Sampul BAB 3 — Perjalanan Laut ke Palembang: lima penjaga di kapal di bawah langit berbintang

BAB3 : PERJALANAN LAUT KE PALEMBANG

BAB3/2

Mencadin di Pulau Bangka Catatan ↗

Menjelang subuh, kapal mulai melambat.

Itulah ujung Pulau Bangka. Para awak bergerak senyap, dan suara jangkar yang diturunkan bergema di geladak. Di kegelapan, garis pantai terbentang rendah dan gelap. Siluet pohon kelapa terlihat hitam di bawah bintang, dan dua-tiga titik cahaya dari kampung nelayan yang entah di mana berkedip lemah. Di atas riak laut yang tenang, ada sesuatu yang manis dan pekat mengalir dari arah darat.

“Bau usus binatang. Masih ada yang hidup juga — tercium bau ketakutan di dalamnya,” kata Intan dari sisi kapal dengan suara pelan, hidungnya berkembang-kempis. Matanya menyipit tajam.

Hasan sedang menunaikan salat Subuh di sudut geladak. Suara doanya yang pelan itu tersebar bersama angin laut subuh — dan pada saat itu, Kipas Sakti yang tersimpan di dada Dewi bergetar satu kali, kuat.

Dewi memejamkan mata setengah. Ia membaca lewat niskala. Dari arah daratan, ada sesuatu yang berkeliaran. Rasanya mirip pocong yang pernah ia lihat di gudang, tapi tidak sama. Bukan yang keluar dari segel. Ini sesuatu yang memang sudah ada sejak lama di tanah ini — lebih tua, lebih mentah, berkeliaran kelaparan.

“Kita harus turun. Ada dua wujud Mencadin di sana,” kata Dewi.

“Kami tetap di kapal,” kata para awak dengan muka tegang saling pandang.

“Baiklah. Kalau begitu turunkan perahu kecil untuk kami,” kata Surya — vajra sudah ada di tangannya.


Pulau Bangka

Kampung nelayan itu kecil. Tidak lebih dari lima belas rumah beratap daun nipah, berdempetan di atas pasir putih khas Pulau Bangka. Siang hari pasir itu pasti menyilaukan putihnya — kini hanya memantul cahaya bulan menjadi semburat kelabu. Begitu kelima orang itu menginjakkan kaki dari perahu kecil ke pantai, baunya sudah lebih dulu menyambut. Manis dan pekat, campuran bunga busuk dan jeroan binatang yang membusuk — bukan bau yang menusuk, melainkan bau yang meresap masuk.

Orang-orang kampung tidak keluar dari rumah. Hanya mengintip dari celah jendela. Satu orang tua berdiri di depan pintu, memegang sesuatu seperti jimat anyaman daun kelapa.

“Pak, ada masalah apa di sini sekarang?” tanya Intan dalam bahasa Melayu.

“Empat hari lalu ayam-ayam mati. Keesokan harinya dua ekor kambing. Kemarin subuh ada pemuda yang keluar — ditemukan tergeletak, lalu dibawa kembali ke rumah dalam keadaan buta,” kata orang tua itu, matanya bergantian memandang tato Dayak dan mandau Intan.

“Masih hidup?” tanya Hasan.

“Masih, tapi tidak sadarkan diri.”

“Sejak kapan kejadian ini mulai?” tanya Dewi.

“Ada kuburan tua di sana — sudah dua puluhan tahun. Ada yang dikubur tanpa kain kafan yang benar. Di antaranya ada orang yang memang berbuat banyak kejahatan,” kata orang tua itu, menunjuk ke arah rumpun kelapa di ujung utara kampung.

Dewi menatap ke arah rumpun kelapa itu. Matanya setengah terpejam. Dua kekuatan sedang berkeliaran di sana. Yang satu lambat — sudah lama kelaparan. Yang lain lebih cepat — sedang mencari arah.

“Ada dua. Mereka tersesat karena tidak dikubur dengan benar — kelaparan,” kata Dewi.

“Perlu dibujuk, atau diusir?” tanya Surya.

“Hasan harus doa dulu. Ini bukan seperti yang terjebak di gudang karena segel. Kalau dipanggil, saya bisa membukakan jalannya,” kata Dewi setelah membaca lebih jauh.

“Baik,” kata Hasan sambil melilitkan tasbih di tangan dan melangkah maju.

“Arya di utara, Intan di kiri Hasan. Kalau wujud itu memisah, tangani satu-satu. Saya di tengah,” kata Surya ringkas — seperti saat ia membagi posisi di atas geladak.

“Bisa pakai senjata untuk melawan wujud itu?” tanya Intan kepada Surya.

“Secara fisik tidak mempan. Tapi memblokir arah yang ingin mereka tuju — bisa. Kalau ada senjata di depannya, mereka berbalik,” kata Surya.

“Mengerti,” kata Intan sambil mencabut mandau.

“Dewi, kalau wujudnya memisah, kasih sinyal,” kata Surya kepada Dewi.

“Ya. Kalau memisah, saya bilang keras-keras,” kata Dewi.

“Hasan, teruslah berdoa sampai saya kasih tanda. Kalau berhenti, wujud itu bisa bergerak lebih cepat lagi,” kata Surya.

“Baik,” kata Hasan sambil melilitkan tasbih di kedua tangan.

Surya memindahkan vajra ke tangan kiri dan berlutut, menurunkan tangan kanannya hingga ujung jari menyentuh pasir dalam gestur Bhumisparsha Mudra10Catatan ↗ — tubuhnya bertumpu di pasir yang halus. Dari Semeru ke sini memang jauh — tapi tuah tanah ini tetap terasa.

Mencadin

Dua wujud muncul dari batas rumpun kelapa.

“Keluar,” kata Dewi pelan.

Mirip pocong, tapi tidak sama. Tidak ada kain kafan. Hanya kain lusuh berlumuran tanah, tergantung di sana-sini di tubuh wujud itu — dan sosoknya lebih kabur. Justru kekaburan itulah yang membuat bulu kuduk merinding. Tanpa batas yang jelas, tidak ada yang tahu di mana wujud itu mulai dan di mana ia berakhir. Keduanya meluncur di atas pasir tanpa suara, perlahan mendekat. Bau manis dan pekat mendahului mereka.

“Ini yang disebut Mencadin?” tanya Intan pelan sambil menyipit, mandau tetap di tangan.

“Ya, keduanya,” kata Dewi.

“Tadi di atas laut juga sudah tercium ya, baunya,” kata Intan. Bau manis dan pekat itu sudah merayap penuh di atas hamparan pasir.

Dua wujud itu memisah. Satu mengarah ke Hasan, satu lagi mulai memutar ke arah kapal.

“Yang kedua sedang menuju kapal,” kata Dewi.

“Saya yang hadang,” kata Arya — melangkah memotong antara wujud kedua dan kapal. Begitu tangan Arya menyentuh gagang Nagaraja, pegangan itu memanas di telapak tangannya. Arya bergerak ke samping sambil menjaga jarak tetap dari wujud itu — menarik perhatian wujud dari kapal ke dirinya sendiri.

Wujud itu berbalik mengarah ke Arya. Bau manis dan pekat tiba-tiba semakin pekat.

“Jangan mundur,” kata Dewi kepada Arya.

Intan memotong antara wujud pertama dan Hasan, berdiri tegak — mandau siap menghalau kalau wujud itu mendekat. Belum tentu senjata bisa melukai wujud, tapi Intan tetap berdiri di sana.

Saat itulah wujud kedua melangkah satu tindak lagi mendekati Arya.

Arya mencabut Nagaraja.

Begitu bilah keluar, Nagaraja memancarkan cahaya — tipis, tapi nyata. Cahaya keperakan mengalir menyusuri lekuk-lekuk bilah keris yang berkelok. Hanya beberapa detik — tapi wujud itu berhenti.

“Itu dia — Nagaraja bereaksi. Pertahankan,” kata Surya dengan santai.

“Begini caranya?” kata Arya — suaranya pendek dan kokoh, tapi ada sedikit kekagetan yang ikut di dalamnya.

“Cukup hadang dengan Nagaraja. Kerisnya yang akan bekerja sendiri,” kata Surya.

Wujud kedua mulai menjauh dari cahaya Nagaraja. Arya bergerak mengikuti wujud sambil mempertahankan cahaya. Keris digerakkan — wujud mundur.

“Kalau wujudnya berhenti, panggil saya,” kata Dewi kepada Arya.

“Berhenti maksudnya apa?” tanya Arya tanpa mengalihkan pandang dari wujud itu.

“Kalau ia diam di tempat, berarti sudah menemukan arahnya,” kata Dewi.

Arya mengangguk singkat.

Hasan memejamkan kedua mata dan mengatupkan tasbih di kedua tangan.

Suara doa bahasa Arab yang rendah dan dalam menyebar bersama angin laut subuh. Berbeda dengan yang ia gunakan di gudang — lebih tua nadanya. Ini dari gulungan tulisan tangan ayahnya. Hasan pernah membacanya keras-keras hanya sekali — waktu ia berusia enam belas tahun, di pagi hari ayahnya menghilang. Setelah itu tidak pernah terucap lagi. Kini ia membacanya untuk kedua kalinya, mengingat permintaan ayahnya pada pagi itu.

Suara itu rendah, tapi jernih, mengisi pantai subuh itu perlahan. Lebih rendah dari suara ombak, setinggi suara angin. Seperti meresap masuk ke dalam pasir.

“Berpengaruh. Terus,” kata Dewi singkat.

Wujud pertama berhenti dan berguncang.

Lalu pasir di bawah kaki Intan bergerak. Wujud itu naik dari bawah. Bau pekat menyembur dari pergelangan kaki Intan.

“Intan!” kata Hasan tanpa membuka mata. Doa terhenti sebentar lalu dilanjutkan.

Intan melompat mundur. Energi hitam yang naik dari bawah berhenti persis di saat suara Hasan kembali terdengar.

“Hati-hati, Intan,” kata Surya.

Intan mengambil napas dan mengangkat mandaunya kembali. Kedua tangannya tidak bergetar.

“Baik-baik saja?” tanya Hasan di sela doanya.

“Baik-baik saja,” kata Intan.

Doa Hasan kembali memenuhi pantai subuh. Kali ini lebih dalam, lebih tua nadanya.

Dewi mengangkat Kipas Sakti. Cahayanya mulai menguat — membuka jalan. Doa Hasan yang memanggil, kesadaran Dewi yang menunjukkan arah.

Wujud pertama perlahan turun — melesap ke dalam pasir, kain lusuh berlumuran tanah itu terurai dan sirna. Wujud kedua pun berhenti sejenak, lalu berbalik menghadap Hasan. Seperti akhirnya mendengar sesuatu yang sudah lama ia tunggu. Dan lenyap.

Pantai Pulau Bangka

Hamparan pasir sunyi.

“Sudah selesai,” kata Dewi. Cahaya Kipas Sakti padam.

Hasan membuka matanya. “Alhamdulillah,” bisiknya — sangat pelan, hanya untuk dirinya sendiri.

Bau manis dan pekat lenyap. Bau laut subuh kembali — asin dan jernih.

Orang tua itu menghela napas. Orang-orang yang hanya mengintip dari celah jendela mulai membuka pintu satu per satu. Seorang perempuan nelayan keluar dengan dua buah kelapa di pelukan, anak-anak mengikuti di belakangnya. Anak-anak yang baru pertama kali boleh keluar dalam empat hari.

“Lha, lapar,” kata Surya sambil menurunkan tangan dari posisi Bhumisparsha Mudra dan meregangkan badan.

“Sekarang?” Intan memandang Surya.

“Habis tenaga, perut jadi kosong.”

“Boleh saya minta kelapanya?” tanya Surya berbalik kepada perempuan nelayan itu.

“Boleh, boleh — suami saya sudah pergi mengambil yang lain, ada tiga buah lagi,” kata perempuan itu, setelah lama menatap Surya — senyum yang muncul dari tempat yang tadi masih diliputi ketakutan.

“Sudah beberapa hari tidak bisa tidur. Terima kasih,” kata perempuan itu sambil menyerahkan kelapa dan menatap Surya.

“Hal seperti ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Yang tidak dikubur dengan benar, kalau terlalu lama kelaparan, bisa berbahaya,” kata Surya sambil menerima kelapa.

“Bisa tolong tengok kuburannya lagi? Mau pastikan sudah benar dikuburnya,” kata orang tua itu kepada Surya.

“Sekarang masih gelap, sulit. Kalau sudah terang, warga kampung yang harus periksa sendiri. Kalau tidak ada kain kafan, gantikan yang baru, dan doakan. Caranya tidak masalah — cara orang Bangka sendiri pun boleh,” kata Surya.

“Terima kasih. Tapi pemuda yang buta itu — ada cara untuk menyembuhkannya?” tanya orang tua itu kepada Hasan.

“Sekarang sudah bisa pulih. Jalannya sudah dibuka — begitu matahari terbit, penglihatannya akan kembali,” kata Dewi menjawab lebih dulu untuk Hasan.

“Dari mana kalian datang?” tanya orang tua itu.

“Dari Batavia. Sedang dalam perjalanan ke Palembang,” kata Surya.

Arya menyarungkan kembali Nagaraja. Begitu keris masuk ke sarungnya, cahaya itu padam. Di telapak tangan Arya masih tersisa kehangatan.

“Cahaya kerismu tadi — sama seperti di gudang?” tanya Dewi kepada Arya dengan suara pelan.

“Sudah bersinar di gudang. Tapi tadi terasa berbeda,” jawab Arya singkat.

“Mungkin kamu mulai mengenali cara Nagaraja bereaksi. Tadi kamu berhasil menjauhkan wujud itu dari kapal,” kata Dewi menatap Arya.

“Terima kasih,” kata Arya — sangat pelan, nyaris tidak terdengar.

Dewi hampir berkata sesuatu — lalu hanya tersenyum singkat saja.


CATATAN

10) Bhumisparsha Mudra

Gestur tangan dalam ikonografi Buddhis yang berarti “menyentuh bumi”. Tangan kanan diturunkan hingga ujung jari menyentuh tanah. Postur yang konon diambil Sang Buddha tepat sebelum mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi, saat menghalau serangan pasukan Mara. Bumi dipanggil sebagai saksi atas kebajikan Buddha. Penggunaan gestur ini oleh Surya dalam adegan melawan Mencadin merupakan pengembangan fiksi, bukan petunjuk ritual keagamaan.

Baca “Bhumisparsha Mudra” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks