CATATAN NUSANTARA / 29
ULAMA · ACEH · ABAD KE-17
Syekh Abdurrauf
as-Singkili

Seorang guru pada zaman sultanah
Abdurrauf lahir di Singkil sekitar 1615 dan wafat pada 1693. Setelah belajar bertahun-tahun di dunia Islam, ia kembali ke Aceh pada abad ke-17. Dalam tradisi Aceh, ia dikenal sebagai ulama, pengajar, dan tokoh yang terkait dengan jabatan keagamaan di lingkungan Kesultanan Aceh pada masa para sultanah.
Itulah alasan ia dipilih untuk cerita ini: pada 1683 ia bukan tokoh dari masa lampau, melainkan seorang ulama yang secara kronologi masih hidup. Adegan pertemuan dengan Hasan dan para penjaga adalah rekaan novel, bukan catatan sejarah.

Ilmu yang melampaui satu tempat
Salah satu warisannya yang paling dikenal ialah Turjuman al-Mustafid, tafsir Al-Qur’an berbahasa Melayu. Karya semacam ini memperlihatkan bagaimana bahasa Melayu menjadi jembatan ilmu bagi banyak pembaca di kepulauan, bukan hanya di Aceh.
Dalam BAB 5-3, gulungan naskah dan kebiasaan Abdurrauf memeriksa baris demi baris mengambil ilham dari tradisi belajar tersebut. Namun isi gulungan tentang segel, Pieter van der Berg, dan hubungan dengan Danau Toba seluruhnya adalah fiksi.

Nama yang masih diingat
Nama Syiah Kuala tetap hidup di Aceh melalui makamnya dan berbagai lembaga yang memakai nama tersebut. Ingatan ini bukan hanya tentang seorang tokoh tunggal, tetapi juga tentang jaringan guru, murid, naskah, dan tempat belajar yang membentuk kehidupan intelektual Aceh.
