
PROLOG : KEPULAUAN BANDA, 1621
PROLOG/2
Parigi Rante dan Segel Pertama
Malam turun setelah eksekusi 8 Mei 1621.
Para penyintas bersembunyi ke dalam rimba, ke balik batu-batu di tepian pantai. Para tentara bayaran menyisir setiap sudut pulau, namun tidak masuk ke dalam rimba yang gelap di malam hari.
Di alun-alun depan Benteng Nassau — di tanah yang darahnya belum kering — sesuatu mulai mengembang naik dari bumi. Bukan asap. Bukan kabut. Bukan cahaya, bukan pula kegelapan. Yang tadinya hanya sebesar telapak tangan perlahan membesar menjadi setinggi tubuh manusia, lalu berjumlah empat puluh empat — tepat sama dengan bilangan Orang Kaya yang dieksekusi. Tidak berbentuk. Mencoba mengambil wujud lalu buyar, berkumpul lagi lalu buyar kembali. Namun di sana ada kehendak — kehendak mereka yang belum sanggup meninggalkan tanah ini. Seperti orang-orang yang semasa hidup duduk berunding bersama, seperti orang-orang yang hingga detik terakhir sebelum mati saling menggenggam tangan — mati pun mereka tetap bergerak saling mendekat.
───
Di luar alun-alun itu, dari berbagai penjuru jalan, lebih banyak lagi yang mengembang ke atas. Bukan hanya empat puluh empat itu. Arwah-arwah mereka yang terbantai hari itu — dari dalam rumah-rumah yang padam apinya, dari sela-sela perahu yang terempas terbalik, dari atas pasir di tepi pantai — satu per satu, sepuluh-sepuluh, ratusan demi ratusan mulai bangkit. Malam Banda dipenuhi orang-orang mati. Justru karena mereka tidak mengeluarkan suara, hawa itu terasa kian mencekam. Di pulau yang tinggal menyisakan suara deburan ombak, ribuan kehendak mengapung tanpa arah.
Seorang nenek hadir di sana. Ia adalah istri Orang Kaya paling tua di antara mereka yang dieksekusi — perempuan yang bersembunyi di balik batu dan menyaksikan suaminya dieksekusi dengan mata kepalanya sendiri. Perempuan itu merangkak keluar di kegelapan malam dan berjongkok di depan bambu yang menancap kepala suaminya, lalu mulai melafalkan doa dengan kedua tangan terkatup — doa tradisional Banda, yang telah turun-temurun ribuan tahun, doa agar arwah orang yang mati bisa menyeberangi lautan dan kembali kepada leluhurnya. Ketika doa itu meresap ke dalam udara, wujud-wujud di alun-alun bereaksi. Sejenak bentuk mereka hampir terlihat. Wajah-wajah itu hampir tampak.
Namun tepat sebelum mereka mengambil wujud sepenuhnya — dari suatu tempat, sesuatu menarik. Seolah tangan tak kasat mata mencengkeram pergelangan kaki mereka, wujud-wujud di alun-alun itu perlahan mulai terseret ke satu arah. Ke arah Parigi Rante7Catatan ↗ di muka benteng. Sang nenek melafalkan doa dengan suara lebih keras. Tangannya gemetar dan suaranya pecah.
───
Saat itu dari arah laut, patroli tentara bayaran berjalan menyusuri pantai sambil membawa obor. Nenek itu kembali bersembunyi di balik batu. Doa terputus.
Semua wujud itu mengalir masuk ke arah Parigi Rante.
───
Seorang lelaki muncul di alun-alun yang telah sepi — tinggal senyap belaka.
Seorang Eropa membawa tas hitam. Tanpa obor, namun ia melangkah tanpa ragu dalam kegelapan, seperti seseorang yang tidak pernah tersesat di tempat gelap. Langkahnya senyap — tidak ada suara kaki. Ia melangkah di atas kerikil dan kaki itu tidak membunyikan kerikil. Bukan prajurit. Bukan pedagang. Tidak ada jabatan, tidak ada status yang bisa terbaca dari sosok lelaki itu. Hanya ada bau seseorang yang telah hidup lama — bau perkamen tua, bubuk besi, dan sesuatu yang dibakar — yang mengapung dari tubuhnya.
Lelaki itu berhenti di depan Parigi Rante. Sebuah sumur — sumur berbatu di sisi Benteng Nassau, dan air di dalam sumur itu berpendar merah dalam kegelapan. Hari ini ada yang dilemparkan ke dalam sumur ini — milik para Orang Kaya yang dieksekusi. Lelaki itu tidak menunduk menatap ke dalam sumur. Seperti seseorang yang sudah tahu bahwa sumur itu mengenalinya — ia hanya berdiri.
Ia membuka tas. Pertama yang keluar adalah segulung perkamen. Sebuah dokumen penuh tulisan huruf Eropa, huruf Arab, dan simbol-simbol yang tidak termasuk dalam budaya mana pun. Lelaki itu membentangkan perkamen dan memeriksa kalimat terakhirnya. Bibirnya bergerak — kata-kata tanpa suara. Sebuah pengecekan sebelum ritual dimulai. Ketika ia hendak menggulungnya kembali dan memasukkannya ke tas — angin malam berhembus.
Di malam Banda Neira, ada angin yang berhembus dari arah Gunung Api8. Angin seperti napas gunung berapi. Angin itu berhembus tepat pada saat itu dan merenggut selembar perkamen. Lelaki itu mengulurkan tangan namun terlambat satu langkah. Kertas itu melayang ke udara. Di bawah langit malam yang hitam, ia berpendar putih dan terbang ke arah rimba di belakang Benteng Nassau. Lelaki itu sejenak menatap ke arah sana. Tanpa ekspresi — ekspresi seseorang yang menganggap satu lembar itu tidak terlalu penting.

Lelaki itu membuka tasnya lagi. Kali ini yang keluar adalah paku-paku besi. Yang kecil sebesar jari, yang besar sebesar lengan bawah. Permukaan mereka rapat terukir tulisan Eropa, motif Kejawen9 Jawa, dan simbol-simbol tersendiri. Ada tiga jenisnya — yang membelenggu tuah tanah ini, yang mengikat penderitaan arwah sebagai sumber energi, dan yang berisi kutukan untuk mencegah pelepasan segel.
Lelaki itu berlutut. Ia mendekatkan paku pertama ke bibir sumur. Memejamkan mata dan mulai menggerakkan bibir — masih kata-kata tanpa suara, namun selama kata-kata itu berlanjut, udara berubah. Suara burung di sekitar Parigi Rante berhenti, angin mereda. Ukiran di permukaan paku besi mulai berkilat dalam kegelapan tanpa mendapat cahaya apa pun. Bukan kilatan — melainkan kegelapan yang berkumpul.
───
Lelaki itu mendorong paku masuk ke dalam sumur.
Pada saat itu, ribuan kehendak yang terombang-ambing tanpa arah di alun-alun dan jalan-jalan serentak bereaksi. Empat puluh empat wujud itu yang pertama — mencoba saling menggenggam tangan namun tidak bisa tergenggam, mencoba mengeluarkan suara namun tidak terdengar. Parigi Rante mulai menyedot mereka. Pelan, tak tertolak. Empat puluh empat wujud itu mengalir masuk ke dalam sumur. Kemudian sisa arwah-arwah yang terbantai hari itu pun — yang mati dalam api, yang jatuh di atas air, yang sirna tanpa nama di gang-gang sempit — satu per satu, sepuluh-sepuluh, ratusan demi ratusan mengalir masuk ke Parigi Rante. Ribuan arwah terkurung di dalam satu sumur itu.
Dari dalam sumur terdengar suara air. Bukan suara air biasa. Itu adalah suara wujud-wujud yang terkurung menghantam dinding batu.
Lelaki itu berdiri. Segel pertama telah tertancap. Segel inti — jangkar yang mengurung arwah-arwah itu.

───
Lelaki itu melangkah menuju pantai. Ke tempat ombak datang. Air naik setinggi mata kaki namun ia tidak peduli. Ia mengeluarkan paku-paku yang tersisa di dalam tasnya — kali ini lebih besar dan lebih berat. Paku-paku perbatasan antara laut dan daratan. Jika segel pertama mengurung arwah-arwah itu, paku-paku ini menguncinya dari luar. Jaring tuah tanah ini yang mengalir di seluruh kepulauan — kunci ganda yang memotong tuah yang dibangun berlapis-lapis oleh ribuan tahun Hindu, Buddha, dan kepercayaan leluhur.
Lelaki itu bergerak dengan tenang di dalam air laut setinggi lutut, seperti seseorang yang sedang memancang patok di kebun. Setiap kali ia menancapkan paku, laut berubah — warnanya berubah. Seolah amarah mereka yang mati hari itu meresap ke warna laut. Setelah menancapkan paku terakhir, lelaki itu berdiri diam di sana — memejamkan mata, tanpa menggerakkan bibir, dengan kedua tangan menggenggam tas.
Laut berubah. Tidak ada perubahan yang terlihat, tidak ada suara yang terdengar, namun jelas-jelas sudah lain. Ketika arwah-arwah yang terkurung di Parigi Rante terhubung dengan segel-segel laut — sebagian dari jaring tuah tanah ini yang selama ini menyatukan seluruh kepulauan ini, pada saat inilah, di bawah Banda Neira, perlahan memutus. Daya yang selama ribuan tahun menyatukan pulau-pulau ini mulai surut sedikit demi sedikit, berpusat di Banda.
Lelaki itu melangkah keluar dari laut. Tanpa sekali pun menoleh, ia lenyap ke dalam kegelapan.
Nama lelaki itu adalah Pieter van der Berg. Ia adalah dukun ilmu hitam10 tertinggi VOC.
───
Di tepian rimba di belakang Benteng Nassau, tersembunyi di balik semak belukar, seorang gadis.
Gadis pribumi Banda, kira-kira tujuh belas tahun. Ketika api mulai menjalar, ibunya menyeretnya masuk ke tepian rimba ini — membaringkannya rata di belakang pohon, melarangnya bergerak sama sekali, mencium keningnya, lalu berlari pergi. Gadis itu melihat punggung ibunya berlari, dan setelah itu tidak pernah melihatnya lagi.
Gadis itu menyaksikan semua yang terjadi hari itu. Ia melihat eksekusi. Ia melihat empat puluh empat kepala yang terpenggal ditancapkan ke bambu. Ia melihat nenek yang melafalkan doa lalu bersembunyi kembali, melihat wujud-wujud gelap yang bangkit dari alun-alun tersedot masuk ke Parigi Rante, melihat lelaki itu berlutut di depan sumur, melihatnya melangkah di dalam air laut.
───
Hari itu, entah dari mana — sesuatu yang putih terbawa angin dan jatuh di kaki gadis itu.
Perkamen. Kertas putih tipis penuh tulisan. Ada aksara Belanda, ada aksara yang tidak bisa dikenalinya. Gadis itu tidak bisa membaca. Namun ia tahu ini bukan dokumen biasa — ini adalah sesuatu yang tadi keluar dari dalam tas lelaki itu, dan ini adalah sesuatu yang dibawa angin kepadanya.
Gadis itu memungutnya. Dengan kedua tangan. Tangan yang gemetar keras.
Mata gadis itu mengering. Mata yang air matanya telah habis terkuras — habis terpakai sebelum hari itu pun usai. Gadis itu memeluk dokumen itu ke dadanya dan tidak sanggup bernapas dengan benar hingga lelaki itu benar-benar lenyap dari pandangan. Baru setelah lelaki itu menghilang, gadis itu memandang ke arah laut. Laut sudah berubah. Warnanya berbeda. Bukan laut Banda yang ia kenal seumur hidup, bukan laut tempat ibunya memancing, bukan laut tempat kakeknya mendayung biduk — asing dan mencekam. Laut yang tadinya hidup, kini seperti laut yang di dalamnya ada sesuatu yang terkurung. Gadis itu tidak bisa menjelaskan bahwa sumur dan laut itu saling terhubung, namun ia merasakannya.

───
Malam itu, untuk pertama kalinya terdengar suara dari arah Parigi Rante. Terlalu samar untuk disebut suara, bukan suara ombak, bukan suara angin, bukan suara makhluk yang hidup. Namun ada kehendak di dalamnya — suara milik mereka yang terkurung. Gadis itu mendengarnya sambil merasakan: bahwa ini tidak akan berakhir. Bahwa meski ini tertimbun di sini sekarang, suatu hari nanti ini harus keluar. Dan perkamen yang ia peluk di dadanya ini —.
Gadis itu mempererat pelukannya pada dokumen itu.
Nama gadis itu adalah Ina Kora.11
───
─── Prolog Selesai ───
───
Catatan
7) Parigi Rante
“Parigi” berarti sumur dan “rante” berarti rantai. Parigi Rante kini dikenal sebagai tempat dan monumen ingatan di dekat Benteng Nassau, Banda Neira. Penuturan tentang jenazah yang dibuang ke sumur serta rincian upacara peringatan tidak seragam antar-sumber. Adegan sumur, arwah, dan segel dalam prolog adalah rekaan novel; bukan rekonstruksi sejarah yang seluruh rinciannya telah dibuktikan.
8) Gunung Api
Gunung berapi aktif setinggi sekitar 600 meter di pulau yang berdekatan dengan Banda Neira. Letusan terakhir yang tercatat dalam Global Volcanism Program terjadi pada Mei 1988 dan menyebabkan ribuan penduduk mengungsi. Pengungsian berlangsung bertahap ke Neira, Lontar, serta pulau-pulau lain, termasuk Ambon dan Seram; bukan seluruh pengungsi dipindahkan ke satu tempat. Di antara kepulauan yang tenang, kehadiran gunung berapi yang hidup di samping pulau pemukiman menjadi pengingat abadi bahwa tanah ini mengenal api jauh sebelum VOC tiba.
9) Kejawen
Sistem kepercayaan dan filsafat mistik Jawa, sintesis dari Hindu, Buddha, Islam, dan animisme lokal yang berpadu selama berabad-abad. Kejawen bukan agama formal, melainkan sebuah cara memahami hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata — yang diekspresikan melalui simbol, mantra, dan ragam hias geometris yang khas. Motif pada segel Pieter van der Berg serta penyalahgunaan kekuatan spiritual oleh VOC adalah pengembangan fantasi dalam novel, bukan bukti praktik historis VOC atau deskripsi tunggal seluruh tradisi Kejawen.
10) Dukun ilmu hitam
Dalam konteks novel ini, merujuk pada praktisi sihir gelap yang menggunakan ritual dan perjanjian supranatural di luar batas kepercayaan mana pun untuk tujuan penguasaan. Pieter van der Berg adalah tokoh fiksi, namun kerangka historis yang melatarbelakanginya — VOC sebagai entitas yang mengerahkan segala cara untuk menguasai Nusantara — adalah fakta.
11) Ina Kora
Nama berbasis tradisi Maluku: “Ina” berarti ibu atau perempuan terhormat dalam banyak bahasa di Kepulauan Maluku, mencerminkan status dan keberanian. Tokoh ini adalah karakter fiksi, namun kehadirannya terinspirasi dari kesaksian para penyintas yang dalam berbagai catatan sejarah disebutkan bersembunyi dan menyaksikan kekejaman hari itu dari kejauhan. Ia akan muncul kembali enam puluh dua tahun kemudian, di Bab 32.