Kartasura 1683 | Catatan Nusantara 04

CATATAN NUSANTARA / 04

BAB 1-1

SEJARAH · TOKOH · TEMPAT

Kartasura 1683

Tahun 1683 adalah masa awal Kartasura sebagai pusat baru Mataram. Kerajaan itu baru melewati pemberontakan Trunajaya, runtuhnya pusat lama di Pleret, dan perebutan legitimasi yang menyeret VOC semakin jauh ke dalam politik Jawa.

Dari Pleret menuju Kartasura

Pemberontakan Trunajaya mengguncang Mataram pada 1670-an dan menyebabkan pusat kerajaan di Pleret ditinggalkan. Amangkurat I melarikan diri dan meninggal pada 1677. Putranya, Mas Rahmat, kemudian memerintah dengan gelar Amangkurat II.

Amangkurat II mendirikan kedaton baru di Wanakarta, yang kemudian dikenal sebagai Kartasura, dan mulai menempatinya pada 1680. Karena itu, Kartasura pada 1683 bukan ibu kota tua yang sudah mapan, melainkan pusat kekuasaan baru yang masih dibentuk setelah perang dan perpecahan.

Denah kawasan Karaton Kartasura yang menunjukkan susunan ruang bekas pusat Kesultanan Mataram
Denah Karaton Kartasura. Diagram modern berdasarkan penelitian kawasan bekas keraton. Sumber: Balai Arkeologi Yogyakarta melalui Wikimedia Commons; public domain di Indonesia.

Raja, saingan, dan bantuan VOC

Ketika Amangkurat II berusaha menegakkan pemerintahannya, Pangeran Puger juga menguasai Pleret dan mengklaim kedudukan sebagai raja. Kemenangan Amangkurat II tidak terlepas dari bantuan militer VOC. Bantuan itu membawa kewajiban politik, pembayaran, dan konsesi yang memperbesar ruang campur tangan VOC.

Namun Mataram pada 1683 tidak tepat digambarkan sekadar sebagai “koloni VOC”. Amangkurat II tetap memerintah sebagai penguasa Jawa, sementara hubungan dengan VOC berlangsung melalui utang, perjanjian, tuntutan, penolakan, dan perundingan yang terus berubah.

Apa yang dapat dibaca dari peta?

Peta berikut diterbitkan pada 1728, sekitar empat puluh lima tahun setelah latar novel. Karena merupakan sumber yang lebih muda, peta ini tidak boleh dianggap sebagai rekaman persis Kartasura tahun 1683. Meskipun demikian, peta tersebut membantu pembaca melihat letak Kartasura dalam gambaran geografis Jawa yang dibuat pada masa VOC.

Peta Kartasura dan wilayah Jawa yang diterbitkan pada 1728
Peta Kartasura, 1728. Sumber visual pasca-1683, digunakan sebagai petunjuk geografis—bukan gambaran persis keadaan pada tahun cerita. François Valentijn, Jan van Braam, dan Gerard onder de Linden; koleksi National Library Board Singapore melalui Wikimedia Commons; CC0.
Detail tembok bekas keraton Kartasura
Detail tembok di kawasan bekas keraton Kartasura, foto 31 Juli 2015. Jejak material masa kini melengkapi peta dan denah; tidak menunjukkan keadaan keraton secara utuh pada 1683. Foto: Chris Woodrich / Crisco 1492, CC BY-SA 4.0, melalui Wikimedia Commons. Ditampilkan utuh tanpa pemotongan.

Denah, peta, dan tembok adalah tiga jenis bukti

Denah menjelaskan susunan ruang, peta menempatkan Kartasura dalam wilayah yang lebih luas, dan foto tembok memperlihatkan sisa material. Ketiganya tidak merekam waktu yang sama. Menggabungkannya berguna jika pembaca tetap memperhatikan tanggal serta tujuan masing-masing sumber.

Batas sejarah dan fiksi:
Arya Kusuma, surat yang membawanya ke Batavia, Nagaraja, dan perjalanannya adalah unsur fiksi. Kartasura, Amangkurat II, dampak pemberontakan Trunajaya, dan hubungan politik dengan VOC merupakan latar sejarah.
Sumber dan bacaan lanjut

← Kembali ke BAB 1-1