
Apa itu Parigi Rante?
Parigi berarti sumur, sedangkan rante berarti rantai. Kini Parigi Rante dikenal sebagai monumen dan ruang ingatan di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah. Monumen ini menghubungkan lanskap Banda Neira masa kini dengan tragedi penaklukan VOC pada 1621.
Parigi Rante berada tidak jauh dari Benteng Nassau. Kedekatan inilah yang membuat sumur, benteng, dan tempat eksekusi para pemimpin Banda sering muncul dalam satu rangkaian cerita sejarah. Namun, kedekatan geografis tidak otomatis membuktikan bahwa setiap peristiwa berlangsung tepat di bibir sumur.

Apa yang pasti terjadi pada 1621?
VOC di bawah Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Kepulauan Banda untuk memaksakan monopoli pala dan fuli. Penduduk asli Banda dibunuh, ditawan, diperbudak, dideportasi, atau melarikan diri. Sejumlah pemimpin yang dikenal sebagai Orang Kaya dieksekusi di kawasan Benteng Nassau pada 8 Mei 1621. Kehancuran masyarakat Banda bukan hanya satu adegan eksekusi, melainkan rangkaian kekerasan yang mengubah penduduk, perdagangan, dan kehidupan kepulauan itu.
Mengapa jumlahnya berbeda?
Pembaca dapat menemukan angka 40, 44, atau angka lain. Perbedaan itu muncul karena sumber tidak selalu menghitung kelompok yang sama dan karena ingatan peringatan berkembang melalui waktu. Ada sumber yang membedakan pemimpin utama, Orang Kaya, imam, serta tokoh lain; ada pula monumen yang memuat daftar nama tertentu. Karena itu, angka dalam novel harus dibaca bersama catatan mengenai ketidakseragaman sumber.
Beberapa penuturan menyatakan jenazah korban dibuang ke sumur yang kemudian dikaitkan dengan Parigi Rante. Penuturan lain lebih berhati-hati dan menempatkan Parigi Rante terutama sebagai monumen pengingat pembantaian. Catatan ini tidak memilih satu tradisi sebagai kepastian mutlak ketika bukti yang tersedia belum seragam.

Sejarah, ingatan, dan fiksi
Pembantaian dan penghancuran masyarakat Banda pada 1621; eksekusi para pemimpin Banda di kawasan Benteng Nassau; keberadaan Parigi Rante sebagai tempat dan monumen ingatan.
Pieter van der Berg, air sumur yang merah bercahaya, ribuan arwah yang disedot ke dalam sumur, paku gaib, dan jaringan segel yang menghubungkan sumur dengan laut.
Novel memakai tempat nyata sebagai pintu masuk menuju fantasi. Karena itu, suasana gaib dalam Prolog 02 tidak boleh dianggap sebagai kesaksian sejarah atau kepercayaan tunggal masyarakat Banda.

- Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX — Perk dan Perkeniers di Kepulauan Banda
- Kantor Bahasa Maluku — Kepulauan Banda
- Wikimedia Commons — koleksi foto Parigi Rante
- Wikimedia Commons — koleksi Benteng Nassau
Prinsip pembacaan: tragedi 1621 diperlakukan sebagai fakta sejarah; rincian yang berbeda antar-sumber dinyatakan sebagai perbedaan; unsur segel dan arwah dinyatakan sebagai fiksi.
