Bhumisparsha Mudra | Catatan Nusantara 11

CATATAN NUSANTARA / 11

BAB 3-2

AGAMA · SENI RUPA · SIMBOL

Bhumisparsha Mudra

Bhumisparsha mudra berarti “menyentuh bumi”: tangan kanan mengarah ke bawah, sementara tangan kiri berada di pangkuan. Dalam ikonografi Buddhis, gestur ini mengingatkan pada pencerahan Buddha dan panggilan kepada bumi sebagai saksi.
Patung Buddha dengan Bhumisparsha Mudra
Patung Buddha dengan Bhumisparsha Mudra. Foto: Veit Zahlaus, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons.

Bahasa tangan dalam seni Buddhis

Mudra adalah gestur tangan yang membantu pembaca membaca patung atau relief. National Museum of Asian Art menerangkan bahwa bhumisparsha secara harfiah berarti “menyentuh bumi”. Jari tangan kanan menunjuk ke bawah; dalam kisah Buddhis, gestur ini melambangkan pencerahan di bawah pohon bodhi.

Karena makna ini berasal dari tradisi keagamaan, ia perlu dibaca dengan hormat. Halaman ini menjelaskannya sebagai pengetahuan seni dan sejarah, bukan sebagai hiasan ataupun penyederhanaan keyakinan umat Buddha.

Patung Akshobhya dalam Bhumisparsha Mudra di Borobudur
Patung Akshobhya dalam Bhumisparsha Mudra di Borobudur. Foto: Anandajoti Bhikkhu, CC BY-SA 3.0, melalui Wikimedia Commons.

Mengapa muncul di Borobudur?

Patung Buddha di Borobudur tidak semuanya memakai gestur yang sama. Brosur resmi Borobudur mencantumkan Bhumi Sparsa Mudra sebagai salah satu posisi tangan patung Buddha. Membaca posisi tangan membantu kita memahami bahwa Borobudur menyampaikan gagasan melalui bentuk, arah, dan ikonografi, bukan hanya melalui ukuran bangunannya.

Patung Buddha dengan tangan kanan menyentuh bumi dalam koleksi museum
Patung Buddha yang dicatat sebagai karya abad ke-17 di Government Museum and Art Gallery, foto 2019. Dipakai untuk membandingkan posisi tangan; bukan arca Borobudur. Foto: Jagat321jeet, CC0, melalui Wikimedia Commons. Ditampilkan utuh tanpa pemotongan.

Membaca gestur, bukan sekadar arah jari

Tangan kanan yang turun perlu dibaca bersama sosok Buddha yang duduk dan tangan kiri di pangkuan. Patung yang berbeda dapat menyampaikan gestur serupa meskipun bahan, busana, dan gayanya berbeda. Contoh museum di sini membantu membandingkan bentuk; makna keagamaannya tetap perlu dilihat dalam tradisi masing-masing.

Hubungannya dengan BAB 3-2

Dalam BAB 3-2, Surya memakai gestur ini dalam adegan menghadapi Mencadin. Penerapannya dalam pertarungan merupakan pengembangan fiksi, bukan penjelasan tentang praktik ritual Buddhis. Catatan ini tidak menyatakan peristiwa fiksi itu benar-benar terjadi; ia memberi pembaca alat baca untuk mengenali bahasa visual dengan konteks keagamaan dan seni yang panjang.

Catatan ketelitian: penafsiran ikonografi dapat berbeda menurut tradisi Buddhis, wilayah, dan masa. Penjelasan ini memakai makna dasar “menyentuh bumi” serta konteks pencerahan, tanpa mengklaim satu tafsir berlaku bagi semua komunitas.

← Kembali ke BAB 3-2