
BAB1 : FAJAR BATAVIA
BAB1/1
Bau Subuh dan Lima Takdir

Batavia1 adalah kota yang dimulai dari bau.
Kali Besar2Catatan ↗ — terusan besar yang memotong lurus dari Kali Ciliwung — membagi kota dari utara ke selatan, dan di kedua sisinya berjajar gudang-gudang VOC, galangan kapal3, serta bangunan-bangunan pelabuhan seperti tembok yang kokoh berdiri. Belanda membangun terusan-terusan bergaya Amsterdam yang membelah seluruh kota seperti papan catur, namun setiap menjelang pukul tiga dinihari, bau tanah ini selalu berhasil menyelimuti semuanya.
Begitu lelang ikan di Pasar Ikan dimulai, amis melebar menyusuri terusan. Di atasnya berlapis-lapis aroma santan yang mendidih. Wangi cengkeh4Catatan ↗ dan lada yang dibawa dari jauh menyelinap di antara dinding-dinding gudang. Asap arang kelapa bercampur bau jahe merah, sereh, dan daun pandan — meresap hingga ke dalam gang. Itulah tanda hari baru dimulai di Batavia. Kota yang dibangun Belanda, namun bau subuh ini bukan milik mereka. Bau ini milik orang-orang yang telah berakar di tanah ini ribuan tahun sebelumnya — dan tidak ada tembok atau terusan yang mampu menahannya.
Di tepi barat Kali Besar, sebuah gang sempit. Di luar tembok Kasteel Batavia5, di batas antara kampung pribumi dan jalan orang Cina — sudut yang jarang dilewati patroli Belanda. Di satu sisi gang, ada sebuah warung kecil. Seorang perempuan tua membentangkan daun pisang dan menata nasi uduk di atasnya. Nasi putih matang dengan santan tersaji di atas daun, setengah telur rebus diletakkan di sampingnya, segenggam kacang goreng ditaburkan, dan sepotong tempe goreng diletakkan di atasnya. Tangannya cekatan. Tangan orang yang sudah membuat hal yang sama, di tempat yang sama, pada jam yang sama, selama puluhan tahun.
Di depan warung itu, seorang pria sedang duduk.
Kira-kira lima puluh tahun usianya — kepala yang baru dicukur memantulkan cahaya subuh dengan halus, jubah abu-abunya sedikit tegang di bagian dada karena perutnya yang agak buncit, tongkat candi6 sepanjang sekitar seratus lima puluh sentimeter bersandar di belakangnya, vajra7 berukuran sekitar dua puluh sentimeter diletakkan di atas dudukan kursi di sampingnya, dan dengan kedua tangannya ia mengangkat daun pisang itu. Keenam gelang di tongkat candi sesekali gemerincing tertiup angin subuh. Pria itu makan dengan ekspresi yang sangat serius sekaligus sangat bahagia. Seolah apa pun yang terjadi di ujung gang, bagaimana pun kabut turun di atas terusan — semuanya tak ada urusan dengannya. Baginya, hal terpenting di dunia saat ini adalah nasi ini.
“Bhante, dua lagi hari ini?” tanya perempuan penjual sambil membentangkan daun pisang.
“Nasi uduk di sini pakai tiga lembar daun pandan, bukan dua — tiga lembar. Bedanya luar biasa. Kedalaman aroma santannya berbeda. Kemarin sudah terpesona, dan sejak subuh tadi saya khawatir dua porsi saja tidak akan cukup,” kata Surya, setelah menelan nasi perlahan.
“Kok tahu saya pakai tiga lembar daun pandan?” tanya perempuan itu, heran.
“Dari hidung, dari hidung,” kata pria itu, menyentuh hidungnya sendiri dengan ibu jari dan jari telunjuk sambil tersenyum. “Kalau dua lembar, aromanya hanya berputar di permukaan. Kalau tiga lembar, meresap sampai ke sela-sela butir nasi. Terasa waktu dimakan.”

Perempuan itu terkekeh dan membungkus satu porsi nasi uduk lagi.
“Tiga puluh tahun berjualan, baru pertama kali ada yang bilang begitu.”
“Berarti saya pelanggan pertama yang beneran tahu yang muncul dalam tiga puluh tahun,” kata pria itu — dengan ekspresi yang tak memberi ruang untuk dibantah.
Namanya Surya.
Seorang bhikkhu yang datang dari lereng Gunung Semeru8 di Jawa Timur, sudah tiga hari di Batavia. Kalau ditanya mengapa datang, Surya sendiri tidak bisa menjelaskan dengan tepat. Hanya ada perasaan bahwa harus ke sini. Orang yang sudah puluhan tahun mengikuti perasaan seperti itu, kali ini pun ia lakukan hal yang sama. Membereskan barang-barang, berpamitan di tempat pertapaannya dengan anjali, lalu berjalan turun dari lereng Semeru, meneruskan perjalanan darat menuju Surabaya, dan dari sana menaiki kapal menuju Batavia. Hal pertama yang ia lakukan begitu tiba adalah mencari warung nasi uduk.
Kabut merendah di atas terusan. Di kedua sisi Kali Besar yang dibuat Belanda dengan meluruskan aliran Kali Ciliwung, berjejer gudang-gudang VOC dan bangunan galangan kapal. Kapal-kapal kargo kecil yang naik dari Sunda Kelapa9 sepanjang malam tampak hanya sebagai siluet dalam kabut. Bau yang naik dari air bukan bau Amsterdam. Bau tanah Jawa, bau nira kelapa, bau cengkeh dan lada dari jauh yang mengambang di atas air. Belanda menggali terusan di tanah ini, namun bau terusan itu tak bisa mereka ubah. Tanah ini telah menjadikan bau itu sebagai miliknya sendiri.
Di pagar terusan seberang gang, seorang pemuda bersandar. Usianya sekitar dua puluhan, mengenakan kain batik berwarna biru tua gelap — motif parang mengalir di seluruh kainnya, yang hanya boleh dipakai oleh darah raja atau bangsawan. Di bawah rambut hitam panjang yang tergerai, wajahnya yang tegas dan lurus berdiri nyata di tengah kabut subuh. Di pinggangnya ada sebuah sarung keris. Di dalam sarung itu tersimpan Nagaraja10 — keris pusaka yang diwarisi dari kakeknya. Sarung kayunya sudah lama aus mengkilap, dan postur tangannya yang bertumpu di atas sarung itu adalah postur orang yang masih merenungkan sesuatu yang sudah lama ia pikirkan.
Namanya Arya Kusuma.
Tiga hari sebelumnya ia tiba di Batavia dari Kesultanan Mataram11Catatan ↗. Ia datang karena sepucuk surat tanpa pengirim. Isinya hanya dua baris: datang ke gang Pasar Ikan di Batavia, dan datanglah pada subuh di hari pertama bulan Maret. Tak ada alasannya. Namun Arya datang. Karena kata-kata yang kakeknya ucapkan saat menyerahkan Nagaraja padanya ketika ia berusia enam belas tahun. Keris ini bukan untuk memotong kegelapan, katanya — melainkan untuk memancarkan cahaya. Kalau kau tersesat dalam gelap, ikutilah cahaya ini. Arya belum sepenuhnya mengerti kata-kata itu. Namun ada kata-kata yang bisa dipercaya meski belum dipahami. Kata-kata kakeknya adalah seperti itu, dan getaran Nagaraja adalah seperti itu. Nagaraja bergetar. Sejak tiba di Batavia, keris yang tadinya diam itu mulai bergetar untuk pertama kalinya di gang ini pada subuh hari ini. Bukan getaran yang mendeteksi ancaman. Sesuatu yang asing. Getaran yang belum pernah ia rasakan sejak memiliki keris ini. Seperti getaran yang muncul ketika seseorang akhirnya menemukan apa yang telah lama ia cari-cari — dari jarak dekat.
• • •
Dari ujung gang, terdengar derap langkah.
Seorang perempuan. Mengenakan kebaya putih tradisional Bali12, rambut hitam panjang yang diikat rapi tanpa kerudung. Di tangannya tergenggam sebuah kipas — Kipas Sakti13 — yang di tengah kabut subuh memancarkan semburat emas yang samar. Matanya berbeda. Bukan mata orang biasa. Mata yang sedang memandang gang ini sekaligus memandang sesuatu di balik gang ini. Mata seorang perantara yang membaca sekala14 — dunia yang terlihat — dan niskala — dunia roh yang tak terlihat — secara bersamaan.
Begitu masuk ke gang, ia berhenti. Memindai sekeliling sekali. Melihat bhikkhu di warung, melihat pemuda di pagar terusan, lalu memejamkan mata sebentar dan membukanya kembali. Setiap kali tiba di tempat baru, ia selalu membaca lebih dulu. Apa yang ada di sini, energi apa yang mengalir, di mana hal-hal yang tak terlihat itu berdiam.
Ida Ayu Dewi Ratna.
Datang dari Ubud, Bali. Gurunya, Dayu, sudah berpesan: pergi ke Batavia, ke gang Pasar Ikan, pada subuh di hari pertama bulan Maret.
Dewi berjalan perlahan menuju warung. Surya yang tengah menghabiskan setengah porsi nasi uduk keduanya, mendongak. Wajah yang belum pernah ia lihat, namun itu bukan urusan.

“Sudah makan?” tanya Surya.
Dewi berhenti. “Belum.”
“Duduk sini, nasi uduk di sini enak sekali,” kata Surya, menunjuk tempat di sampingnya dengan santai seolah mengajak orang yang sudah lama dikenal. “Pakai tiga lembar daun pandan. Tiga lembar. Ini sudah masuk ranah pengrajin.”
Dewi menatap Surya. Seorang bhikkhu setengah baya yang buncit sedang makan nasi uduk dua porsi dan menjelaskan pentingnya tiga lembar daun pandan kepada perempuan yang baru saja ia temui. Dengan ekspresi yang sama sekali tidak aneh. Dewi duduk, dan perempuan penjual membentangkan daun pisang.
“Dari Bali?” tanya Surya, menatap pakaian Dewi.
“Dari Ubud,” jawab Dewi.
“Ubud — ah, tempatnya pura-pura yang indah itu,” kata Surya dengan ekspresi kagum. “Dari lereng Semeru seperti saya, itu tempat yang bikin iri. Jawa Timur itu megah tapi punya keheningan tersendiri seperti pura Hindu Bali. Nasi mana yang lebih enak, nasi Bali atau nasi Jawa?”
Dewi menatap Surya. Tiga puluh detik kenal, sudah menanyakan perbandingan rasa nasi.
“Dua-duanya enak,” jawab Dewi.
“Jawaban yang tepat. Nasi tidak ada yang lebih unggul satu dari yang lain — karena ia dibuat dari tanah, angin, dan air tempat ia tumbuh. Semuanya enak,” kata Surya sambil tersenyum lebar.
• • •
Arya memandang semua itu dari sisi terusan. Bhikkhu setengah baya dan perempuan Bali duduk berdampingan makan nasi subuh. Jelas baru pertama kali bertemu. Namun tidak canggung. Lebih tepatnya — ada satu orang di sana yang tak mengizinkan kecanggungan itu terjadi. Bhikkhu itu. Orang itu bukan tipe yang memberi ruang bagi kecanggungan.
Nagaraja bergetar lebih kuat dari sebelumnya.
• • •
Lalu dua derap langkah berikutnya.
Yang masuk lebih dulu adalah seorang pria. Usianya sekitar dua puluhan, mengenakan iket kepala putih15 dan pakaian tradisional Banten16Catatan ↗. Wajahnya rapi dan hangat, matanya dalam dan jernih — mata orang yang sudah lama berdoa dan lama berpikir. Tasbih17 yang digenggamnya tidak diputar, hanya dipegang saja. Bukan tangan yang sedang berdoa — tangan yang sedang berpikir.
Tepat di belakangnya, masuk seorang perempuan. Tato tradisional Dayak18Catatan ↗ memenuhi kedua lengannya dari pergelangan hingga bahu — guratan hitam melengkung khas Kalimantan melilit seluruh lengan, dan guratan itu sendiri seperti sebuah cerita. Mandau19Catatan ↗ tersampir di pinggang, rambut diikat kencang menjadi satu. Matanya tajam — mata seorang prajurit yang memasuki gang dan dalam sekali pandang sudah mengidentifikasi seluruh penjuru. Mata tajam berpadu tato Dayak memancarkan pesona khas orang yang telah bertahan hidup di tempat-tempat yang keras.
Intan.
Datang dari suku Dayak Iban di hulu Sungai Kapuas, Kalimantan. Gurunya, seorang manang Iban, sudah berpesan: harus tiba di gang Pasar Ikan Batavia sebelum hari pertama bulan Maret.
Pria di sampingnya adalah Hasan Malik.
Seorang ulama muda dari Banten, yang datang setelah menerima surat berisi pesan yang sama dari gurunya. Keduanya bertemu pertama kali di atas kapal dari Banten ke Batavia. Hasan berdoa di geladak, Intan duduk di haluan memandangi laut. Keduanya tidak saling menegur. Baru saat hampir turun itulah mereka tahu bahwa mereka turun di gang yang sama.
Begitu masuk ke gang, hidung Intan mengembang. Aroma nasi uduk. Santan, daun pandan, dan lengkuas — ia membedakannya dengan tepat. Tanpa berhenti, ia melangkah langsung ke arah warung.
“Silakan masuk. Duduk,” kata Surya, memandang Intan.
“Anda kenal saya?” Intan berhenti dan menatap Surya.
“Baru ketemu hari ini. Tapi makan harus bersama. Kalau makan sendiri, rasanya berkurang setengah,” kata Surya.
Intan memandang Surya sejenak lagi. Seorang bhikkhu buncit memegang daun pisang dan berkata dengan tulus. Intan duduk.
Hasan berdiri di depan warung. Memandang perempuan penjual dengan sopan. “Maaf, tidak ada babi di sini?”
“Tidak ada, ini nasi santan. Mau saya kasih telur sama tempe,” kata perempuan itu sambil mempersiapkan nasi untuk Hasan.
Hasan duduk dan mengangguk hormat pada Surya. Surya memandang pakaian Hasan. “Dari Banten? Pakaiannya pakaian tradisional Banten.”
“Bagaimana Bhante tahu?” tanya Hasan, heran.
“Empat puluh tahun di lereng Semeru, segala macam peziarah datang,” kata Surya sambil tersenyum. “Orang Banten punya motif tenun yang khas di kainnya. Berbeda dengan batik Batavia. Dan orang Banten cara memakainya sedikit berbeda — lebih menekan ke depan sedikit.”
Hasan tanpa sadar menyentuh iket kepalanya. “Mengapa Bhante ada di sini?”
“Terus terang saya juga tidak tahu,” kata Surya dengan sangat jujur. “Rasanya harus ke sini, makanya datang. Alasannya nanti ketahuan di tempat. Hasan juga datang dengan alasan yang mirip, bukan?”
Hasan memandang Surya sejenak. Mata yang jernih. Mata bhikkhu ini tidak menyembunyikan apa pun.
“Mirip,” kata Hasan.
• • •
Arya memandang keempat orang itu dari pagar terusan. Bhikkhu setengah baya, perempuan Bali, pria Banten, perempuan Kalimantan — sebagian besar baru bertemu pagi itu, namun anehnya terlihat seperti satu meja yang sudah dikenal. Di ujung warung masih ada satu tempat duduk kosong. Getaran Nagaraja menguat, mengarah seperti penunjuk arah. Bukan getaran ancaman. Sesuatu seperti sinyal telah tiba.
Arya meninggalkan pagar terusan dan melangkah ke arah warung. Keempat orang mendongak.
“Duduk sini, enak di sini,” kata Surya.
Arya memandang Surya, mengangguk ringan, lalu melihat sekeliling dan duduk di ujung warung — di samping Intan, di tempat kosong yang tersisa. Perempuan penjual membentangkan daun pisang. Nasi santan ditata dengan telur rebus yang dibelah dua, kacang goreng ditaburkan.
Kelimanya — untuk pertama kalinya duduk berdampingan dan makan bersama.
Tidak ada yang bicara. Belum semua saling mengenal nama atau tahu mengapa masing-masing datang ke gang ini, dan soal apa yang akan terjadi ke depan — lebih tidak tahu lagi. Hanya makan nasi uduk di warung yang sama, di subuh yang sama, di gang yang sama. Namun anehnya itu terasa wajar. Seolah orang-orang yang sudah lama duduk seperti ini. Tidak ada kekakuan. Aroma santan mengepul dari daun pisang kelimanya dengan cara yang sama, asap arang meresap ke pakaian kelimanya dengan cara yang sama.
Surya memesan nasi uduk yang ketiga.
Intan melirik. “Tiga porsi?”
“Enak,” kata Surya, seolah-olah itu sudah menjadi jawaban yang lengkap.
Intan memandang Surya, lalu memandang perempuan penjual.
“Saya tambah satu lagi.” Pada kata-kata itu, Surya, Hasan, dan Dewi serentak menatap Intan, dan Surya tersenyum lebar.
“Nah,” kata Surya.
“Kalau enak ya makan lagi,” kata Intan, memandang ke depan dengan datar. Namun ujung bibirnya terangkat sedikit — hampir tidak kentara.
Catatan
1 · Batavia
Kota yang didirikan VOC pada 1619 di atas reruntuhan Jayakarta yang dihancurkan. Nama ini diambil dari suku Batavi, bangsa Jermanik yang mendiami wilayah Belanda di masa Romawi kuno. Di bawah Kasteel Batavia sebagai pusatnya, bagian hilir Ciliwung ditata bersama jaringan kanal, termasuk Kali Besar dan diapit gudang-gudang serta kantor dagang di kedua sisinya. Penduduk Batavia terdiri dari beragam komunitas di dalam dan di luar tembok; angka penduduk harus dibaca menurut tahun serta batas wilayah yang dihitung.
2 · Kali Besar
Terusan utama Batavia yang diluruskan dari Kali Ciliwung, membagi kota dari utara ke selatan. VOC merancangnya agar kapal-kapal kargo kecil bisa mengangkut barang langsung dari Sunda Kelapa ke jantung kota. Di kedua sisinya berdiri gudang-gudang besar dan kantor-kantor dagang yang menjadi urat nadi ekonomi koloni.
3 · Galangan Kapal
Kawasan perkapalan VOC di tepi barat Kali Besar berkaitan dengan kantor, gudang perlengkapan, serta perbaikan kapal kecil dan sedang. Perbaikan kapal besar terutama terkait dengan fasilitas di Pulau Onrust. Riwayat bangunan dan perubahan fungsi galangan tidak disamakan dengan satu tahun pendirian.
4 · Cengkeh
Rempah asal Kepulauan Maluku yang menjadi salah satu alasan utama VOC mempertahankan cengkeraman atas kepulauan ini. Pada abad ke-17, cengkeh bernilai tinggi dalam perdagangan jarak jauh; harganya berubah menurut tempat, waktu, dan keadaan pasar. Demi monopoli perdagangan rempah, VOC melakukan penindasan dan pembantaian di berbagai penjuru kepulauan ini.
5 · Kasteel Batavia
Benteng yang dibangun VOC di muara Kali Ciliwung, pusat administrasi dan militer Batavia. Di dalamnya terdapat kediaman Gubernur Jenderal, pengadilan, penjara, dan gudang. Pada 1683, benteng ini berbentuk segi empat dengan empat bastion. Benteng ini merupakan salah satu pusat pengawasan VOC, bersama pertahanan kota dan fasilitas pelabuhan.
6 · Tongkat Candi
Nama tongkat pusaka fiksi milik Surya dalam novel ini, bukan nama baku alat ritual seluruh petapa Hindu-Buddha Jawa. Tongkat candi milik Surya sepanjang sekitar seratus lima puluh sentimeter dengan enam gelang yang tergantung di ujungnya.
7 · Vajra
Dalam bahasa Sansekerta berarti ‘petir’ atau ‘berlian’. Dalam ikonografi Hindu dan ritual Buddhis, vajra dikenal sebagai atribut atau alat simbolis; pemakaiannya oleh Surya sebagai senjata melawan makhluk gaib merupakan unsur fiksi — berbentuk batang logam dengan ujung bercabang di kedua sisinya. Vajra melambangkan kebenaran yang tidak bisa dihancurkan.
8 · Gunung Semeru
Puncak tertinggi Pulau Jawa, 3.676 meter. Gunung berapi aktif di perbatasan Lumajang dan Malang, Jawa Timur. Dalam kosmologi Hindu-Buddha, gunung ini dihormati sebagai Mahameru — poros semesta tempat langit dan bumi bertemu. Surya berasal dari desa pegunungan di kawasan lereng gunung ini, dekat Senduro, dan telah bertapa di sana lebih dari empat puluh tahun.
9 · Sunda Kelapa
Nama lama pelabuhan Batavia. Pelabuhan alami yang sudah ada sejak masa Kerajaan Sunda. Pada 1619, VOC merebut pelabuhan ini dan membangun Batavia. Kali Besar adalah jalur air yang menghubungkan pelabuhan ini dengan pusat kota.
10 · Nagaraja
Bahasa Sansekerta untuk ‘Raja Ular’. Nagaraja dalam novel ini adalah keris pusaka fiksi milik Arya. Getaran, cahaya, dan kemampuan perlindungannya merupakan bagian dari dunia cerita, bukan kepercayaan yang dinyatakan berlaku bagi seluruh tradisi Jawa.
11 · Kesultanan Mataram
Kesultanan Islam yang menguasai Jawa tengah dan timur. Pada 1683, Amangkurat II bertakhta dan baru saja memindahkan ibu kota ke Kartasura. Setelah menumpas Pemberontakan Trunojoyo dengan bantuan VOC, kerajaan ini mulai menyerahkan wilayah dan hak dagang sebagai imbalannya — tanda kekuatan yang perlahan melemah.
12 · Kebaya putih
Atasan wanita tradisional yang tipis dan pas di badan, dipakai bersama sarung atau kain batik. Di Bali, kebaya putih adalah pakaian upacara dan ritual. Busana Dewi merupakan pilihan visual dalam novel, bukan bukti bahwa seluruh perempuan Bali pada 1683 berpakaian dengan model dan makna yang sama.
13 · Kipas Sakti
Benda pusaka fiksi milik Dewi: kipas berwarna emas berukuran lima puluh hingga enam puluh sentimeter. Kemampuannya bukan deskripsi alat ritual Hindu yang berlaku umum. Dikhususkan untuk membuka pintu ke niskala, mendeteksi arwah, dan bertahan terhadap serangan dari alam roh. Ia berfungsi sebagai penguat energi spiritual untuk perjalanan ke niskala.
14 · Sekala dan Niskala
Konsep inti pandangan dunia Hindu Bali. Sekala adalah dunia materi yang terlihat; niskala adalah dunia spiritual yang tak terlihat. Dalam berbagai praktik Hindu Bali, keseimbangan hubungan yang terlihat dan tidak terlihat dipandang penting. Perjalanan Dewi memasuki niskala serta kemampuan melihat arwah dalam novel adalah pengembangan fantasi, bukan kemampuan yang dinyatakan dimiliki seluruh orang Bali.
15 · Iket Kepala
Iket adalah kain yang diikat atau dililitkan sebagai penutup kepala. Iket putih Hasan merupakan pilihan busana tokoh dalam novel; bentuknya tidak dipakai sebagai bukti bahwa semua ulama Banten pada 1683 mengenakan penutup kepala yang sama.
16 · Banten
Kota pelabuhan di ujung barat Jawa. Pada abad ke-16 hingga ke-17, ia adalah pelabuhan perdagangan lada terbesar di Asia Tenggara sekaligus kesultanan Islam yang kuat. Dalam perang pada 1682–1683, VOC membantu Sultan Haji melawan Sultan Ageng Tirtayasa dan memperbesar pengaruhnya di Banten. Perjanjian penting dengan VOC ditandatangani pada 1684, setelah awal cerita ini; bantuan militer dan penandatanganan perjanjian tidak disamakan sebagai satu peristiwa.
17 · Tasbih
Untaian doa Islam, biasanya terdiri dari tiga puluh tiga atau sembilan puluh sembilan manik-manik, digunakan sambil mengulang-ulang nama Allah dalam berdoa.
18 · Dayak
Sebutan umum bagi suku-suku asli Pulau Kalimantan. Ada lebih dari dua ratus suku, antara lain Iban, Kayan, Kenyah, dan Ngaju. Tradisi rumah, kepercayaan, dan kehidupan mereka beragam; tidak semua komunitas Dayak memiliki adat atau nama kepercayaan yang sama. Kepercayaan Iban dalam cerita ini tidak disamakan begitu saja dengan Kaharingan.
19 · Mandau
Mandau merupakan senjata dan benda budaya berbilah satu yang dikenal dalam berbagai tradisi Dayak. Bentuk, hiasan, aturan pemakaian, serta makna adatnya berbeda menurut komunitas. Hubungan gaib mandau dengan Intan dalam novel adalah unsur fiksi, bukan sifat yang dinyatakan berlaku bagi semua mandau atau seluruh masyarakat Dayak.