
BAB2 : GUDANG BATAVIA
BAB2/3
Dewi Menarik Segel Pertama
Di dalam niskala, Dewi mencengkeram segel itu. Ia menarik bagian yang retak dengan kedua tangan. Segel melawan keras. Tertancap lama di tanah ini, akarnya dalam. Dewi tak mundur, melafalkan mantra lebih keras dan menarik lagi. Segel bergetar. Sekali lagi. Seluruh tubuh Dewi berkeringat. Di dalam niskala pun tangannya gemetar, tapi tak melepaskan.
Gurunya pernah berkata. Hanya orang yang merasakan kesedihan — bukan ketakutan — saat mendekati segel, yang benar-benar bisa membukanya.
Yang Dewi rasakan sekarang adalah kesedihan. Kesedihan dari yang terkurung di dalam segel ini. Kesedihan mereka yang lahir di tanah ini, mati di tanah ini, namun tak bisa kembali ke tanah ini — yang telah lama terkurung — mengalir melalui tangan Dewi. Dewi merasakan kesedihan itu dan menarik lebih kuat.
Akhirnya segel itu tercabut.

Seluruh gudang berguncang. Lantai bergetar, peti-peti kosong di rak berhamburan jatuh. Cahaya pagi yang masuk dari jendela sempit tiba-tiba menguat, dan ketika cahaya itu menyebar ke seluruh gudang, benda-benda hitam itu tak melawan — semuanya naik ke langit-langit sekaligus. Seperti pintu yang akhirnya terbuka setelah lama terkunci, mereka menembus langit-langit gudang dan berpencar entah ke mana. Yang tersisa paling akhir — menangis. Hanya Dewi yang mendengar tangisan itu. Seperti suara yang mengucapkan “terima kasih.”
Gudang menjadi terang. Udara berat yang tadi memenuhi ruangan, lenyap. Rasa dingin pun lenyap.
“Mulai ada baunya,” kata Intan, mengendus-endus.
“Bau apa?” tanya Hasan, mengusap keringat di dahi.
“Bau gudang. Bau kayu, bau barang-barang tua. Tadi tidak ada bau sama sekali — sekarang ada bau yang hidup,” kata Intan.
“Itu dia. Yang disumbat segel sudah terbuka,” kata Surya.
Dewi membuka mata dan melihat sekelilingnya. Ia duduk di lantai, Kipas Sakti ada di depannya. Keempat orang lainnya berdiri masing-masing di posisinya, semua sedang memulihkan napas. Keringat mengalir di dahi Intan, Hasan perlahan membuka mata dan meluruskan lutut untuk berdiri.
Surya menurunkan vajra, mengusap keringat di dahi dengan lengan baju, lalu melangkah menuju Dewi dan mengulurkan tangan. Dewi memegang tangan itu, dan Surya membantunya berdiri.
“Sudah?” tanya Surya.
“Sudah,” jawab Dewi. Suaranya sedikit bergetar.
“Bagus sekali, Dewi. Membuka segel pertama itu bukan hal mudah, luar biasa,” kata Surya.
Dewi memandang Surya dan tersenyum. Senyum yang masih menyimpan kelelahan di wajahnya.
“Dewi, di dalam tadi ada apa saja?” tanya Hasan pelan, memutar tasbih.
“Banyak yang terkurung. Yang mati dengan kepahitan di tanah ini sejak lama. Segel menahannya. Terakhir mereka menangis,” kata Dewi, memandang lantai gudang.
“Sudah semua pergi?” tanya Hasan.
“Sudah pergi,” kata Dewi.
Hasan sejenak menunduk. Doa singkat untuk mereka yang tak dikenal namanya.
“Dewi, setelah masuk niskala, tubuh rasanya bagaimana?” tanya Intan.
“Agak berat. Tapi tidak apa-apa,” kata Dewi.
Intan menatap Dewi sekali, lalu tidak berkata apa-apa. Itulah ekspresi Intan ketika ia khawatir.
“Di dalam niskala tadi, apa yang terlihat?” kata Arya.
“Yang terkurung itu. Lama tanpa nama di sana. Segel yang menahan — tapi di akhir, ketika saya tarik, mereka rela melepaskan. Ada kepahitan, tapi tak mau terkurung lebih lama lagi,” kata Dewi, menatap Arya sebentar sebelum melanjutkan.
“Tanpa nama?” tanya Hasan pelan.
“Sepertinya segel menutup ingatannya sekaligus. Mereka tidak tahu siapa diri mereka, tidak tahu kalau mereka ada di sana,” kata Dewi.
Sejenak hening.
“Tapi sudah pergi. Tanpa nama pun sudah pergi,” kata Surya.
Ekspresi Surya berubah sebentar. Bukan ekspresi ceria — melainkan ekspresi seseorang yang sedang mencermati sesuatu. Surya mengetuk ujung tongkat candi perlahan ke lantai gudang. Merasakannya lewat telapak kaki. Ini tanah yang segelnya baru tercabut. Ketika yang tersumbat terbuka, tanah mengirimkan sinyal — selama lebih dari empat puluh tahun berlatih di Semeru, sinyal itu sudah tak terhitung kali dirasakannya. Kalau yang tersumbat terbuka, tanah bernapas. Kecil saja, tapi pasti. Namun dari lantai gudang ini, sinyal itu tidak datang. Segel sudah dicabut, tapi tanah seperti tidak tahu — diam saja. Aneh. Surya kembali ke wajah yang tidak tahu apa-apa dan mulai mengelap vajra.
Arya melihat lantai gudang. Batu yang tadi lebih hitam kini warnanya sama dengan batu-batu lantai di sekitarnya. Bekas tempat yang lama ditinggalkan.

Kelima orang keluar dari gudang.
Batavia pagi hari. Di luar tembok Kasteel Batavia para pedagang sudah berteriak-teriak, pelayan Mardijker mengangkut air, dari perkampungan Cina terdengar suara pintu toko dibuka.
“Lapar tidak?” kata Surya.
Kelima orang menatapnya.
“Selesai bertarung itu lapar. Ayo makan, sambil makan kita bicarakan harus ke mana dari sini. Ke arah pelabuhan Sunda Kelapa ada sup daging sapi bersantan3 — sup daging sapi dengan santan, ada yang masak dari subuh di pasar pagi pelabuhan. Sambil jalan ke sana kepala juga jadi segar,” kata Surya, dengan wajah orang yang mengatakan hal yang sudah pasti.
“Itu yang pertama terpikirkan sekarang?” kata Intan, memandang Surya.
“Selalu yang pertama. Keputusan yang diambil dalam keadaan lapar bukan keputusan yang baik,” kata Surya.
Hasan membuka mulut lalu menutupnya lagi. Sulit dibantah.
“Ayo,” kata Arya, sudah melangkah duluan.
Kelima orang berjalan ke utara menelusuri Kali Besar. Begitu meninggalkan kawasan gudang, jalanan berubah. Bau gudang rempah menjauh, dan angin pagi dari atas kanal semakin terasa asin. Bau laut mendekat. Air Kali Besar mengalir menuju pelabuhan, dan di atasnya kapal-kapal kecil pengangkut barang bergerak beriringan di pagi hari. Setiap kali perahu kecil membelah arus, percikan air naik dari sisinya, bercampur dengan bau minyak kelapa dan karung beras dari atas kapal. Para pelaut saling bersahutan dalam bahasa Melayu dan Jawa yang bercampur.
“Segar,” kata Dewi, memandang sekeliling. Mungkin karena baru keluar dari udara berat dalam gudang, angin yang menyentuh wajah terasa istimewa.
“Ini bau asli kota ini. Bau lumpur Jawa, bau kelapa, bau laut — ini yang punya tanah ini. Di dekat gudang tadi semua itu tertindih,” kata Intan, berjalan sambil mengendus-endus.
“Segel juga menyumbat baunya,” kata Hasan, memandang ke arah kanal.
“Hanya di sekitar gudang. Kalau segel kuat, ia menumpulkan indera. Agar tak ada yang mendekat. Kalau tidak ada bau, makhluk hidup tidak datang,” kata Dewi sambil berjalan.
“Cerdik juga,” ujar Intan, seperti enggan mengakuinya.
“Yang cerdik itu yang pertama membuatnya. Tidak dibuat sembarangan,” kata Surya.
“Bisa tahu siapa yang membuatnya?” tanya Hasan, memandang Surya.
“Nanti. Dewi pasti melihat sesuatu dari dalam segel. Sambil makan kita dengarkan,” kata Surya.
Di sepanjang jalan di tepi kanal, pasar pagi mulai ramai. Pedagang menggelar daun pisang, penjual sate mengangkat tusuk ke atas bara, pedagang Cina mendorong gerobak tahu dan tempe. Pagi kota ini terbuka masing-masing dengan caranya. Di tepi kanal anak-anak Mardijker duduk mencelupkan kaki, dan di seberang tanggul kuli-kuli Jawa berlari menuju gudang memikul karung berat.
Surya berjalan sambil mengendus-endus. Bereaksi pada bau yang keluar dari gang. Bau lengkuas dan kunyit bercampur, bau daging mendesis di atas arang. Langkah Surya melambat setengah hitungan.
“Bukannya mau ke pelabuhan?” kata Intan, melirik Surya dari samping.
“Iya, sedang menuju ke sana,” kata Surya.
“Tadi langkahnya mau berhenti.”
“Di depan bau yang enak langkah melambat itu naluri. Kalau bahaya, berhenti kan? Saya berhenti kalau mencium yang enak. Prinsipnya sama dengan prajurit,” kata Surya, jujur.
Intan menatap Surya. Hendak membantah tapi sudah memandang ke depan lagi.
Sebuah jembatan muncul di hadapan mereka. Jembatan kayu tua yang melintasi Kali Besar — jembatan angkat bergaya Belanda, yang bagian tengahnya bisa terangkat saat perahu berlayar atau membawa muatan tinggi lewat. Sekarang dalam posisi turun, para pedagang dan kuli berlalu-lalang di atasnya dengan sibuk. Di bawah jembatan air kanal mengalir, dan jika menatap ke arah laut melalui celah pagar jembatan, siluet tiang-tiang kapal tampak menjulang di langit pagi. Tiang-tiang kapal di pelabuhan Sunda Kelapa.
“Jembatan ini bisa bergerak?” tanya Hasan, berjalan di atasnya sambil memandang ke bawah pada konstruksi yang dirancang agar bagian tengahnya bisa terangkat.
“Kalau perahu berlayar atau bermuatan tinggi lewat. Papan kayu bagian tengahnya terangkat. Setelah kapal lewat, turun lagi,” kata Arya.
“Jembatan yang minggir untuk kapal,” kata Hasan.
“Begitulah. Di pelabuhan ini, kapal yang jadi raja. Kalau kapal lewat, manusia yang menunggu,” kata Surya.
“Berarti muatan lebih didahulukan dari manusia,” kata Hasan, menatap kanal yang mengalir di bawah jembatan.
“Bagi VOC begitu. Di sini, rempah-rempah lebih mahal dari manusia,” kata Surya.
“Hampir sampai. Bau tiang-tiang kapal itu berbeda. Bau ter, bau tali — kapal yang datang dari jauh menyimpan bau lain. Entah bau rempah entah bau garam, dari mana asalnya itu tersangkut di hidung,” kata Surya, menatap tiang-tiang kapal.
Arya memandang tiang-tiang kapal itu. Nagaraja bergetar halus ke arah kapal-kapal itu. Bukan bereaksi pada kapalnya. Bereaksi pada milik tanah ini yang dibawa oleh kapal-kapal itu. Muatan yang tertumpuk di bawah tiang-tiang itu yang membuat keris bergetar. Arya merasakan getaran keris, dan merasakan pula hatinya ikut bergetar bersama.
Mendekat ke pelabuhan Sunda Kelapa, semakin ramai orang. Beragam bahasa bercampur terdengar. Melayu, Jawa, Cina, Belanda. Orang-orang dari ujung timur dan ujung barat kepulauan ini, dari Eropa, dari Cina — semua bertemu di satu pelabuhan ini. Tiang-tiang kapal VOC yang berlabuh di dermaga menjulang berderet di langit pagi. Siluet kapal-kapal yang menutup layar berdiri hitam dalam cahaya latar, dan di sekelilingnya perahu-perahu kecil sibuk mengangkut dan menurunkan muatan. Di atas air, sampan-sampan kecil4 lalu-lalang sibuk antara kapal besar dan dermaga.
Hasan lama menatap ke arah dermaga. Orang-orang yang membungkuk memanggul beban berat. Wajah Jawa, Bali, Makassar — beragam, tapi bahu yang membungkuk dan mata yang lelah sama saja.
“Pasti ada juga yang dari Banten,” kata Hasan pelan, sambil berjalan.
“Dari berbagai penjuru kepulauan ini,” kata Surya.
“Kalau segel sudah dicabut semua, apakah ada yang berubah bagi mereka?” tanya Hasan.
“Harus ada. Tersumbatnya tuah tanah ini dan membungkuknya bahu orang-orang yang hidup di atas tanah ini — itu tidak terpisah. Semoga apa yang kita lakukan sampai ke bahu mereka,” kata Surya.
Hasan memutar tasbih. Lalu meneruskan langkah.
Di pintu masuk pasar pelabuhan. Meski masih pagi buta, di atas tungku kecil panci besar sudah mendidih — dan bau kuah putih pekat naik mengikuti angin pelabuhan langsung menusuk ke hidung. Bau santan bercampur kaldu daging sapi — bau sup daging sapi bersantan. Pemilik panci adalah perempuan Jawa yang sudah tua. Daging sapi yang sudah dipotong tersusun rapi, kerupuk sudah digoreng dan disimpan dalam keranjang, ia sudah menunggu kuli-kuli dermaga sejak subuh.
“Di sini,” kata Surya, duduk dengan pasti.
Dewi duduk sambil tersenyum. Senyum yang masih menyimpan kelelahan.
“Rasanya menyenangkan kalau pergi bersama Bhante,” kata Dewi.
“Mungkin begitu,” kata Intan singkat.
“Menakutkan juga. Tempat-tempat yang harus kita tuju ke depannya. Tadi pun tidak mudah,” kata Dewi.
“Tapi harus tetap pergi,” kata Arya.
“Ya, harus pergi,” kata Dewi, menatap Arya. Mata mereka bertemu.
Arya tidak memalingkan pandangan. Dewi pun tidak. Hanya sebentar — tapi sebentar itu ada di antara mereka berdua.
Kuah sup daging sapi bersantan dituangkan ke mangkuk. Potongan daging sapi mengapung di kuah putih, daun bawang cincang dan bawang goreng ditaburkan di atasnya. Kerupuk diletakkan di atas kuah — pertama masih renyah, lalu perlahan menyerap kuah dan luruh dengan sendirinya. Surya menyendok suapan pertama dan memejamkan mata.
“Kuahnya pekat. Santannya tidak pelit. Untuk mendapat ketebalan ini harus sudah memasak dari subuh. Ibu, sudah berapa lama tungkunya?” tanya Surya pada si pemilik.
“Empat puluh tahun,” jawab si ibu, tersenyum.
“Rupanya sudah lama. Tungku empat puluh tahun itu berbeda, warna kuahnya lain,” kata Surya, mengangguk dan menyendok suapan kedua.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Surya, memandang kuah dalam mangkuknya.
“Baik-baik saja,” kata Intan, memilah daging bertulang.
“Hasan?” tanya Surya.
“Lutut agak ngilu. Terlalu lama berlutut di lantai batu,” kata Hasan.
“Kuah hangat yang paling mujarab. Tenaga kembali ke kaki,” kata Surya.
“Makanya dibawa ke sini?” kata Hasan, tersenyum.
“Setengahnya,” jawab Surya, jujur.
Sejenak hening. Sesuatu dari dalam gudang masih tertinggal di tubuh. Bau kabut hitam, getaran gudang saat segel tercabut dari akarnya, tangisan yang terdengar terakhir. Bau kuah perlahan menyapunya.
“Di dalam niskala tadi…” kata Dewi, memandang kuah dengan pelan dan jelas.
Semua menatap Dewi.
“Ini segel pertama yang kita cabut. Tetapi belum tentu yang pertama ditancapkan. Dari sini terasa jaringan yang menjalar ke tempat-tempat lain; saya belum melihat seluruhnya. Motifnya sama. Di Dieng5, di Merapi, di Bali, di Kalimantan, di Toba6Catatan ↗, di Sulawesi, di Maluku, di Papua,” kata Dewi, menghitung dengan jari.
Tak ada yang bersuara. Di atas pelabuhan Sunda Kelapa kapal berlayar lewat, seorang pelaut berteriak-teriak melintas. Pagi terus bergerak dengan sibuknya.
“Satu orang yang membuatnya?” kata Arya.
“Seperti energi satu orang. Seseorang yang sangat kuat. Dimulai dari sini lalu disebarkan ke seluruh kepulauan ini. Dan sudah tua,” kata Dewi.
Surya menyeruput kuah sekali dan menatap ke arah pelabuhan. Di balik tiang-tiang kapal VOC, langit pagi semakin terang.
“Berarti tempat yang harus kita tuju masih banyak,” kata Surya.
Sejenak hening.
“Ada Kalimantan di sana,” kata Intan. Ia memandang ke dalam mangkuknya, menyendok kuah tapi tidak diminum.
“Ya,” kata Dewi.
“Daerah hulu Sungai Kapuas?” tanya Intan. Suaranya sedikit berbeda.
“Belum pernah ke sana, jadi tidak tahu persisnya,” kata Dewi.
Intan menatap tato Dayak di lengannya — garis-garis hitam bergelombang yang melingkupi seluruh lengan. Ia memikirkan hulu Sungai Kapuas di Kalimantan Barat, memikirkan guru manang-nya. Kini ia mengerti mengapa gurunya mengirimnya ke gang ini.
“Toba itu di mana?” tanya Surya pada Hasan, pura-pura tidak tahu.
“Di tanah Batak, utara Sumatera. Pernah dengar dari guru saya. Kata beliau di sana ada danau kaldera terbesar di dunia,” kata Hasan.
“Kalau berangkat dari Banten, bagaimana cara menuju danau itu?” tanya Surya.
“Harus naik kapal ke pesisir Sumatra dulu, lalu melanjutkan perjalanan darat ke tanah Batak. Danau itu jauh di pedalaman; waktu tempuhnya bergantung pada pelabuhan tempat kita turun dan jalur yang kita pilih,” kata Hasan.
Surya mengangguk dan menyeruput kuah. Sudah pasti ia tahu jawabannya. Tapi ia membiarkan Hasan yang mengatakannya sendiri.
Hasan memutar tasbih. Ia memikirkan ayahnya. Ayah yang tidak kembali dari laut Banten. Sesuatu yang menekan dada — mungkin di laut itu pun ada yang sama. Hasan menggenggam tasbih erat. Memandang ke dalam mangkuk. Seperti hendak berkata sesuatu tapi tidak jadi diucapkan.
“Kalau segel semuanya dicabut, apa yang akan terjadi?” kata Arya.
Semua menatap Arya.
“Tuah tanah ini akan mengalir kembali. Yang tersumbat sekarang akan terbuka. Bagaimana persisnya berubah, saya pun tidak tahu. Belum pernah ada yang mencabut semuanya,” kata Surya, menyeruput kuah sekali.
Arya mengangguk dan menyendok kuah.
“Berarti kita yang pertama,” kata Intan.
“Ya, kita yang pertama,” kata Surya.
“Rasanya kalau minum kuah ini satu mangkuk lagi, ke mana pun sanggup pergi,” kata Surya.
“Saya juga,” kata Intan, memandang Surya. Mendengar itu Surya tersenyum lebar.
Alhamdulillah — kata Surya dalam hati, tanpa diucapkan. Bukan miliknya untuk diucapkan. Tapi ada sesuatu yang terasa pas: mangkuk kedua, waktu yang tepat, dan seorang prajurit Dayak yang untuk pertama kalinya hari ini bicara seperti orang yang mau melanjutkan perjalanan.
“Dua mangkuk lagi, dua mangkuk,” kata Surya pada si ibu.

Kelima orang duduk di hadapan mangkuk sup daging sapi bersantan di samping pelabuhan Sunda Kelapa. Pagi pelabuhan terbuka lebar. Kapal-kapal bergerak, kuli-kuli berlarian, bahasa-bahasa bercampur. Pelabuhan ini tidak akan pernah tahu. Tidak tahu apa yang dilakukan kelima orang ini di gudang ujung kanal tadi pagi. Tidak tahu bahwa segel pertama yang ditemukan dan dibuka oleh kelima penjaga telah tercabut.
Udara Batavia tidak berubah. Masih bau asin yang sama, bau rempah yang sama, pagi yang sama. Dewi merasakannya sambil menyendok kuah.
Surya menerima mangkuk keduanya — dan matanya hanya sekilas melirik ke arah Kasteel Batavia. Sekejap. Lalu dengan biasa-biasa saja meneguk kuah. Tak seorang pun menangkap pandangan Surya itu.
─── Bab 2 Selesai ───
CATATAN
3. Soto Betawi
Soto Betawi dikenal sebagai hidangan khas Jakarta pada masa kemudian. Adegan tahun 1683 dalam novel ini memakai sup daging sapi bersantan sebagai rekaan kuliner, bukan klaim bahwa nama, resep, atau identitas Betawi modern telah terbentuk pada masa itu. Kentang dan tomat tidak digunakan dalam adegan ini.
4. Sampan
Perahu kecil yang digunakan untuk mengangkut orang dan barang. Di Batavia, kapal besar dapat berlabuh di perairan luar, sementara perahu pengangkut membantu memindahkan muatan ke daratan melalui sungai dan kanal. Sampan merupakan salah satu jenis perahu dalam kegiatan tersebut, bukan satu-satunya sarana bongkar muat.
5. Dieng
Dataran tinggi vulkanik di Jawa Tengah bagian barat, pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut. Di sana berdiri salah satu kawasan percandian Hindu awal di Jawa, dengan pembangunan bertahap yang bermula pada akhir abad ke-7 — di antaranya Candi Arjuna, Candi Bima, dan Candi Dwarawati. Orang Jawa menyebut Dieng sebagai “tempat para dewa bersemayam,” dari kata “di hyang” dalam bahasa Jawa Kuno.
6. Danau Toba
Danau vulkanik besar di Sumatera Utara, dalam kaldera yang dibentuk oleh letusan sangat besar sekitar 74.000 tahun lalu. Kawasan Danau Toba merupakan salah satu pusat kehidupan dan warisan budaya Batak. Pulau Samosir menyimpan situs serta tradisi setempat; kisah asal-usul leluhur dan makna sakralnya perlu dibaca menurut tradisi masing-masing komunitas, bukan sebagai kepercayaan seragam seluruh orang Batak.