
BAB4 : PALEMBANG DAN JALAN KE TOBA
BAB4/2
Jalan Panjang Menuju Danau Toba
Pagi harinya, Thomas membantu lima orang mengatur keberangkatan dari Palembang menuju muara Sungai Musi. Di kawasan muara, kapal-kapal besar berlabuh — kapal dagang yang membawa karung lada hendak menuju Selat Malaka. Thomas menunjuk salah satunya.
"Itu kapal ke Jambi.4Catatan ↗ Lima hari sampai. Dari Jambi naik Sungai Batang Hari5Catatan ↗ ke hulu — mendekati jalan menuju dataran tinggi Minangkabau.6Catatan ↗ Dari sana jalan kaki. Itu jalan ke tanah Batak yang saya kenal; belum tentu yang paling cepat."
"Thomas, terima kasih sudah mengurus semuanya. Ini sudah jadi silaturahmi — kalau ketemu lagi, saya traktir makan," kata Surya membungkuk hormat.
"Bhante — bukan nasi. Pempek. Dari belida," jawab Thomas sambil tertawa.
"Tentu saja. Pempek juga, nasi yang lebih enak juga."
"Kita belum tahu di bagian mana danau itu segelnya berada," kata Dewi. "Yang terasa baru arahnya — ke utara."
"Orang-orang yang mencari kita di Batavia masih harus diwaspadai. Lebih baik mengikuti jalan yang sudah bisa ditunjukkan daripada mencari-cari di pelabuhan besar," kata Hasan.
Lima orang naik ke kapal dagang. Di geladak, karung lada tersusun setinggi gunung dan para awak kapal sibuk bersiap-siap berlayar. Thomas berdiri di dermaga melambaikan tangan, dan Surya membalas lambaian itu. Jangkar diangkat, layar dibentangkan — dan air cokelat muara Sungai Musi perlahan menjauh, berubah menjadi biru lautan.
Begitu kapal keluar dari muara, angin asin berhembus. Lima orang sudah akrab dengan angin ini — angin yang sama dengan yang menemani mereka berhari-hari dari Batavia ke Palembang. Intan di geladak menarik napas dalam-dalam. Kali ini berbeda — sebelah timur membentang Pulau Bangka memanjang, sehingga yang terbentang bukan lautan lepas melainkan selat sempit di antara dua daratan. Air biru Selat Bangka mengalir bersilangan dengan air cokelat yang keluar dari muara Sungai Musi, warnanya berubah perlahan.
Dewi berdiri di sisi perahu, Kipas Sakti dipeluk di dada, membaca laut.
"Niskala di sini lebih tipis. Segel Palembang yang di belakang terasa makin jauh, bebannya berkurang. Tapi ke arah utara — ada beban lain yang mulai terasa," kata Dewi pelan.
"Itu segel Toba?" tanya Hasan.
"Belum tahu. Terlalu jauh. Tapi ada," jawab Dewi.
"Berarti lima hari perjalanan ke Jambi adalah waktu istirahat untuk Dewi. Tenaga yang tersedot segel Palembang tadi masih terasa di tubuh," kata Surya.
"Terima kasih sudah diperhatikan," kata Dewi singkat.
Kapal berlayar beberapa hari ke arah utara, mengikuti pesisir timur Sumatra menuju muara Batang Hari. Siang hari matahari memanggang geladak, malam hari bintang memenuhi langit di atas Selat Bangka. Hidung Intan yang mulanya hanya memilah angin asin dan bau karung lada, setelah beberapa hari mulai menangkap bau tanah berbeda yang datang dari arah daratan.
"Baunya berbeda. Bukan tanah Palembang," kata Intan di geladak.
"Itu tanah Batang Hari yang mengalir ke laut. Lumpur dari hulu ikut terbawa sampai ke sini," jawab salah seorang awak kapal yang mendengar dan tersenyum.
───
Pada hari kelima, kapal memasuki Sungai Batang Hari. Menjelang malam mereka merapat di pelabuhan Jambi. Di kedua tepian, bentang dataran rendah masih mendominasi; pegunungan yang mereka tuju belum tampak. Di pelabuhan, rumah rakit berjejer dan perahu-perahu pengangkut lada hilir mudik — sementara dari kapal dagang yang bertambat, para pedagang Minangkabau tawar-menawar dengan suara keras menggunakan bahasa mereka sendiri.
Ketika lima orang turun ke dermaga, sebuah bangunan bertembok putih terlihat di seberang sungai. Loji VOC. Bendera Belanda berkibar di puncaknya, dan di depan pintunya berdiri dua orang prajurit Mardijker. Hasan melihat itu dan menarik kain cokelat untuk menutupi bajunya yang putih.
"Jangan dekati. Orang-orang yang mencari kita di Batavia mungkin ada juga di sini," kata Hasan pelan.
"Yang paling mencolok di antara kita adalah Bhante," kata Intan, matanya menyapu kepala Surya yang plontos dan jubah bhante-nya. "Di mana pun pergi, orang akan melihat Bhante duluan."
"Tapi saya yang paling cepat bisa menyentuh segel kalau ada yang perlu disentuh. Ada yang lebih penting dari mencolok," kata Surya ringan.
"Kalau begitu waktu Bhante lewat dekat loji VOC, biar saya yang jalan di depan. Saya kurang mencolok dari Bhante," kata Intan.
Surya mengangguk. Lima orang memutar melalui gang di belakang pelabuhan, jauh dari pandangan loji. Di belakang dermaga, perahu-perahu kecil berbaris menunggu penumpang yang hendak naik ke hulu, dan Surya menghampiri juru mudi yang paling tua di antara mereka.
"Kami mau ke dataran tinggi Minangkabau — bisa?"
"Dua minggu paling cepat, kalau sungai menyempit harus didayung melawan arus," jawab si juru mudi.
"Dua minggu lagi?" gumam Intan.
"Laut lima hari, sungai sedikitnya dua minggu, lalu masih berminggu-minggu berjalan — itu jalan yang kita tempuh ke Toba. Tapi sejak kapan kita tidak sampai ke tempat yang dituju?" kata Surya menepuk bahu Intan.
"Sampai sejauh ini belum pernah tidak sampai," kata Intan.
"Nah. Sudah cukup," kata Surya sambil berbalik ke arah juru mudi.
Batang Hari adalah sungai yang berbeda dari Sungai Musi. Lebarnya hampir sama, tapi arusnya lebih deras dan rimba di kedua tepi lebih rapat — kalau Sungai Musi mengalir lambat seperti orang tua di dataran rendah, maka Batang Hari membawa watak pegunungan sampai ke muaranya. Di atas sungai, kapal-kapal dagang hilir mudik tak henti. Yang turun ke hilir membawa kantong-kantong kecil berisi emas dari dataran tinggi Minangkabau; yang naik ke hulu membawa garam dan kain. Sebuah kapal dagang berpapasan dengan perahu mereka — dan di geladaknya seorang pedagang Minangkabau mengangkat sebuah kantong kecil berisi emas sambil tertawa memamerkan.

"Emasnya sebanyak itu?" kata Intan pelan.
"Minangkabau sudah lama dikenal sebagai tanah penghasil emas. Sejak zaman Sriwijaya emas dari sini mengalir lewat sungai ini ke seluruh dunia. Makanya VOC mengincar Jambi — sungai ini membawa emas dan lada sekaligus," kata Surya.
"Emas pun diserap segel?" tanya Intan.
"Yang dimakan segel adalah tuah tanah ini. Emas adalah tuah yang sudah membatu. Tanah yang banyak emasnya adalah tanah yang tuahnya kuat. Tempat yang disukai segel," kata Surya.
"Semua yang ada di tanah ini mengalir ke sana," kata Hasan memandangi kapal yang berlayar ke hilir.
"Sungai sedang mengajari kita. Ke mana arahnya," kata Surya.
"Dewi, di sungai ini ada yang terbaca?" tanya Arya kepada Dewi.
"Lebih ringan dari Palembang. Bukan karena tidak ada segel — tapi tuah sungai ini sendiri kuat, jadi segel tidak bisa berakar terlalu dalam. Seperti yang Bhante bilang tentang emas," jawab Dewi memandang sungai.
"Kalau begitu Toba lebih berat?" tanya Hasan.
"Jauh lebih berat. Tapi sekarang kita sudah tahu dari mana harus masuk," kata Dewi jujur.
Beberapa hari kemudian, sungai mulai menyempit. Pohon-pohon di kedua tepi saling menjalin cabang-cabangnya di atas kepala mereka membentuk terowongan hijau, dan warna air berubah makin jernih hingga kerikil di dasarnya terlihat. Udara berubah. Intan merasakannya lebih dulu — kelembaban berat Jambi perlahan luruh, berganti angin yang turun dari ketinggian, lebih dingin dan lebih segar.
"Udaranya berubah. Makin tinggi, beda dari Jambi," kata Intan sambil mencelupkan tangannya ke air yang mengalir.
Surya di belakang mendayung dengan tongkat candinya, napas mulai memberat — tubuh yang sudah dua minggu lebih di atas perahu mendapati bahwa perahu tidak melatih kaki dengan cara yang sama seperti berjalan. Keringat mengalir di dahinya.
"Kaki yang tidak dipakai akan lupa tugasnya — seperti perut yang tidak diisi akan kehilangan tenaga. Ini berlaku sama," kata Surya sambil terengah.
"Bhante membandingkan semua dengan makanan?" kata Intan dari depan sambil menoleh — dan sedikit senyum muncul di sudut bibirnya lalu hilang lagi.
"Makanan adalah perumpamaan paling tepat. Tidak ada yang lebih universal dari rasa lapar. Perut kosong — tidak ada tenaga, semua tidak bermakna. Perut kenyang — ada tenaga, semua mungkin. Kalau ada perumpamaan yang lebih tepat dari itu, tolong beritahu saya," kata Surya terengah-engah tapi tidak berhenti.
"Bhante, istirahat sebentar? Air juga perlu diisi," kata Intan. Sambil berkata begitu ia memungut sehelai daun yang menempel di punggung Surya dan menjentikkannya.
"Kalau Intan yang bilang begitu, harus istirahat," kata Surya langsung duduk di akar pohon besar.
"Bukan karena saya ingin istirahat — tapi karena Hasan yang ingin istirahat," kata Intan menoleh ke belakang sambil tersenyum tipis, dan Hasan pun tertawa.
───
Hari kelima belas, sungai tidak lagi bisa menerima perahu. Lebar sungai terlalu sempit, pohon-pohon menyentuh permukaan air dari kedua sisi, dan dasar sungai terus menyentuh lambung perahu. Juru mudi menambatkan perahu di tepi dan berkata:
"Dari sini naik ke utara lewat gunung. Ada jalan lama antara Minangkabau dan tanah Batak. Desa Minangkabau ada di sebelah sana."
Surya memandang ke arah yang ditunjuk. Di atas bukit, sebuah desa terlihat — dan yang pertama kali menangkap mata adalah atapnya. Kedua ujungnya menjulang ke langit seperti tanduk kerbau, lancip dan tegas. Rumah Gadang — rumah adat Minangkabau.6
"Dari sini jalan kaki," kata Surya kepada semua orang.
"Berapa lama?" tanya Dewi.
"Kalau jalannya baik, sekitar dua puluh hari. Kalau hujan, bisa lebih lama," jawab Surya.
"Sekitar dua puluh hari lagi?" kata Intan.
"Memang begitu. Tapi sejak kapan perahu mau berjalan untuk kita?"
Lima orang merapikan barang bawaan. Intan memasang mandau di pinggang dan lebih dulu mengamati batas rimba di depan. Arya menyentuh Nagaraja dan mengecek arah utara. Mereka masuk ke dalam rimba Sumatera.
Rimba ini berbeda. Intan merasakannya segera — rimba Kalimantan luas dan datar, pohon-pohonnya lurus menuju langit. Rimba Sumatera ini miring — karena tanahnya menanjak ke arah Pegunungan Bukit Barisan,7Catatan ↗ dan pohon-pohon memelintir akarnya masuk ke tanah yang miring. Udara berubah. Bau lumpur Jambi berkurang, digantikan bau lumut yang makin tebal dan aroma pahit kulit pohon yang tersembunyi di bawah bau dedaunan.
"Udaranya berubah lapis demi lapis. Sungai besar, lalu sungai kecil, lalu naik gunung — semuanya bau yang berbeda," kata Intan melangkah di depan membuka jalan.
Surya di belakang menopang tubuhnya dengan tongkat candi, napas memberat di tanjakan. Keringat mengalir di dahinya.
"Kaki sudah dua minggu di perahu — sekarang diminta mendaki. Kaki yang tidak dilatih akan lupa tugasnya. Seperti perut yang tidak diisi akan kehilangan tenaga," kata Surya sambil terengah.
"Bhante, semua dibandingkan dengan makanan," kata Intan dari depan — dan kali ini senyumnya bertahan sedikit lebih lama dari biasanya sebelum hilang lagi.
"Makanan perumpamaan paling tepat di dunia. Kalau ada yang lebih tepat, tolong beritahu," kata Surya tidak menyerah.
Dua puluh hari lebih mereka berjalan. Siang hari mendaki, malam hari berkemah di tepi sungai kecil atau di bawah pohon besar. Hujan datang beberapa kali — dan di hari hujan mereka berhenti, berteduh di bawah pohon atau di gubuk petani yang mereka temukan di tepi jalan. Surya membaca mantra pendek setiap pagi dan sore. Hasan tidak melewatkan salat lima waktu sekali pun.

Setelah berjalan kaki selama dua puluh hari lebih sedikit, dataran mulai meluas. Pohon-pohon makin jarang, angin makin kencang, dan tiba-tiba — di antara celah pepohonan — terlihat cahaya.
Bukan cahaya matahari.
Danau.

CATATAN
4) Kesultanan Jambi
Kesultanan Jambi — Kesultanan Islam di pesisir timur Sumatera yang menguasai muara Sungai Batang Hari. Pada abad ke-17, Jambi adalah pintu keluar bagi emas dan lada dari dataran tinggi Minangkabau ke dunia luar. VOC mendirikan loji dagang di sini sejak 1615, dan pada masa 1683 pengaruh Belanda sudah menyusup jauh ke dalam urusan perdagangan kesultanan.
5) Sungai Batang Hari
Sungai Batang Hari — Sungai terpanjang di Sumatera, sekitar 800 kilometer, berhulu di dataran tinggi Minangkabau dan bermuara di pesisir timur dekat Jambi. Sejak zaman Sriwijaya, sungai ini adalah urat nadi perdagangan yang mengalirkan emas dari pedalaman ke pelabuhan. Karena itu ia juga disebut "sungai emas."
6) Minangkabau
Minangkabau — Masyarakat yang berakar di dataran tinggi Sumatera Barat, dengan sistem kekerabatan matrilineal: garis keturunan dan keanggotaan suku mengikuti pihak ibu. Harta pusaka kaum juga berkaitan dengan garis ibu; hal ini tidak berarti semua harta pribadi diwariskan dengan cara yang sama. Penyebaran Islam dan hubungan antara agama serta adat berkembang bertahap menurut tempat dan masa. Rumusan adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah dikenal luas pada masa kemudian dan tidak dipastikan telah menjadi rumusan yang seragam pada 1683. Rumah Gadang dengan atap gonjong merupakan salah satu ciri budaya Minangkabau.
7) Pegunungan Bukit Barisan
Pegunungan Bukit Barisan — Rangkaian pegunungan yang membentang sepanjang 1.700 kilometer dari ujung utara hingga ujung selatan Sumatera, disebut "tulang punggung Sumatera." Nama ini merujuk pada jajaran bukit dan pegunungan. Hampir seluruh sungai besar Sumatera berhulu di pegunungan ini, dan untuk mencapai tanah Batak dari arah Minangkabau, pendatang harus menyeberangi punggung pegunungan ini.