Sampul BAB 2 — Gudang Batavia

BAB2 : GUDANG BATAVIA

BAB2/1

Gudang Batavia dan Segel Pertama

Di ujung Kali Besar1, berdirilah gudang-gudang itu.

Enam bangunan. Dibangun VOC untuk menyimpan rempah-rempah2Catatan ↗, dengan dinding batu yang tebal dan jendela yang sempit, lumut merayap di atap, dan bekas aliran waktu menggerus permukaan dindingnya seperti hujan yang membeku menjadi noda. Karena letaknya di ujung kanal, suara air selalu dekat — bersama bau yang naik dari sana: lumpur Jawa, getah kelapa, cengkeh dan lada yang datang dari jauh di lambung kapal, semua meresap ke dalam bata. Bangunan paling ujung jelas sudah lama tak tersentuh. Gembok yang tergantung di pintunya telah berkarat merah, bubuk karatnya menumpuk di lantai bawah — yang berarti tak ada yang berniat membukanya sejak lama, dan bisa jadi tak ada yang ingin membuka.

Lima penjaga tiba di kawasan Gudang VOC di Kali Besar

Intan yang pertama mencium baunya. Hidung prajurit Dayak yang tumbuh di rimba Kalimantan. Di tempat berbahaya, baunya selalu berbeda — begitu di rimba, begitu pula di sungai. Yang tersangkut di hidung Intan di depan gudang ini adalah bau sesuatu yang tua dan membusuk, bau yang keluar ketika sesuatu yang tak kasat mata dikurung terlalu lama. Intan menempelkan tangan ke mandau, lalu melirik Dewi.

“Di sini,” kata Dewi. Ia berdiri menatap gudang dengan Kipas Sakti dipeluk di dada — kulit putihnya yang jernih dibasahi cahaya pagi, sehingga tak terlihat selaras berdiri di depan bangunan reyot itu. Mata Dewi yang besar dan dalam sedang membaca. Membaca sekala — dunia yang terlihat, dan niskala — dunia roh yang tak terlihat, sekaligus. Itulah mata seorang medium.

“Apa yang ada di dalam?” tanya Intan.

Dewi memejamkan mata. Dalam sekejap ekspresinya berubah beberapa kali, lalu ketika matanya terbuka kembali, suaranya tenang dan tepat.

“Segel. Ada sesuatu dari besi, tertancap dalam-dalam di bawah lantai. Bertuliskan campuran aksara Eropa dan motif Jawa — sangat tua. Di sekitarnya banyak yang terkurung, yang belum bisa pergi dari kota ini.”

“Sangat tua?” ulang Hasan pelan, seraya memutar tasbih. Kekhawatiran menjalari mata jernihnya.

“Segel itu yang menahannya. Sudah lama, jadi sudah banyak yang menumpuk. Kita harus mencabutnya — tapi kalau kita masuk, pada awalnya mereka tak bisa membedakan kita. Tak tahu apakah kita datang untuk membebaskan atau bukan.”

“Mereka akan menyerang?” tanya Hasan.

“Mungkin begitu di awal,” jawab Dewi, lugas.

“Kata ‘mungkin’ justru lebih menakutkan,” ujar Intan, mengangkat mandau sedikit.

“Sudah berapa lama kira-kira?” tanya Intan lagi, menatap pintu gudang. Dari jarak berdiri pun udara dingin yang keluar dari sana sudah menyentuh wajahnya.

“Tidak tepat. Tapi kira-kira seusia kota ini berdiri. Itulah yang menumpuk selama waktu itu,” kata Dewi.

“Kalau begitu sudah banyak sekali,” sahut Intan, menempelkan tangan lebih rapat ke mandau.

“Kota ini berdiri tahun berapa, Bhante?” tanya Hasan, melirik Surya.

“Sekitar enam puluh tahun lalu. Tahun 1619, VOC menguasai pelabuhan ini dan membangunnya. Sebelumnya pun tanah ini sudah ada, tapi sejak itu semua berubah,” kata Surya.

“Enam puluh tahun berarti…” Hasan menghitung sesuatu dalam pikirannya.

“Banyak. Para korban yang mati di pelabuhan ini, yang pergi dengan membawa kepahitan dari tanah ini — itulah yang tertimbun di bawah segel itu,” kata Surya.

Arya tidak bersuara. Nagaraja sudah bergetar mengarah ke balik pintu gudang.

Surya menggenggam vajra dengan kedua tangan, mendengarkan percakapan itu. Tangan yang tadi makan nasi uduk empat porsi, tangan yang bersemangat membicarakan perbedaan dua dan tiga lembar daun pandan — tapi cara memegang vajra sekarang sama sekali berbeda. Bukan cara memegang nasi. Keenam gelang di tongkat candi bergemerincing tanpa angin.

“Ayo masuk. Bicara di dalam saja, berdiri di depan pintu itu sama borosnya dengan menunggu nasi uduk sampai dingin,” kata Surya.

“Bhante masih pakai perumpamaan nasi uduk sekarang?” ujar Intan, memandang Surya.

“Bukan perumpamaan, itu fakta. Kalau berdiri di luar, tak ada yang terselesaikan — persis seperti daun pandan yang aromanya menguap kalau nasinya dibiarkan dingin.” Surya berkata dengan wajah serius.

“…Masuk,” kata Arya, sudah melangkah duluan ke arah pintu.

Gembok itu diselesaikan Arya.

Arya mengambil batang besi yang tergeletak di dekat pintu dan mengungkit pengait gembok dengan kuat. Gembok berkarat itu patah tanpa suara, bubuk merahnya berhamburan — lalu pintu ditarik, dan deritannya bergema sampai ke ujung gang. Dari dalam mengalirlah udara. Dingin — meski pagi Batavia, udara yang menerobos dari dalam gudang menyimpan rasa dingin seperti yang naik dari kedalaman bawah tanah. Dan bersama udara dingin itu datanglah sesuatu yang tersangkut di hidung Intan, membuatnya mundur selangkah.

Dewi membaca segel tua di dalam Gudang Batavia

“Aneh. Bukan bau busuk — tapi tidak berbau sama sekali. Itu yang aneh. Gudang seharusnya berbau, ada kayu, ada batu, pasti ada baunya,” kata Intan.

“Segel menyedot sampai baunya. Ia tidak suka bau makhluk hidup,” kata Dewi.

“Tidak suka bau makhluk hidup?” ulang Hasan.

“Makanya begitu kita masuk, langsung dikenalinya. Karena yang datang ini berbau,” kata Dewi.

“Berarti begitu kita masuk, semuanya langsung keluar?” tanya Intan.

“Mungkin begitu,” jawab Dewi, tenang.

“Kata ‘mungkin’ itu yang bikin lebih takut,” ujar Intan, mengangkat mandau ringan.

Surya masuk duluan. Tongkat candi di tangan kiri, vajra di tangan kanan — punggungnya yang melangkah ke dalam kegelapan itu terlalu tenang dan kokoh untuk dianggap milik biksu paruh baya yang perutnya agak buncit. Keempat orang sisanya mengikuti.

“Gelap,” kata Hasan begitu masuk.

“Mata akan terbiasa. Cahaya yang masuk lewat jendela sudah cukup,” kata Surya.

“Langit-langitnya tinggi. Berapa banyak cengkeh yang mereka tumpuk sampai perlu membangun setinggi ini,” kata Intan, mendongak.

“Banyak sekali. Semua yang dikumpulkan dari kepulauan ini melewati sini sebelum pergi ke Eropa. Itu selama puluhan tahun,” kata Surya.

Dewi sedang membaca ruang dalam gudang itu. Rak-rak kayu kosong berjejer di sepanjang dinding, di satu sudut tumpukan peti kosong — dan sisa aroma cengkeh, pala, lada yang pernah memenuhi ruangan ini bertahan seperti arwah di antara celah bata. Lantainya batu. Tapi bagian tengah lantai berbeda. Warnanya berbeda tipis — perbedaan yang tak akan tampak di mata orang biasa, tapi terbaca jelas di mata Dewi. Batu di tengah itu sedikit lebih hitam.

“Di sana,” kata Dewi, menunjuk lantai tengah.

Arya melihat. Nagaraja bergetar kuat ke arah itu — bukan getaran yang mendeteksi ancaman. Ini getaran seperti menemukan sesuatu yang sama di dalam kegelapan, getaran yang saling mengenali. Arya merasakan getaran di tangannya tanpa berkata apa-apa.

“Dewi masuk ke niskala dan mendekati segel. Hasan di sebelah kiri, Intan dan Arya jaga Dewi dari sekitarnya. Kalau segel merasakan ada yang mendekat, yang terkurung di dalamnya akan membanjir keluar. Harus ditahan sampai Dewi selesai,” kata Surya, berdiri di tengah-tengah kelima orang.

“Bhante sendiri?” tanya Hasan.

“Arah yang tersisa biar saya yang tangani. Tempat luas itu yang paling enak, lebih leluasa bergerak,” kata Surya, mengangkat vajra sambil tersenyum.

“Bhante menanggung semua empat arah sendirian,” kata Intan.

“Kalau empat arah terbuka, saya paling bisa bergerak. Kalau sempit, agak sesak. Makan pun saya tidak suka duduk di pojok,” kata Surya.

“Bhante masih soal makan sekarang?” kata Intan.

“Cara fokus orang beda-beda,” kata Surya, sama sekali tak terlihat malu.

“Dewi, sudah mulai?” kata Arya.

Dewi melihat lantai tengah. Batu di tengah itu sedikit lebih hitam dari tadi.

“Sudah mulai. Harus cepat masuk,” kata Dewi.

Dewi berjalan perlahan ke tengah lantai dan duduk. Pertama ia memegang Kipas Sakti dengan kedua tangan, meletakkan kedua tangan itu di atas lutut, memejamkan mata, menyeimbangkan napas — lalu mulai melafalkan mantra. Kesadaran Dewi turun menembus lantai. Tubuhnya masih di gudang, tapi pikiran sang medium tengah perlahan tenggelam menuju kegelapan segel tua itu.

Lima penjaga bersiap melindungi Dewi di dalam Gudang Batavia

CATATAN

1. Kali Besar

Kanal utama Batavia. Dibuat dengan meluruskan Kali Ciliwung antara tahun 1631–1632, dengan gudang-gudang VOC, galangan, dan kantor dagang berjejer di kedua sisinya. Kanal ini membentang dari pelabuhan Sunda Kelapa ke selatan kota, dan perahu-perahu kecil mengangkut muatan antara pelabuhan dan gudang melaluinya. Orang Belanda menyebutnya “de Groote Rivier.”

↩ Kembali ke teks

2. Pakhuizen

Deretan gudang penyimpanan rempah VOC di ujung Kali Besar. Dindingnya tebal dari batu, jendelanya sempit, dirancang untuk menyimpan cengkeh, pala, dan lada sebelum dikirim ke Eropa. Kompleks Gudang Barat mulai dibangun pada 1652 dan diperluas pada masa-masa berikutnya. Rahasia yang tersembunyi di gudang dalam episode ini adalah bagian dari cerita fiksi, bukan keterangan sejarah tentang seluruh kompleks gudang.

Baca “Pakhuizen Batavia” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks