Sampul BAB4 — Palembang, Kegagalan Pertama, dan Menuju Danau Toba

BAB4 : PALEMBANG DAN JALAN KE TOBA

BAB4/3

Arwah Purba Danau Toba

Danau Toba tidak bisa disebut besar. Besar tidak cukup. Laut pun tidak cukup — laut tidak berbatas, sedangkan ini berbatas. Di keempat sisinya berdiri pegunungan yang memeluk danau seperti mangkuk raksasa yang dibuat oleh bumi untuk menampung air. Tujuh puluh empat ribu tahun lalu bumi meledak di sini dan membentuk lubang ini — dan air mengisinya, dan di tengah-tengah air itu muncul kembali sebuah pulau: Samosir.8 Cahaya malam memancar dari permukaan danau tanpa bulan pun permukaan air itu bercahaya sendiri — bukan dari pantulan bintang, tapi seperti danau itu sendiri menyimpan cahaya di dalam airnya. Udara di ketinggian sembilan ratus meter ini dingin dan tipis.

Mereka mencapai sebuah desa di tepian selatan Danau Toba dan bermalam di sana. Rumah-rumah berbentuk Rumah Bolon9 — atap kedua ujungnya runcing menjulang seperti perahu terbalik, dindingnya diukir dengan pola Gorga10 merah-hitam-putih yang mengalir dari bawah ke atas seperti kata-kata yang ditulis dalam bahasa yang hanya dibaca oleh leluhur. Tuan rumah menyambut lima orang asing itu dengan Naso Nadipaang11 — daging babi yang direbus dengan andaliman12 dan berbagai rempah hingga kuahnya menjadi kental berwarna kuning kemerahan, dan bau yang keluar dari periuknya itu memenuhi seluruh ruangan begitu tutupnya dibuka.

Para penjaga tiba di perkampungan Batak di tepi Danau Toba

"Rempah apa ini? Kuat sekali — lidahnya terasa kesemutan tapi ada bau jeruk di dalamnya. Di Jawa, Jambi, tidak ada yang seperti ini," kata Surya menerima mangkuk dengan kedua tangan.

"Andaliman. Di sini kami biasa memakainya. Masakan Batak13 tidak bisa tanpa ini," jawab perempuan desa itu.

Intan menerima bagiannya dan mengambil satu suap — dan bau andaliman yang tajam langsung memenuhi rongga hidungnya. Kuat, tapi di bawahnya ada kedalaman daging yang sudah lama dimasak, berat yang mengisi lidah dan bertahan.

"Kuat. Enak," kata Intan sambil mengunyah, singkat. Surya tertawa.

Untuk Hasan disiapkan yang berbeda. Perempuan desa itu melihat pakaian putih Hasan dan tasbihnya — dan tanpa berkata apa-apa masuk ke dapur, lalu keluar membawa ikan ihan berbumbu arsik14 — ikan air tawar setempat yang dimasak dengan andaliman, kunyit, dan asam cikala hingga bumbunya meresap sempurna ke dalam daging.

"Terima kasih," kata Hasan menerima mangkuk dan menundukkan kepala.

"Di desa kami sedikit yang Muslim, tapi nasi untuk semua sama," kata perempuan itu.

"Ikan ini pun pakai andaliman. Tapi rasanya sama sekali berbeda dari daging tadi — di daging berat, di ikan ringan. Rempah yang sama, hasil yang berbeda," kata Hasan memakan ikan sambil berbicara.

Intan mengambil satu potongan daging dari piringnya dan meletakkannya di piring Hasan — tanpa berkata apa-apa, tanpa melihat ke arah Hasan. Hasan menatap potongan daging itu — lalu ingat. Babi. Ia tidak memakannya. Tapi niat Intan ia terima.

"Terima kasih," kata Hasan pelan.

"Oh iya." Intan menoleh sebentar — lalu kembali makan. Surya mengambil potongan daging itu dari piring Hasan dan memindahkannya ke piringnya sendiri. "Saya yang tanggung jawab. Makanan tidak boleh terbuang," kata Surya sambil tertawa. Dewi mengunyah Arsiknya sambil menahan senyum. Arya memandang Dewi sekilas — dan sudut bibirnya naik sedikit, lalu turun lagi. Surya melihat itu semua tapi tidak berkata apa-apa.

Para penjaga makan bersama di Rumah Bolon

───

Malam sudah larut. Surya tertidur lebih dulu seperti biasa. Hasan memutar tasbih hingga tertidur. Dewi adalah yang terakhir memejamkan mata — tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih sejak keluar dari niskala Sungai Musi terasa berat oleh perjalanan panjang melintasi gunung. Hanya Intan yang terjaga, menatap langit-langit Rumah Bolon yang tua — ada bekas asap di sana, kayu yang gelap oleh waktu.

Sesuatu ada. Bukan suara, bukan bau. Perasaan. Ketika Manang Iban mengajarinya berburu di rimba — rimba akan memberi tahu, kalau kamu diam, rimba akan berbicara tentang apa yang ada dan di mana. Perasaan yang datang sekarang adalah jenis yang sama. Dan arahnya — danau, di luar sana.

Intan mengambil mandau dan keluar tanpa suara.

Danau Toba ada di sana. Tidak jauh dari desa. Di antara pepohonan, danau itu muncul — dan Intan berdiri diam. Di permukaan air yang bercahaya itu, di keempat sisinya pegunungan berdiri seperti penjaga yang sudah ada sejak sebelum manusia pertama menginjakkan kaki di sini. Gunung Pusuk Buhit15 berada jauh di sisi barat Samosir, tidak terlihat jelas dari tempat mereka berdiri. Penduduk desa bercerita tentang air Sipiso-piso16 yang jatuh dari tebing utara. Tempat itu masih jauh; dari tepian selatan, air terjunnya tidak terlihat dan gemuruhnya tidak terdengar.

Intan berjalan ke tepi danau. Kakinya berubah dari tanah ke pasir. Ia jongkok dan mencelupkan tangan ke dalam air — dingin. Dingin yang berbeda dari air sungai manapun yang pernah ia sentuh — ini dingin yang sudah tersimpan di kedalaman yang jauh dari matahari.

Intan membiarkan tangannya di dalam air. Air mengalir di antara lekukan-lekukan telapak tangannya.

Lalu dari dalam air — sesuatu bergerak. Bukan ikan. Ikan punya arah; ini tidak punya arah. Hanya ada, jauh di kedalaman danau, dan ia datang ke arah tangan Intan — pelan, tidak tergesa-gesa, seperti sesuatu yang sudah lama sabar menunggu.

Intan tidak menarik tangannya. Tangan yang menggenggam mandau menegang — tapi tidak mundur. Ini bukan seperti segel Palembang yang menarik ke bawah dengan paksa dan dingin. Ini datang saja. Seperti seekor hewan di rimba yang belum pernah dilihat Intan, berjalan mendekatinya. Air bergerak, dan sesuatu naik ke permukaan — tanpa bentuk, tanpa mata, tapi terasa sedang melihat.

Yang dilihatnya adalah lengan Intan. Tato Dayak — tanda perlindungan dalam kisah Intan17 yang diukir oleh Manang Iban ketika Intan berusia enam belas tahun, malam setelah Intan untuk pertama kalinya mengusir roh di rimba sendirian. Tanda perlindungan — penghubung antara dunia sekala dan alam roh. Dan sesuatu itu membaca tanda itu, diam di sana, tidak maju tidak mundur.

"Siapa kamu?" kata Intan dalam bahasa Iban, rendah dan pelan. Bukan pertanyaan seperti pertanyaan biasa.

Intan bertemu arwah purba di Danau Toba

Sesuatu itu merespons. Bukan jawaban, bukan bahasa — tapi respons. Ia tahu Intan menyapanya. Dan ia mendekat lagi, kali ini sampai hampir menyentuh lengan Intan tapi tidak menyentuh.

"Intan." Suara Surya. Intan menoleh — Surya berdiri di antara pepohonan dengan vajra di tangannya. Di sampingnya ada Dewi. Keduanya bukan baru bangun — mata mereka adalah mata orang yang sudah menunggu.

"Lihat," kata Intan menunjuk ke danau.

"Itu arwah purba,18" kata Surya memandang danau, sedikit menurunkan vajra, memejamkan mata lalu membukanya kembali dengan suara yang lebih tenang. "Sudah lama ada di sini. Bukan dari segel — ini milik danau itu sendiri. Sudah ada sejak pertama kali ada."

"Tapi ia terjebak," kata Dewi, membaca dari niskala dengan tatapan yang berat. "Ia tidak sedang menjaga — ia tidak bisa pergi. Segel menekan danau. Arwah purba ada di dalam danau, danau ditekan — jadi ia pun tidak bisa keluar. Danau adalah rumahnya, tapi danau telah menjadi penjaranya."

Tidak ada yang berkata apa-apa. Di permukaan danau, sesuatu itu masih ada — menunggu di antara tangan Intan dan kedalaman air.

"Tanya, Intan," kata Surya.

Intan kembali ke tepi danau dan mencelupkan tangannya ke air — dan sesuatu itu datang lebih cepat dari sebelumnya. Intan berbicara dalam bahasa Iban, pelan dan perlahan:

"Apa yang kamu jaga? Ada segel di dasar sana? Kamu yang menjaganya? Atau kamu juga terjebak oleh segel itu?"

Sesuatu itu merespons. Bukan dengan kata — dengan rasa. Sesuatu turun ke dada Intan, berat, tua. Bukan kesedihan — terlalu tua untuk disebut kesedihan. Bukan kemarahan — terlalu lelah untuk disebut kemarahan. Ini berat orang yang sudah lama menunggu, yang sudah lupa menunggu apa.

"Terjebak," kata Intan.

Sesuatu itu merespons lagi — berbeda kali ini. Bukan ke atas, tapi ke bawah. Ke dasar danau, ke tempat segel berakar. Dan dari sana datang sesuatu yang bukan gambar bukan peta — tapi rasa. Rasa bentuk segel, rasa bagaimana segel itu menekan danau, dari sisi mana mungkin ada retakan. Berbeda dari cara Dewi membaca niskala — ini adalah rasa. Bukan niskala, tapi tubuh. Cara yang sama dengan cara Intan pertama kali merasakan roh di rimba ketika masih kecil.

"Mengerti," kata Intan, memejamkan mata lalu membuka.

"Intan merasakan sesuatu?" tanya Surya.

"Ya."

"Merasakan segel?"

"Hampir. Tidak terlihat. Hanya rasa yang menunjuk jauh ke bagian utara danau. Tempat pastinya belum jelas," jawab Intan.

Surya memandang Intan. Sejenak ekspresi riang itu lenyap — digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam, seperti orang yang mengingat sesuatu dari masa lalu yang jauh. Tapi itu lewat dalam sekejap dan Surya sudah tersenyum lagi.

"Sudah bagus, Intan."

Ketika kembali ke dalam rumah, Hasan dan Arya sudah memandangi Surya. Keduanya tidak berkata apa-apa — tapi mata mereka adalah mata orang yang menunggu.

"Ceritanya besok. Sekarang tidur," kata Surya.

Intan berbaring dan menatap langit-langit yang sama — tapi terlihat berbeda sekarang. Tato di lengannya sudah ada sejak lama, sudah dilihat sejak berusia enam belas tahun. Dan sekarang ia tahu ada yang lain yang juga melihatnya. Ketika perjalanan ini selesai, tato ini akan punya makna yang berbeda — atau masih makna yang sama tapi lebih dalam. Intan belum tahu. Ia menurunkan lengannya dan memejamkan mata.

Pagi datang. Surya yang pertama bangun dan keluar, memandang ke arah danau.

Kabut pagi menggantung rendah di atas permukaan air. Jejak arwah purba tidak tampak — tapi ia tahu masih ada di sana. Samosir tampak di balik kabut. Di luar pandangan mereka, jauh ke utara, terletak wilayah Sipiso-piso yang disebut penduduk desa. Baru sekarang terasa betul besarnya tempat ini. Bukan laut — karena ada batasnya. Tapi batas itu adalah pegunungan, dan pegunungan itu bukan penjara — itu penjaga.

Gagal di Palembang. Tapi kegagalan itulah yang membawa mereka ke sini. Intan malam-malam pergi ke danau sendirian. Arwah purba membaca tato di lengannya. Dan dari arwah purba itu datang rasa — seperti apa bentuk segel, dari mana harus mulai.

Surya menggenggam vajra sebentar — lalu melepasnya.

Surya berjalan kembali ke Rumah Bolon, menghirup bau asap pagi yang mengepul dari arah Lapo19 di seberang jalan. Ada bau andaliman di udara pagi itu, bercampur dengan bau kayu yang dibakar — dan Surya menghirupnya sambil tersenyum.

"Bangun. Makan dulu sambil cerita. Hari ini ada yang harus kita lakukan," kata Surya masuk ke dalam Rumah Bolon.

CATATAN

8) Pulau Samosir

Pulau Samosir — Daratan besar di tengah Danau Toba yang terbentuk melalui pengangkatan sebagian lantai kaldera. Kawasan ini merupakan salah satu ruang penting bagi kehidupan dan warisan budaya Batak Toba. Pusuk Buhit dan Sianjur Mula-Mula dikaitkan dengan ingatan asal-usul Si Raja Batak dalam tradisi setempat; keyakinan itu diperlakukan sebagai ingatan budaya, bukan catatan sejarah bertanggal.

Baca “Pulau Samosir” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

9) Rumah Bolon

Rumah Bolon — Rumah adat suku Batak Toba. Atapnya yang kedua ujungnya menjulang tajam menyerupai perahu terbalik, sementara dinding dan atapnya diukir dengan pola Gorga berwarna merah, hitam, dan putih. Sebuah Rumah Bolon bisa dihuni oleh beberapa keluarga sekaligus. Tiang-tiangnya tidak menggunakan paku — semuanya terhubung dengan sistem sambungan kayu yang sudah bertahan selama berabad-abad.

Baca “Rumah Bolon” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

10) Gorga

Gorga — Ragam ukiran dan lukisan hias dalam tradisi Batak Toba, terutama pada rumah adat. Warna merah, hitam, dan putih menonjol; penafsiran warna dan motif berkaitan dengan nilai adat, perlindungan, serta pandangan kosmologis, dan tidak selalu sama dalam setiap sumber atau komunitas.

Baca “Gorga” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

11) Naso Nadipaang

Naso Nadipaang — Nama hidangan ini belum dapat dipastikan melalui sumber yang tersedia. Berdasarkan penggambarannya dalam cerita, hidangan ini diperkirakan berupa daging babi berbumbu andaliman; penafsiran tersebut bukan identifikasi nama makanan historis yang telah terbukti.

↩ Kembali ke teks

12) Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium)

Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) — Rempah beraroma sitrus yang lekat dengan kuliner Batak. Rasanya dapat memberi sensasi kebas ringan pada lidah; dalam cerita, ia menjadi ciri rasa bagi hidangan daging dan ikan.

Baca “Andaliman” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

13) Batak Toba

Batak Toba — Salah satu masyarakat Batak yang wilayah budaya dan ingatan leluhurnya berkaitan erat dengan kawasan Danau Toba. Dalam BAB 4-3, istilah ini dipakai khusus untuk latar Toba; ia tidak dimaksudkan menyamakan Batak Toba dengan seluruh masyarakat Batak yang beragam.

Hubungan adat dan kekerabatan sering dibahas melalui Dalihan Na Tolu, sebuah kerangka sosial yang dilambangkan oleh tungku berkaki tiga.

Baca “Batak Toba dan Dalihan Na Tolu” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

14) Ikan ihan berbumbu arsik

Ihan adalah sebutan setempat untuk ikan air tawar yang dalam catatan budaya Batak dikaitkan dengan konteks adat lama. Dalam adegan tahun 1683 ini, ikan ihan dimasak dengan bumbu arsik — andaliman, kunyit, dan asam cikala. Ikan mas arsik yang dikenal luas sekarang merupakan bentuk yang lebih kemudian.

Baca “Ikan Ihan Berbumbu Arsik” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

15) Pusuk Buhit

Pusuk Buhit — Gunung di tepi barat Pulau Samosir, menghadap Danau Toba. Dalam tradisi Batak Toba, Pusuk Buhit diyakini berkaitan dengan kisah Si Raja Batak dan tetap dihormati oleh sebagian masyarakat hingga kini.

Baca “Pusuk Buhit” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

16) Air Terjun Sipiso-piso

Air Terjun Sipiso-piso — Air terjun sekitar 120 meter di wilayah Tongging, Kabupaten Karo, pada tebing utara Kaldera Toba. Namanya dikaitkan dengan piso, “pisau”, karena aliran airnya tampak tipis dan tajam saat jatuh dari tebing.

Baca “Air Terjun Sipiso-piso” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

17) Kaharingan

Kaharingan — Tradisi keagamaan leluhur yang terutama berkaitan dengan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Ia tidak mewakili semua masyarakat Dayak atau seluruh tradisi Kalimantan, yang memiliki banyak bahasa dan praktik budaya berbeda.

Tato tradisional memang terdapat pada berbagai masyarakat Dayak, tetapi motif dan maknanya tidak dapat disamakan begitu saja dengan Kaharingan. Dalam BAB 4-3, tato Intan serta kemampuannya berhubungan dengan roh adalah unsur fiksi novel.

Baca “Kaharingan” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks

18) Arwah purba

Arwah purba — Dalam cerita ini, istilah yang merujuk pada entitas spiritual yang sudah ada sejak sebelum manusia pertama menghuni sebuah tempat. Berbeda dari arwah orang yang sudah meninggal — arwah purba tidak lahir dari kematian, melainkan lahir bersama tempat itu sendiri. Kesadaran danau, gunung, atau hutan seperti ini merupakan pengembangan dunia fantasi novel, bukan uraian yang mewakili seluruh tradisi Nusantara.

↩ Kembali ke teks

19) Lapo

Lapo berarti kedai atau warung dalam bahasa Batak. Dalam adegan ini, lapo digambarkan sebagai tempat makan dan berkumpul warga, dengan hidangan seperti ikan ihan berbumbu arsik. Bentuk rumah makan dan menunya pada tahun 1683 belum dapat dipastikan; penggambaran ini merupakan rekonstruksi fiksi, bukan gambaran lapo modern yang dipindahkan begitu saja ke masa lalu.

↩ Kembali ke teks