
BAB4 : PALEMBANG DAN JALAN KE TOBA
BAB4/1
Palembang dan Kegagalan Pertama
Muara Sungai Musi adalah tempat di mana laut dan sungai saling mengklaim satu sama lain. Lebar muaranya sedemikian rupa sehingga kedua tepi tidak tampak dari tengah, dan di sinilah air cokelat bertemu air biru — garis batas yang terus bergeser, tak pernah tetap. Di kawasan muara, kelima penjaga meninggalkan kapal dagang yang membawa mereka dari Batavia dan berpindah ke perahu kecil untuk melanjutkan perjalanan di Sungai Musi. Perahu itu dikemudikan oleh Thomas. Thomas adalah seorang nelayan campuran keturunan Mardijker yang bertemu Surya secara kebetulan di gang pasar Batavia — ketika Surya sedang bercerita panjang lebar tentang pempek kepada siapa pun yang mau mendengar. Pria itu hafal jalur Sungai Musi seperti hafal lipatan telapak tangannya sendiri.
Tepat saat air laut berganti air sungai, Intan yang berdiri di haluan menarik napas dalam-dalam — dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan di lautan lepas. Arah. Laut luas tapi tanpa arah, sedangkan sungai tahu betul dari mana ia datang dan ke mana ia pergi. Sungai Kapuas yang dikenal Intan di Kalimantan Barat begitu luas, namun sesuatu dalam diri Intan mengenali sungai sebagai rumah — bukan laut.
"Baunya berbeda," kata Intan dari haluan. "Laut itu satu bau. Sungai ini banyak."
"Sungai ini membawa seluruh Palembang ke hilir," sahut Thomas sambil memegang kemudi. "Kalau orang tangkap ikan di hulu, baunya ikut turun. Kalau pasar bakar kayu, asapnya turun. Kalau perahu naik-turun, minyaknya turun. Sungai besar yang melewati kota besar — semua begitu."
Setengah hari lamanya mereka mendayung menyusuri Sungai Musi. Muara yang lebar perlahan-lahan menyempit, hutan bakau di kedua tepi berganti menjadi deretan rumah-rumah kecil, kemudian kampung yang makin rapat. Perahu-perahu nelayan kayu berpencar di atas air, suara anak-anak yang terjun ke sungai dan perempuan yang mencuci pakaian di tepi terdengar sayup dari jauh. Bau tanah, bau ikan, bau asap — semuanya memenuhi permukaan sungai, dan hidung Intan yang terbiasa dengan aroma rimba Kalimantan mulai memilah satu per satu lapisan bau itu dengan mata terpejam.
"Lebih banyak dari laut. Jauh lebih banyak," gumam Intan.
Palembang membentangkan dirinya. Di atas sungai berjajar Rumah Rakit1Catatan ↗ — rumah-rumah kayu yang didirikan di atas rakit bambu, bergoyang mengikuti arus setiap kali sungai bergerak, dan di atas goyang itu orang-orang memasak, mencuci, memandikan bayi. Bau ikan bakar, asap tempurung kelapa, kayu yang mengembang oleh air — semuanya menyatu dan terbawa angin sungai hingga ke sisi perahu mereka, dan hidung Intan memilah setiap lapisannya satu per satu.
Surya menengadahkan wajah ke arah asap yang mengepul dari rumah-rumah rakit itu, mengendus dengan penuh perhatian. Dewi memeluk Kipas Sakti di dadanya, membaca sungai dari lapisan niskala dengan mata yang tampak memandang ke tempat lain.
"Bhante," panggil Dewi — dan dalam satu kata itu ada beban yang lebih berat dari bau sungai mana pun, sehingga Surya langsung berpaling.
"Segel Palembang berbeda dengan yang di Batavia. Di dasar Sungai Musi ini — akarnya jauh lebih dalam."
Surya menatap air cokelat yang mengalir lambat. Sesuatu ada di bawah sana — ia sudah merasakannya sejak tadi.
"Karena ada di dasar sungai, pendekatannya pasti berbeda. Di Batavia kita masuk langsung ke gudang dan mencabutnya. Kalau di bawah air seperti ini — bagaimana caranya?"
"Harus dicoba dulu. Belum tahu apakah bisa masuk ke niskala dari atas perahu, atau harus turun ke dalam air," jawab Dewi jujur.
"Ya sudah, makan dulu. Kalau perut kosong, pikiran tidak jalan," kata Surya, berpaling dari Dewi yang masih ingin melanjutkan pembahasan soal segel. "Berabad-abad kehidupan dan perdagangan bertahan di atas sungai ini — artinya makanan di atas sungai ini pasti luar biasa. Berhari-hari di laut, dengan ikan kering sebagai bekal. Sekarang waktunya makan yang benar."

───
Begitu turun dari perahu, hidung Surya langsung bekerja. Dari dalam gang pelabuhan ada bau yang naik — bau ikan, tapi bukan amis seperti di Pasar Ikan Batavia. Ini lebih manis. Ada fermentasi di dalamnya, dan di atasnya bau goreng yang gurih, lalu bau asam dari cuka yang sedang mendidih. Surya mengikuti bau itu, dan keempat orang lainnya mengikuti Surya.
"Bhante mau ke mana?" tanya Intan.
"Mencari pempek," kata Surya tanpa berhenti melangkah. "Bhante pernah cerita, kan? Bhante pernah dengar cerita dua jam dari Bhante asal Palembang di Semeru — tentang olahan ikan yang diceritakannya dari Palembang, tentang belida dari Sungai Musi, tentang cara adonan ikan dicampur pati sagu, tentang suhu mengukusnya, tentang kapan telur dimasukkan ke dalam Telok Besak. Dua jam penjelasan. Makanan yang sudah dijelaskan selama dua jam wajib dicoba — kalau tidak, itu tidak menghormati dua jam itu."
"Dalam Islam, berbagi makanan adalah awal dari ilmu," kata Hasan sambil tersenyum. "Bhante dari Palembang itu — sedang mengajar lewat makanan."
"Nah! Hasan tepat sekali." Surya berpaling dan tertawa lebar.
Di sudut gang ada warung. Seorang perempuan tua duduk di depan kuali besar, memotong-motong pempek dengan tangan yang sudah sangat terbiasa. Di dalam kuali, Kuah Cuko mendidih — gula aren, cuka, bawang putih, cabai yang direbus bersama menghasilkan bau asam-manis-pedas sekaligus, dan di atas tampah kayu di sampingnya tersusun yang panjang-panjang, yang bulat-bulat, dan yang menggembung berisi telur. Surya berdiri di depan warung itu dan menyapa si perempuan. Perempuan itu menatap ke atas — melihat seorang bhante berbadan gempal — lalu mempersilakan duduk.
"Telok Besak dua, Adaan satu, Lenjer satu — untuk lima orang," kata Surya tanpa ragu sedikit pun.
"Bhante pesan tanpa tanya kami dulu?" kata Intan.
"Yang pertama kali makan pempek tidak boleh memilih sendiri. Harus percaya pada orang yang sudah mendengar penjelasan dua jam. Serahkan pada saya," kata Surya dengan wajah yang begitu serius sehingga Intan tidak menemukan celah untuk membantah. Hasan memutar tasbih sambil menahan senyum. Arya meletakkan tangan di Nagaraja dan duduk tanpa berkata apa-apa.
Surya membelah Telok Besak dengan sendok — telur utuh ada di dalamnya, kuah cuko sudah meresap, warnanya menguning. Ia memasukkan satu potong ke mulutnya, mengunyah, berhenti — lalu mengunyah lagi dengan perlahan seperti orang yang sedang menerima sesuatu yang sudah lama ditunggu. Bukan kilatan seperti saat makan nasi uduk. Ini lebih dalam — keheningan orang yang akhirnya mencicipi apa yang sudah dibayangkan selama bertahun-tahun.
"Wah," kata Surya. Hampir berbisik. Lalu ia mengambil potongan kedua. "Daging ikannya lembut tapi kenyal. Kuahnya manis-asam-pedas tapi jadi satu. Hari-hari di laut terbayar dalam satu piring ini."
"Kalau enak, makan lagi," kata Intan singkat. Ia mengunyah, berhenti sebentar — lalu mengambil potongan kedua. Surya memukul lututnya dan tertawa.
"Telurnya menyerap kuah — jadi rasanya berubah tiga kali dalam satu gigitan. Pertama gurih dari ikan, lalu lembut dari telur, lalu pedas dari kuah yang naik belakangan," kata Hasan sambil makan. Arya memotong satu iris Lenjer dan meletakkannya di piring Dewi tanpa berkata apa pun. Dewi menatapnya — tapi Arya sudah memandang ke depan. "Terima kasih," kata Dewi pelan.
"Bu, ikan pempek ini ikan apa?" tanya Surya sambil mengunyah.
"Tenggiri sama gabus dicampur. Kalau pakai belida lebih enak, tapi belida sekarang susah," jawab si perempuan.
"Kenapa susah?"
"VOC mengontrol perahu-perahu di sungai. Nelayan tidak bebas lagi tangkap ikan sesuka hati. Dua puluh empat tahun lalu mereka bakar kota ini — Kuto Gawang, istana kesultanan, dibakar tiga hari tiga malam. Sudah dibangun lagi, tapi Palembang yang dulu — tidak kembali."2Catatan ↗
Suara perempuan itu mengandung marah, tapi juga pasrah yang sudah lama mengendap.
"Di Banten sama," kata Hasan pelan, tasbih berhenti di tangannya. "Dalam perang melawan Sultan Ageng, Sultan Haji mendapat bantuan VOC — dan tekanan mereka atas perdagangan Banten makin kuat. Tanah ini tidak bisa lagi bebas menggunakan miliknya sendiri."3Catatan ↗
"Makan lagi. Kota dibakar pun, rasa ini tidak ikut terbakar," kata si perempuan. Ia menatap Hasan — membaca wajah pemuda Banten itu dan mengenali kemarahan yang sama — lalu mengangguk pelan dan menyodorkan satu piring lagi.
"Bu, kata-kata ibu ini harus saya sampaikan ke Bhante dari Palembang itu. Kota dibakar pun rasa tidak ikut terbakar — ini namanya Palembang," kata Surya sambil menerima piring itu dengan senyum.

───
Menjelang sore, kelima orang duduk di atas perahu kosong di tepi sungai. Sungai Musi menerima cahaya senja dan berubah menjadi merah tembaga. Di antara rumah rakit, asap dari tungku malam mulai mengepul, dan bau masakan menyebar di atas air.
"Segel di bawah sana harus diambil malam hari. Kalau siang, orang-orang di sungai akan melihat. VOC juga bisa melihat. Malam, naik perahu kecil ke tengah sungai — dari sana kita lakukan," kata Intan lebih dulu.
"Nah, Intan sudah makan pempek jadi otaknya jalan," kata Surya mengangguk.
"Tidak ada hubungannya dengan makan. Saya prajurit Dayak," jawab Intan.
"Prajurit Dayak tidak makan?" tanya Surya — tapi Intan tidak menjawab, dan Hasan tertawa kecil di sebelahnya.
"Di perahu tiga orang. Dewi masuk ke niskala, saya jaga dengan vajra di sampingnya, satu orang pegang dayung," kata Surya memaparkan rencana.
"Saya yang dayung. Saya mengerti sungai," kata Intan.
"Hasan dan saya di tepi sungai. Bacaan Hasan tadi dari tepi sungai pun sampai ke tengah — air memang penghantar suara yang baik," kata Arya singkat.
"Insya Allah bisa sampai. Di gudang Batavia saja tembus ke dalam — di sungai mungkin justru lebih jauh jangkauannya," kata Hasan.
"Seberapa kuat segel di bawah sana terasa?" tanya Arya kepada Dewi.
"Jauh lebih kuat dari yang di Batavia. Harus dicoba dulu untuk tahu pastinya. Tapi kalau bisa sampai ke dasar sungai lewat niskala — mungkin ada celah," kata Dewi.
"Kalau tidak berhasil?" tanya Intan.
"Kalau tidak berhasil, keluar. Dewi tidak boleh dipaksakan. Dewi yang utama," kata Surya memandang Intan.
"Tidak akan memaksakan diri," kata Dewi.
───
Malam itu. Sungai Musi.
Tidak ada bulan. Awan menutup langit rapat-rapat, dan Sungai Musi mengalir gelap seperti sutra hitam. Cahaya yang merembes dari dalam rumah rakit berpendar di permukaan air, bergoyang-goyang, dan dari dalamnya terdengar suara tangis bayi, percakapan orang dewasa, bau nasi yang sedang ditanak — semuanya terapung di atas air.
Tiga orang naik perahu kecil ke tengah sungai. Intan di buritan memegang dayung dengan tenang — tangannya membaca arus lewat kayu dayung, seperti membaca hutan lewat tapak kaki. Surya duduk di tengah, vajra digenggam tidak terlalu keras, tidak terlalu longgar. Dewi duduk di haluan, Kipas Sakti terbuka setengah di pangkuannya, mata mulai bergerak ke tempat yang berbeda dari tempat yang dilihat orang lain.
Hasan dan Arya di tepi sungai. Hasan sudah membuka tasbihnya, bibirnya bergerak pelan. Arya berdiri tegak di sampingnya, tangan di Nagaraja.
Di tengah sungai, perahu berhenti. Intan menurunkan jangkar kecil, lalu menggunakan dayung untuk menjaga posisi perahu terhadap arus.
"Di sini," bisik Dewi.
Kipas Sakti terbuka penuh. Dewi menutup mata — dan masuk.

Niskala di Sungai Musi berbeda dari niskala di gudang Batavia. Di gudang, masuknya seperti melangkah melewati pintu. Di sini seperti menyelam — lapisan demi lapisan, makin ke bawah makin gelap, makin berat. Dewi merasakan dasar sungai jauh di bawah, dan di sana — segel itu berakar. Bukan akar biasa. Ini akar yang sudah menancap selama puluhan tahun, yang sudah menjadi bagian dari dasar sungai itu sendiri, yang sudah menyatu dengan lumpur dan batu dan arus yang terus menerus mengalir di atasnya.
Dewi mendekati.
Segel itu merasakannya.
Sekonyong-konyong tarikan datang — bukan seperti ditarik tangan, tapi seperti arus bawah sungai yang tiba-tiba membalik arah, menarik ke bawah dengan berat yang tidak bisa dilawan dengan otot. Dewi berusaha bertahan. Kipas Sakti bergetar di tangannya yang nyata, sementara kesadarannya yang ada di niskala mulai terhisap ke arah segel.
Di tepi sungai, Hasan merasakan sesuatu berubah — ia tidak tahu apa, tapi tasbihnya berhenti berputar sendiri. Tangannya mengangkat, dan bacaan mengalir — bukan dengan suara keras, tapi dengan napas penuh yang dikirimkan ke atas air. Suara itu menyentuh permukaan sungai dan turun, dan di dalam niskala Dewi merasakannya — seperti tali yang diulurkan dari atas ke orang yang hampir tenggelam. Tarikan segel melemah sedikit — hanya sedikit, tapi cukup. Dewi melemparkan kesadarannya ke belakang, keluar dari lapisan niskala, naik ke atas.
Di perahu, Dewi membuka mata. Napasnya seperti orang yang baru muncul dari dalam air. Surya langsung menahan punggungnya. Tangan Dewi yang menggenggam Kipas Sakti gemetar, dan dari hidungnya mengalir darah tipis yang sudah sampai ke dagu. Intan menggunakan ujung lengan bajunya untuk menyeka darah Dewi — dan tangan Intan sendiri bergetar halus. Getaran yang tidak ia sadari sendiri.

"Tidak berhasil. Segel tidak bisa dicabut," kata Dewi dengan suara yang masih bergetar.
"Intan, arahkan perahu ke tepi. Sepertinya tidak bisa dipaksakan malam ini," kata Surya. Ia memandang air sungai sebentar — ekspresi riang di wajahnya lenyap, digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam, seperti orang yang sedang menghitung dengan teliti.
───
Di tepi sungai, kelima orang berkumpul. Hasan berlari mendekat dan bertanya apakah Dewi baik-baik saja. Dewi menjawab baik — tapi suaranya masih bergetar. Arya berdiri di samping Dewi tanpa berkata apa-apa, melepas baju luarnya dan menyelimutkan ke bahu Dewi. Angin sungai malam itu dingin, dan Dewi menggigil. Dewi menatap ke atas — tapi Arya sudah memandang ke sungai.
"Terima kasih," kata Dewi pelan.
"Sepertinya hari ini sulit," kata Surya kepada semua orang. "Segel Palembang jauh lebih dalam dari yang di Batavia. Dewi tidak bisa mendekatinya sendiri dari niskala — tarikannya terlalu kuat."
"Begitu saya mendekati segel, ia langsung menarik. Tidak ada celah. Yang di Batavia ada celahnya — yang ini tidak ada, dan jauh lebih kuat. Tapi ada yang saya rasakan ketika sudah dekat," kata Dewi, menahan gemetar di tubuhnya. "Segel ini terhubung dengan sesuatu di Toba. Akarnya sama. Palembang sekuat ini karena ada yang menopangnya dari Toba."
"Berarti kalau Toba dilepas dulu, yang di Palembang melemah?" tanya Hasan kepada Dewi.
"Kemungkinan besar begitu."
"Subhanallah —" Hasan berhenti sejenak, tasbih berputar di tangannya. "Kalau begitu urutannya kita balik. Toba dulu."
"Ya, itu yang masuk akal. Toba dulu, Palembang kita kembali lagi di perjalanan pulang kalau sudah ada celah," kata Surya mengangguk.
Intan memandang Sungai Musi yang gelap. Di dalam kepalanya terdengar suara gurunya, Manang Iban, dari rimba Kalimantan — kegagalan pertama adalah pelajaran. Ia menjadi persiapan untuk percobaan kedua. Intan tidak mengucapkan itu keras-keras. Tapi ia tidak merasa bahwa keputusan pergi ke Toba lebih dulu adalah keputusan yang salah.
"Bacaan Hasan dari tepi sungai tadi — sampai ke dalam niskala. Segel melemah sejenak karena itu. Kalau tidak ada itu, saya mungkin tidak bisa keluar," kata Dewi.
"Saya teringat Ayah. Saya pikir mungkin di bawah sungai ini pun ada arwah-arwah seperti Ayah yang terjebak. Jadi bacaannya menjadi lebih kuat dari biasanya," kata Hasan pelan, tasbih berputar.
"Bagus," kata Arya kepada Hasan — singkat, langsung. Arya jarang sekali mengucapkan pujian lebih dulu kepada orang lain. Hasan menatap Arya, tapi Arya sudah memandang ke sungai.
"Sudah, sekarang tidur. Semalam suntuk menatap sungai dan menyesali yang tidak berhasil — tidak ada gunanya. Tidur dulu, bangun besok, pasti ada jawaban yang lebih baik dari yang didapat dengan tidak tidur. Itu yang saya buktikan selama empat puluh tahun berlatih," kata Surya sambil berdiri.
"Kita bisa berhasil?" tanya Dewi.
"Tentu saja. Di Batavia kita berhasil. Ini bukan salah — ini mengganti urutan. Dan Dewi tadi masuk ke dalam dan keluar lagi — itu bukan hal kecil. Dari sana kita tahu segel Palembang dan Toba terhubung. Hanya itu saja sudah cukup untuk hari ini," kata Surya memandang Dewi.
Dewi menatap Surya lama. Wajah bhante setengah baya itu, perut yang sedikit buncit — tapi di balik wajah itu ada beban lima puluh tahun, dan cara orang yang tahu bagaimana membungkus beban itu agar terasa ringan.
"Ya. Gagal, tapi seperti kata Bhante," kata Dewi.
"Dan besok pagi sebelum berangkat ke Toba — saya harus makan pempek sekali lagi. Tadi lupa tanya ke ibu penjual itu di mana bisa dapat pempek dari belida asli. Lha, kok bisa kelupaan," kata Surya melangkah ke depan sambil menyesali sendiri, dan Intan memandangi punggung bhante itu lalu mengikutinya tanpa berkata apa-apa.
Arya berdiri di tepi sungai, berpikir. Tangannya menyentuh Nagaraja — dan keris itu bergetar ke arah bawah, ke arah segel di dasar sungai. Kakeknya pernah berkata, Nagaraja tidak memotong kegelapan — ia memancarkan cahaya. Kalau tersesat di dalam gelap, ikuti cahayanya. Malam ini di tepi sungai, Nagaraja hanya sempat memancarkan cahaya — tidak bisa masuk ke niskala, tidak bisa menyentuh segel. Nagaraja belum selesai.
Arya menyusul ke arah yang dituju Surya.
Lima orang — akan berangkat ke Toba esok harinya.
CATATAN
1) Rumah Rakit
Rumah Rakit — Rumah tradisional terapung khas Palembang. Dibangun di atas rakit bambu yang dipasang di atas Sungai Musi, struktur rumah kayunya naik-turun mengikuti ketinggian air. Asal-usulnya berkaitan dengan larangan bagi orang luar untuk bermukim di daratan pada masa Kesultanan Palembang Darussalam — sehingga mereka mendirikan rumah di atas air. Beberapa keluarga Palembang masih menghuni Rumah Rakit hingga hari ini.
2) Kesultanan Palembang Darussalam
Kesultanan Palembang Darussalam — kekuatan politik Islam di tepian Sungai Musi. Tahun 1659 menjadi titik perubahan setelah Kuto Gawang dihancurkan dalam konflik dengan VOC; setelahnya pusat pemerintahan dipindahkan ke Beringin Janggut. Sumber sejarah memakai penanggalan dan penekanan yang tidak selalu sama mengenai pembentukan kesultanan, sehingga rincian sejarahnya dibahas lebih hati-hati di Catatan Nusantara.
Baca “Kesultanan Palembang Darussalam” di Catatan Nusantara →
3) Kesultanan Banten
Kesultanan Banten — Kesultanan Islam di ujung barat Jawa. Dalam perang pada 1682–1683, VOC membantu Sultan Haji melawan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Campur tangan militer itu memperbesar pengaruh VOC; perjanjian penting mengenai hubungan politik dan perdagangan ditandatangani pada 1684, setelah latar awal novel. Ini adalah salah satu contoh paling awal bagaimana VOC menggunakan konflik internal kerajaan untuk memperluas kekuasaan dagangnya.