu, terus,” kata Surya, membereskan tiga sekaligus.

“Gampang sekali ngomongnya!” Intan menebas lagi.

“Memang gampang. Tinggal tutup saja kan,” kata Surya, serius.

“Ini berkumpul lagi terus!” seru Intan.

“Yang berkumpul saya yang urus. Intan pegang arahnya saja,” kata Surya.

“Arya, cahayanya bisa lebih kuat?” seru Intan.

“Sudah maksimal,” kata Arya singkat.

“Cukup,” ujar Intan, menahan sambil menggigit gigi.

“Intan, jangan goyah. Yang menuju Dewi saja yang ditahan — arah saya jangan dipikirkan,” kata Surya, melintas di atas kepala.

“Arah Bhante yang lebih banyak, bagaimana tidak dipikirkan!” seru Intan.

“Makanya saya ada di sini. Saya malah senang kalau banyak — bisa dibereskan sekaligus,” kata Surya.

Hasan mempercepat doa. Suaranya bergetar tapi tidak kehilangan tenaga. Yang tua-tua itu berlapis-lapis. Tapi selama Dewi masih di dalam, tak boleh berhenti. Saat itu Hasan berlutut. Bukan berdiri menahan — melainkan kedua lutut di lantai, kedua tangan menggenggam tasbih erat, mata tertutup. Suaranya berubah. Lebih rendah, lebih dalam, lebih berat dari tadi. Doa yang diajarkan gurunya di Banten dan disimpan sebagai amalan pribadi — jarang dipakai, tapi disimpan untuk saat yang membutuhkannya.

Doa itu memenuhi gudang. Suara mengubah ruang. Di dekat Hasan, benda-benda hitam itu meleleh. Bukan sekadar buyar — meleleh dan naik ke suatu tempat. Seperti kepahitan yang terurai.

“Di sisi Hasan benda-benda hitamnya hilang! Barusan ngapain?” seru Intan sambil mengayunkan mandau.

Hasan tak bisa menghentikan doa, tapi sekilas membuka mata lalu menutupnya lagi. Sebagai ganti jawaban, doa terus mengalir.

“Hasan sedang meleburnya. Bukan membubarkan — tapi melepaskannya. Biarkan saja. Ia sedang melakukan yang benar,” kata Surya.

Surya bergerak lebih cepat, Arya menguatkan cahaya Nagaraja. Intan menggigit gigi dan mengayunkan mandau. Keempat orang itu menjaga Dewi.

Dewi mencabut segel pertama

CATATAN