Sampul BAB 3 — Perjalanan Laut ke Palembang: lima penjaga di kapal di bawah langit berbintang

BAB3 : PERJALANAN LAUT KE PALEMBANG

BAB3/3

Menuju Palembang

Sebelum matahari terbit, kelima orang itu kembali ke kapal.

“Sudah beres?” tanya pelaut Madura.

“Ya, semua sudah selesai. Ini dari tetua kampung,” kata Surya naik ke kapal sambil membawa beberapa buah kelapa.

“Tadi waktu pasir bergerak di bawah kaki, saya juga kaget. Beda sama waktu berburu di Kalimantan — karena ini tidak kelihatan,” kata Intan.

“Dewi, sejak kapan kamu bisa membaca niskala?” tanya Intan.

“Sejak lahir,” kata Dewi.

“Pasti tidak nyaman ya, awalnya?” tanya Intan.

“Sudah terlalu lama, jadi tidak terasa tidak nyaman,” jawab Dewi.

“Angkat jangkar,” kata pelaut itu tanpa bertanya lebih lanjut.

Kelima orang kembali ke kapal dengan kelapa

Kapal kembali bergerak. Ujung Pulau Bangka menjauh di belakang. Selat Bangka terbuka lebar di depan — Pulau Bangka di timur, daratan Sumatra di barat, berhimpit membentuk selat yang sempit. Di antara dua daratan itu, permukaan laut mulai diterangi cahaya pagi yang perlahan merekah menjadi emas.

Hasan duduk di geladak setelah salat Subuh yang telah ia tunaikan sebelum turun ke pantai, lalu menatap langit timur.

“Tadi suara doa Hasan, saya tidak mengerti artinya — tapi pasirnya berhenti. Kenapa tadi di Bangka doanya beda? Nadanya beda sama yang dipakai di gudang,” tanya Surya sambil membelah kelapa dengan nada penasaran.

“Ayah selalu bilang, tanah itu ingat suara,” kata Hasan sambil menerima kelapa yang disodorkan Surya. “Tadi lihat pasirnya, tiba-tiba teringat. Saya mencoba mengikuti doa yang terakhir kali Ayah ajarkan. Ternyata Pulau Bangka mengenal doa itu. Saya sendiri belum sepenuhnya paham.”

“Kadang lebih banyak yang dipahami dari mencoba dulu, dibanding menunggu sampai mengerti dulu baru mencoba. Empat puluh tahun di Gunung Semeru mengajarkan itu,” kata Surya sambil meneguk kelapanya.

Hasan memutar tasbih. Manik-manik yang berputar di tangannya terasa hangat — tasbih itu selalu hangat, sejak dulu. Seolah sesuatu dari tangan ayahnya masih tersimpan di dalamnya sampai sekarang.

“Bhante,” kata Hasan.

“Ya.”

“Tadi waktu melihat wujud itu berhenti mendengar suara doa saya — rasanya aneh. Tidak tahu apakah itu bereaksi terhadap suara saya, atau suara Ayah.”

“Memangnya kamu pikir keduanya berbeda?” kata Surya berhenti meneguk kelapanya dan menatap Hasan.

“…” Hasan memutar tasbih.

“Saya juga pernah mengalami momen seperti itu waktu berlatih. Tidak tahu apakah ini yang saya lakukan — atau guru saya dari masa kecil yang bekerja melalui saya,” kata Surya.

“Tapi kenapa harus berbeda? Itu sudah kamu warisi — itu semua milikmu, Hasan,” kata Surya.

Hasan lama memutar tasbih.

“Terima kasih, Bhante,” kata Hasan. Kata-katanya sama dengan tadi — tapi getarannya berbeda.


“Tiba di Palembang nanti, apa yang harus pertama dilakukan?” tanya Surya kepada Dewi.

“Baca dulu — di mana apa yang ada di sana,” jawab Dewi.

“Lalu?”

“Temukan, lalu kita keroyok bersama dan cabut.”

“Lalu?”

“Dari Palembang harus bergerak ke utara, ke danau itu,” kata Dewi sambil sedikit heran menatap Surya.

“Sebelum itu, makan Pempek11Catatan ↗ dulu,” kata Surya. “Itu makanan yang wajib dimakan kalau sudah ke Palembang. Terbuat dari daging ikan dicampur pati sagu. Yang paling terkenal itu yang ada telur utuh di dalamnya — namanya Telok Besak. Kalau dibelah, telurnya utuh ada di dalam.”

“Bhante belum pernah ke Palembang, katanya?” tanya Hasan.

“Belum pernah,” kata Surya.

“Tapi dari mana tahu?” tanya Hasan sedikit bingung.

“Di pertapaan Gunung Semeru ada seorang biksu asal Palembang. Dia selalu cerita tentang Pempek. Waktu saya tanya apa itu Pempek, dia jelaskan dua jam penuh. Dari takaran adonan, cara mengukus ikan, sampai kapan tepatnya memasukkan telur ke dalam Telok Besak — dua jam. Makanan yang dijelaskan selama dua jam, wajib dicicipi sendiri — kalau tidak, itu tidak menghargai dua jam penjelasan itu,” kata Surya.

Intan tertawa kecil. Semua melihatnya — kali ini tawa Intan terdengar lebih lepas daripada sebelumnya. Intan sendiri seperti tidak menyadarinya, dan segera menutup mulut. Surya pura-pura tidak melihat dan meminum kelapanya.

Kelima orang di geladak kapal menjelang fajar

Semakin menyusuri Selat Bangka ke utara, laut semakin lebar. Garis pantai timur Sumatra mulai terbentang panjang, dan dari kejauhan mulai terlihat muara Sungai Musi — lebar sekali. Di tempat pertemuan laut dan sungai, air keruh berwarna tanah bercampur dengan air laut yang biru, menarik batas yang nyata. Tercium bau tanah — bau yang dibawa dari jauh di pedalaman Sumatra.

“Sriwijaya dulu menarik bea dari selat ini. Banyak kapal singgah dan berdagang melalui pelabuhan yang berada dalam pengaruhnya. Selama berabad-abad. Kapal Cina, kapal India, kapal Arab — ramai datang ke jaringan pelabuhan Sriwijaya,” kata Surya memandang garis pantai.

“Kenapa begitu?” tanya Intan.

“Kalau punya kuasa, begitulah caranya. Menguasai laut berarti menguasai dunia. Sriwijaya adalah kerajaan di kepulauan ini yang paling paham laut — mereka tidak hanya mengandalkan kapal, tetapi juga menguasai jalur dagang dan pelabuhan,” kata Surya.

“Sekarang VOC yang menjalankan peran itu,” kata Hasan sambil menatap ke arah muara sungai.

“Sriwijaya kenapa bisa runtuh?” tanya Intan.

“Bukan satu sebab. Serangan dari luar, persaingan pelabuhan, dan perubahan kekuasaan melemahkannya. Laut tidak bisa jadi milik satu orang saja. Selalu ada yang datang berikutnya,” kata Surya.

“VOC juga akan runtuh suatu hari?” tanya Intan.

“VOC juga. Kapannya — itu yang tidak tahu,” kata Surya.

Dewi menatap ke arah Sumatra sambil membaca niskala. Berbeda dari Jawa — lebih purba, lebih tua rasanya. Jejak berabad-abad sejarah Sriwijaya sudah meresap ke dalam tanah, dan di bawahnya ada sesuatu yang tertahan.

“Sudah terbaca?” tanya Arya dari sebelahnya.

“Ya. Terasa lebih kuat dari yang ada di Batavia. Terutama di bawah danau besar di utara Sumatra — ada sesuatu yang sangat tua tertancap di sana. Rasanya berbeda, akarnya lebih dalam,” kata Dewi.

Arya menyentuh Nagaraja dengan tangan. Getarannya lemah — tapi bergetar ke arah Sumatra.

“Getarannya beda dari waktu di Pulau Bangka?” Dewi menatap Arya.

“Sedikit lebih kuat,” kata Arya.

Arya menyentuh Nagaraja kembali. Asing rasanya — menyadari bahwa benda ini sedang membaca sesuatu. Tapi kehangatan yang dirasakan telapak tangannya waktu Nagaraja bersinar di hamparan pasir tadi, masih terasa seolah belum hilang.

“Harus bagaimana?” tanya Arya singkat.

“Harus dilihat dulu segelnya. Tapi sepertinya akan jauh lebih berat dari Batavia,” kata Dewi memandang wajah Arya yang kokoh dan tegak.

“Takut?” tanya Arya — suaranya singkat dan keras, tapi sungguh-sungguh.

“Takut. Tapi karena perginya bersama, jadi tidak apa-apa,” kata Dewi jujur.

“Kita pergi bersama,” kata Arya. Lalu kembali menatap ke arah Sumatra.

Kapal menuju muara Sungai Musi

Ombak menggoyang kapal, angin mendorong layar. Kapal terus maju.

Siluet Sumatra semakin jelas.

Kelima orang itu — menuju ke sana.


─── Bab 3 Selesai ───


CATATAN

11) Pempek

Pempek merupakan hidangan khas Palembang yang pada masa kini umumnya dibuat dari ikan dan tapioka serta disajikan dengan cuko. Asal-usul nama dan resepnya memiliki beberapa versi. Penyebutan pempek, Telok Besak, dan olahan ikan berpati sagu dalam adegan tahun 1683 adalah adaptasi fiksi; bukan bukti bahwa nama dan resep modern itu sudah digunakan pada zaman Sriwijaya atau tahun 1683.

Baca “Pempek Palembang” di Catatan Nusantara →

↩ Kembali ke teks