CATATAN NUSANTARA / 23
KULINER · BATAK TOBA · SUMATERA UTARA
Ikan Ihan Berbumbu Arsik

Ihan dalam ingatan adat
Ihan adalah sebutan setempat untuk ikan air tawar yang dalam beberapa catatan budaya Batak juga disebut jurung. Dalam konteks adat lama, ikan ini dikaitkan dengan dekke si tiho, ikan yang dipandang istimewa.
Catatan ini tidak menyamakan ihan dengan satu spesies modern secara mutlak. Nama setempat, penggunaan adat, dan pengelompokan ilmiah dapat berubah menurut daerah serta sumber.

Bumbu arsik
Arsik dikenal melalui bumbu yang meresap pada ikan: andaliman, kunyit, asam cikala, serta bumbu lain menurut kebiasaan dapur. Dalam cerita, hidangan ikan Hasan dan hidangan daging para tokoh lain sama-sama memakai andaliman, tetapi menghasilkan rasa yang berbeda.
Istilah “berbumbu arsik” dipakai untuk menjelaskan teknik dan watak rasanya; halaman ini tidak mengklaim satu resep abad ke-17 yang lengkap.
.jpg?width=1600)
Mengapa bukan ikan mas?
Ringkasan dalam Mediakom Kementerian Kesehatan menyebut ikan mas didatangkan ke Bukittinggi pada 1892 dan ke Padangsidimpuan pada 1903. Catatan ini bukan bukti bahwa ikan mas sama sekali tidak pernah ada di seluruh Sumatra sebelumnya. Karena itu, untuk BAB 4-3 yang berlatar 1683, cerita menggunakan ikan ihan dan bukan ikan mas.
